ISLAM FUNDAMENTAL LIBERAL VS ISLAM FUNDAMENTAL LITERAL

ISLAM FUNDAMENTAL LIBERAL VS ISLAM FUNDAMENTAL LITERAL

Dr. Haidar Bagir

Satu lagi istilah muncul sebagai julukan para pemikir dan peminat kajian Islam kontemporer. Pak Haidar Bagir memberikan istilah Islam fundamental liberal (Isfundlib) untuk orang-orang yang mengaku sebagai kelompok liberal. Mereka tidak saja berpikiran liberal seperti anggapan mereka. Tapi mereka juga berpandangan bahwa pendapat mereka saja yang benar. Ini bias dilihat dari sikap dan tingkah laku mereka yang selalu “menyerang” kelompok Islam yang kerap disebut sebagai kelompok Islam fundamental atau kelompok literal. Bagi Pak Haidar, pandangan mereka yang kaku inilah yang menjadikan mereka masuk pada golongan kelompok Islam fundamental, kendati ke’fundamenta’an mereka berada pada satu sisi yang berbeda, yaitu liberal.

Dari tesis tersebut, Pak Haidar menggariskan bahwa perang pemikiran yang ada saat ini bukan antara kelompok liberal melawan kelompok Islam fundamental. Tapi karena kedua kelompok sama-sama memegang pendapat mereka sebagai satu-satunya pendapat yang paling benar dan yang lain adalah salah, maka keduanya termasuk dalam kelompok fundamental. Di satu sisi, mereka disebut sebagai kelompok fundamental liberal karena ke’liberal’an mereka yang fundamental. Sedang di sisi lain, ada kelompok fundamental literal.

Tentu pendapat ini tidak begitu saja diterima oleh kelompok yang bersangkutan. Pada suatu diskusi tentang filsafat Tuhan di STF Driyarkara yang menghadirkan Pak Haidar Bagir sebagai pembahas, Guntur Romli yang kebetulan hadir sebagai salahs atu peserta diskusi mengajukan keberatan terhadap tesis yang dikemukakan oleh Pak Haidar. Guntur tetap berpegangan bahwa mereka –JIL- tidak bisa disebut sebagai kelompok fundamental. Karena pada kenyataannya, mereka tetap mengakui kebenaran kelompok lain. Itu argument yang diberikan oleh Guntur, salah seorang tokoh Jaringan Islam Liberal yang bermarkas di Utan Kayu

Tapi pendapat dan argument ini dibantah kembali oleh Pak Haidar. Menurutnya, argument yang disampaikan oleh Guntur hanya merupakan upaya pembelaan diri saja, kerena pada kenyataannya, dari beberapa tokoh JIL mengaggap pendapat mereka sendiri saja yang benar sedang yang lains alah, dan kalau bisa dikalahkan.

Namun, apa yang diasumsikan oleh Pak Haidar sendiri juga bukan tanpa masalah. Istilah-istilah yang belakangan muncul sebagai label di belakang kata “Islam” masih perlu ditinjau lebih lanjut. Sejauh ini bisa ditelusuri bahwa istilah-istilah itu dimunculkan untuk membagi-bagi umat Islam ke dalam bagian-bagian yang banyak. Bila ditelisik, istilah-istilah tersebut sama sekali tidak mempunyai akar dalam tradisi Islam. Istilah-istilah seperti liberal, fundamental, literal, bahkan sampai istilah Islam protestan itu muncul dari sintesis dari para peneliti yang meneliti Islam dengan latar belakang dari masing-masing peneliti. Dan karena penelitian mereka atas Islam itu sebagai fenomena social, tidak seharusnya hasil-hasil penelitian itu disakralkan, diagungkan, apalagi dianggap sebagai suatu yang baku.

Islam adalah satu. Keberadaan umat Islam yang banyak dan berbeda tidak seharusnya menjadikannya saling bermusuhan atau bahkan saling menjatuhkan.

Saya teringat pada pesan Prof. Osman Bakar pada satu kesempatan diskusi yang diselenggarakan ICAS beberapa waktu lalu pada orang-orang yang mempermasalahkan banyaknya Islam. Beliau mengatakan bahwa bahwa umat Islam dan Islam itu bagaikan satu pohon yang besar, dimana ia bertumpu pada satu akar yang kuat dan juga sekaligus mempunyai dahan, ranting, serta daun yang banyak. Dalam mencari dan menggali nilai keislaman, kenapa tidak kita gali akar yang kuat tersebut? Kenapa tidak di cari umbi-umbinya? Kenapa hanya dilihat dari dahan dan ranting yang justeru dipermasalahkan?

Tentunya, permasalahan ini hanya akan membuat kita sibuk untuk selalu mencari perbedaan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Hasil yang akan nampak dari tubuh umat Islam hanya masalah perbedaan-perbedaanny saja. Adapun segala kesatuan dan persamaannya dengan sendirinya akan tertutupi.

Yang dipermsalahkan adalah golongan yang menolak poligami dan yang menerima, yang diributkan adalah masalah lebarnya jilbab, yang disebut dengan muslim sejati adalah hanya yang berjenggot atau tidak. Kalau ini diteruskan jenggot yang sah itu berapa senti dan seterusnya.

Kita lupa ada hal-hal lain yang lebih mendasar yang perlu diperhatikan. Tantangan globalisasi menjadi pekerjaan rumah yang lebih mendesak bagi umat Islam. Sudah saatnya umat Islam bersatu di bawah satu bendera tauhid, bahu membahu dengan potensi dan segala perbedaannya untuk mewujudkan peradaban yang bermartabat.

Adanya perbedaan pandangan seharusnya dihadapi dengan bijak, dialog-dialog pun dilaksanakan dengan rendah hati, legowo, dan yang paling penting lagi adalah dalam dialog itu ada satu kemauan dan niat dari masing-masing kelompok, yaitu niat menuju kebenaran dan jujur pada hati nurani.

Satu catatan penting untuk sebagian pemikir Muslim ini. Keadilan dalam mengkaji yang agaknya agak dilupakan. Kalau kita amati, ada kecenderungan tidak adil pada para pemikir tersebut dan perlu dipertanyakan motivasi di balik semua aktivitas mereka. Sehingga kita akan dengan mudah menemui mereka begitu kritis terhadap Islam, namun begitu tunduk kepada nilai-nilai Barat. Kalau memang mereka betul-betul ilmuwan dan cendekiawan sejati yang selalu menghendaki kebenaran, maka keadilan dan keseimbangan harus dipegang sebagai prinsip utama, apalagi bila masih mengaku sebagais eorang Muslim. Maka di manakah kita berpijak?

Tags: seri pemikiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s