GUNUNG ES LIA AMINUDDIN

GUNUNG ES LIA AMINUDDIN

Haidar Bagir[*]

Kembalinya yang suprarasional dan supranatural di abad posmo ini barangkali  adalah salah satu di antara – meminjam istilah John Naisbitt – “paradoks global”. Jika mengikuti ramalan para filosof, sosiolog, atau antropolog yang menulis tentang agama, seperti Marx, Nietsche,Comte, Durkheim, Weber, Kahn, atau Sorokin, dan banyak lagi – maka seharusnya yang supranatural sudah lama pupus dari bumi manusia ini. Tapi, bukan hanya agama dan spiritualitas — apakah ia disebut mistisime, aliran New Age, atau Frontier Aquarian —  ribuan organisasi kultus (cultic organizations) pun menjamur di seluruh  bagian dunia. Kalau saya tak salah ingat, pada tahun 1974 saja Alvin Toffler telah mencatat bermunculannya  lebih dari 4000-an paguyuban  seperti ini di Amerika saja. Apa pasal?

Jawabannya bisa beragam. Yang paling bersimpati  terhadap agama dan spiritualitas akan merujuk kepada apa yang diyakini sebagai fitrah spiritual manusia. Digebah-gebah seperti apa pun, diiming-iming dengan  berbagai  kenikmatan-duniawi selezat apa pun, ia tetap bercokol juga. Malah lebih kokoh  lagi. William James – psikolog Amerika awal abad 20 yang disebut-sebut sebagai penganut “empirisisme- radikal” – adalah di antara yang mau bersusah-payah memahami dan mem-verifikasi” pengalaman r eligius demi membuktikan sifat fitri spiritualitas manusia ini. Juga Jung, Maslow, Alport. Yang lain mencari jawab pada “tirani” individualisme modern, impersonalitas teknologi maju, dan ketergesaan  hidup yang diakibatkannya – hal-hal yang, pada gilirannya, mendorong orang untuk mencari kehangatan d alam pengalaman personal keagamaan. Ada juga yang mendiagnosanya  sebagai semacam tetirah penuh nostalgia ke masa lampau yang, konon, memang menyusun bahan dasar psikologi manusia. Sedemikian, sehingga, bahkan sosiolog niragama sekelas Peter Berger akhirnya “dipaksa” menerbitkan The Desecularization of the World untuk merekam dan menjelaskan  fenomena paradoksikal ini.

Kenyataannya, sudah lebih dari seabad lalu di negeri-negeri Barat-modern  berkembang apa yang disebut sebagai Tradisionalisme. Istilah Tradisi yang menyusun kata ini merujuk kepada konsep yang menyatakan bahwa  semua agama otentik berasal dari satu Tradisi Primordial. Maka, Tradisionalisme  adalah sebuah faham yang berupaya untuk  mengungkap  Prinsip-prinsip pemersatu yang mendasari berbagai  tradisi (agama) dunia. Tradisionalisme modern didirikan oleh  filosof  Prancis Rene Guenon (1886-1951). Di antara para tradisionalis lain termasuk  para pemikir terkemuka  seperti Julius Evola, Frithjof Schuon, Ananda K. Coomaraswamy, Lord Northbourne, Titus Burkhardt, Martin Lings, Seyyed Hossain Nasr, Whitall Perry,  Robin Waterfield, Arthur Versluis, R.A. Schwaller deLubicz, dan William Stoddart.  Mircea Eliade, Huston Smith, Jacob Needleman, Alain Danielou, and Joseph Campbell dapat pula disebut  sebagai tokoh-tokoh yang bersimpati kepada faham ini.

Rene Guenon adalah seorang filosof Prancis yang sempat bekerja pada Institut  Katolik di negeri itu, kemudian masuk Islam dan menggunakan nama  Syaikh  Abdul Wahid Yahya, dan belakangan pindah ke Kairo pada tahun 1930 hingga  meninggal di sana 20 tahun kemudian. Faham Tradisionalisme itu  sendiri  berasal  dari Perenialisme, sebuah aliran keagamaan dan filosofis yang didirikan di Florence pada masa Renesans.Memang, perenialisme Renesans meyakini bahwa seluruh agama dunia adalah ekspresi-ekspresi dari  satu  agama perenial asli, yang telah hilang. Agama perenial inilah yang dirujuk  sebagai tradisi dalam Tradisionalisme itu.

Problem terbesar dari Tradisionalisme ini, sebagaimana diungkapkan oleh para kritikusnya, adalah absennya sikap kritis terhadap agama-agama, berlawanan  dengan kritik-kerasnya terhadap modernisme, digantikan dengan kelonggaran  nyaris tanpa batas terhadap data agama yang mana pun. Sikap ini membawa  sedikitnya tiga konsekuensi- berkaitan yang tidak diharapkan. Pertama, kecenderungan sinkretik Kedua, adanya pembacaan yang bersifat selektif  terhadap  agama-agama demi mendapatkan unsur-unsur yang bisa dilihat  sebagai sama di dalam semua agama. Dan, ketiga, kecenderungan untuk  menerima unsur-unsur kultus primitif yang menandai agama-agama  atau kepercayaan- kepercayaan kuno, termasuk di dalamnya messianisme. Di luar itu, sejalan dengan kritik-kerasnya terhadap modernisme, agama perenial  berpotensi mempromosikan irasionalitas dan, sebagai gantinya, memujikan  perolehan kebenaran lewat semacam ilham, wangsit, atau wahyu yang tak bisa diverifikasi secara publik.

Konon, salah satu manifestasi cultic tradisionalisme ini  muncul dalam  tarikat yang dikembangkan oleh salah seorang murid Guenon, yakni  Fritjof Schuon. Schuon awalnya adalah seorang disainer-tekstil dan visioner keturunan Franco-Swiss yang belakangan tertarik pada perenialisme. Mulai dengan bergabung dalam Tarikat Alawiyyah yang didirikan  oleh Syaikh ’Alawi di Marokko, Fritjoff Schuon mendirikan  sebuah Tarekat  sendiri yang bernama Maryamiyyah di Amerika serikat, setelah kepindahannya  ke negeri ini. Meski dibantah oleh para pengikut dan simpatisannya, dikabarkan bahwa tarikat yang berporos pada  kepribadian Maryam  (ibu Nabi ’Isa) ini memperkenalkan berbagai ritus yang ”aneh-aneh” termasuk dansa suku Indian, dan juga upacara yang mengharuskan para pesertanya  bertelanjang badan. Akibat tuduhan ini, Schuon sempat digelandang polisi AS.

Sayangnya, kalaupun berita mengenai Schuon ini ternyata tidak benar, tersedia cukup contoh manifestasi perenialisme yang di dalamnya unsur-unsur kultus primitif ini tampil dominan. Kelompok ”Kerajaan Surga” Lia Aminuddin, tampaknya mencocoki penggambaran tentang gerakan  agama perenial modern ini. Lepas dari apakah Lia dan kelompoknya  mengikuti perkembangan gerakan internasional ini, kenyataannya ia menyebut diri dan pengikutnya sebagai penganut agama perenial  semacam ini (Lihat Danarto, ”Sekadar Catatan tentang Lia Aminuddin”, TEMPO, …..). Di dalamnya ada kultus terhadap pemimpin yang dipercayai menerima  wahyu dan diselimuti aura messianisme. Irrasionalitas, betapa pun atasnya  diupayakan penjelasan-penjelas an apologetik, juga amat dominan. Hal ini antara lain tampil dalam bentuk  penyandaran bukti kebenaran kepercayaan  kelompok ini kepada keajaiban-keajaiban atau mu’jizat-mu’jizat yang diklaim  telah diproduksi oleh Lia Aminuddin. Yang membedakan kelompok Lia dengan perenialisme a la Guenon atau Schuon adalah absennya wawasan dan elaborasi filosofis yang amat sophisticated.dalam kelompok yang disebut  belakangan dalam kelompok yang dsebut terdahulu.

Bahkan kritikus yang amat keras terhadap perenialisme mazhab Guenon ini, seperti Legenhausen, (Why I am not a Traditionalist) tak urung memuji  kecanggihan kritik-kritik mereka terhadap modernisme serta  keluasan  wawasan mereka mengenai agama-agama dan berbagai aliran filsafat yang terkait dengannya.

Alhasil, kekuatan apakah yang sesungguhnya bekerja atas Lia Aminuddin? Yang paling mudah adalah mendiagnosa gejala ini sebagai sekadar kesurupan (possessed),  produk delusi Freudian, atau penyimpangan- penyimpangan  kognitif lainnya. Meski kemungkinan seperti ini jelas tak bisa segera disisikan, repotnya hujatan seperti ini selalu bisa ditudingkan  kepada semua  keyakinan  keagamaan. Mengingat, kalau pun tidak irasional, unsur-unsur esensial  dalam keyakinan keagamaan bersifat suprarasional dan mengandung juga hal-hal yang bersifat supranatural. Kenyataannya, memang, semua keyakinan  keagamaan merupakan produk pengalaman religius yang subyektif. Padahal, (orang cenderung mengira bahwa) tak ada jalan untuk  memberlakukan  verifikasi publik atasnya. Bisa juga gejala ini dinisbahkan  kepada kecupatan  wadah spiritual untuk menerima pengalaman-pengalam an religius yang meng-”kudeta”. Sehingga, produknya adalah semburan ungkapan-ungkapan yang tak terkontrol (Meski mungkin akan banyak orang berkeberatan terhadap  penjajaran  Lia  dengan para tokoh Sufi —  yang biasa disebut sebagai Sufi ”mabuk” (sakran) — ungkapan-ungkapan  seperti ini dalam terminologi tasawuf  disebut s ebagai syathahat atau syath-hiyat. Kenyataannya, pengalaman religius bisa, dan telah, terjadi pada banyak  orang ”biasa”. Menurut penelitian, pemicunya bisa macam-macam : mulai pengaruh apresiasi karya seni, pemandangan dan keheningan alam, pelaksanaan ritual-ritual agama, hingga sekadar depresi).

Lalu, apakah menangkap Lia Aminuddin merupakan pemecahan yang bijaksana? Mengadilinya lebih problematik lagi – kecuali jika bisa dibuktikan adanya  gangguan konkret yang ditimbulkannya, dan bukan sekadar ketaksepakatan  orang banyak terhadap keyakinan  kelompok ini (bagaimana bisa mengadili  keyakinan subyektif?) Yang pasti, tindakan seperti ini hanyalah menyentuh  puncak dari gunung es irasionalisme modern yang cenderung makin menggejala. Di belakang Lia Aminuddin, masih banyak, dan mungkin  bertambah banyak, kelompok-kelompok kultus semacam ini. Kiranya  hanyalah penanaman kemampuan berpikir rasional dan pengembangan  penafsiran keagamaan yang mempunyai sifat samalah yang dapat mengurus dan mengatasi gejala ini. Dalam kaitan ini, berbagai acara ”mistik” dan ”takhyul-keagamaan” , serta praktik-praktik penyembuhan sejenis yang dikait-kaitkan dengan agama sama sekali tak membantu.

Namun, yang juga harus diingat, hendaknya kebutuhan akan rasionalitas ini tak mendorong kita untuk mencari pemecahan yang mudah dan potong kompas  sedemikian, sehingga ia melucuti agama dari sifat-asasinya sebagai sumber  dari kehangatan dan ketenteraman spiritual. Hal seperti ini pernah dicoba  dilakukan, dan gagal, oleh proyek rasionalisme abad pencerahan atau pun modernisme religius yang puritanistik Kedua-duanya harus hadir bersama-sama dalam manifestasi agama yang sejalan dengan kebutuhan manusia dan peradabannya di masa depan : rasionalitas dan tawaran kehangatan spiritual. Dan bahan-bahannya bukannya sama sekali tak ada. Sekadar contoh, dalam Islam orang bisa belajar banyak dari tasawuf, khususnya yang filosofis (’irfan) atau pun filsafat iluministik (israqiyah atau hikmah). Dalam aliran-aliran mistiko-filosofis seperti ini, produk pengalaman religius didedahkan  kepada prinsip verifikasi logis (koherensi).

Inilah sebuah pemecahan yang tampaknya tak memuaskan kaum ”liberal” yang menghendaki agama yang sepenuhnya rasional dan bebas dari misteri-misteri suprarasional dan supranatural. Apa boleh buat, tampaknya manusia – entah karena fitrahnya, atau sekadar kebutuhan-survival-nya – memang memerlukan lebih dari sekadar agama rasional yang kering, yang tak mampu menghangatkan jiwa. Dan jika keperluan ini tak terpuasi maka, persis seperti disinyalir Carl G. Jung, dikhawatirkan yang akan  menyeruak dari kehidupan manusia adalah kekosongan makna, atau justru keterpurukan ke dalam irasionalitas religius.


[*] Penulis adalah Doktor di bidang Filsafat, salah satu pendiri dan dosen ICAS Jakarta, Pendiri Pusat Kajian Tasawuf Positif IIMaN, serta penulis Buku Saku Tasawuf dan Buku Saku Filsafat Islam.

2 responses to “GUNUNG ES LIA AMINUDDIN

  1. luar biasa..sangat mencerahkan..rasionalis kering menghadirkan kehampaaan,, keangkuhan namun jebakan irasionalitas akan menghantarkan kepada fantasi liar yg tak terkendali,,keduannya menghatankan kpd gaya hidup yg tidak realistik

  2. mohon diuraikan lebih lanjut jalan tengah yg hangat tapi aktiv tadi, khusunya metode & tehnik yg aplikativ bagi kami….adakah komunitas atau wadah paguyubanu bagi peminat irfan praktis khususnya.???.tks…semoga allah panjangkan Usia pak Haidar, dan terjaga kesehatannya,..agar terus dapat mencerahi bumi pertiwi ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s