Dari mana berawalnya tasawuf ?

Dari mana berawalnya tasawuf ?

Haidar Bagir
02:30pm 04 Julai 2005

Saya harus mengakui bahwa Alquran  mengandung benih-benih nyata tentang  mistisisme yang mampu untuk berkembang  sendiri secara autonomi tanpa perlu dibantu oleh pengaruh-pengaruh asing” (Louis Massignon).

Kutipan di atas adalah dari seorang orientalis yang belakangan dikenali kerana  telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk studi tasawuf. Ungkapan ini  penting — selain untuk mengungkapkan tujuan yang hendak dicapai  oleh bahagian ini — kerana para orientalis adalah di antara kelompok yang menyatakan bahawa tasawuf pada dasarnya adalah pinjaman dari agama Kristian.

Pada umumnya mereka berhujah bahawa Islam mengajarkan suatu  monoteisme  ringkas yang cocok dengan fikiran sederhana kaum Arab badwi. Kenyataannya, seperti juga diungkapkan oleh Nicholson –lagi-lagi seorang orientalis ahli Tasawuf:

“Kendati Muhammad sistem dogma atau pun (semacam) teologi mistikal, Alquran jelas sekali mengandung bahan-bahan bagi keduanya. (Di dalam  Alquran) Allah berfirman: ‘Allah cahaya langit dan bumi’ (24:35); Dialah Dzat yang Mahaawal dan Mahaakhir (57:3); Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu selain Dia bersifat sementara dan fana (28:88); Aku tiupkan ruh-Ku ke dalam (diri manusia) (15:29); Kami ciptakan jin dan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan jiwanya, sebab kami lebih dekat  kepadanya  ketimbang urat-lehernya sendiri (50:16);

Ke mana pun kamu berpaling di situlah wajah Allah (2: 115); Barang siapa  tidak diberi petunjuk oleh Allah maka dia tak beroleh cahaya barang sedikit pun (24: 40). Jelaslah bahawa benih-benih tasawuf tersemai di sini. Dan bagi kaum  sufi awal, Alquran bukanlah sekadar kalam Allah, melainkan juga  sarana  mendekatkan diri kepadanya. Dengan merenungkan ayat-ayat Alquran  pada umumnya dan ayat-ayat misterius tentang Mi’raj Nabi (17:1; 53:1-18) pada khususnya, kaum sufi berupaya keras untuk mendapatkan  pengalaman spiritual Nabi tersebut.”

Ajaran tentang kesatuan spiritual yang boleh dicapai dengan  suatu  perjalanan spiritual (memang) tak ada dalam ayat apa pun di dalam Alquran. Tetapi secara jelas, hal itu diungkapkan dalam sebuah Hadis Qudsi — yang (oleh sekelompok orang yang tidak sejalan dengan pandangan tasawuf) diragukan kesahihannya:

”Seorang hamba terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan  melakukan ibadah nawafil hingga ketika Aku mencintainya, Aku menjadi  pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengan itu ia melihat, lidah yang dengannya ia berbicara, dan tangan yang dengannya ia memegang.”

Bahkan Ibn Khaldun, yang tidak pernah dikenal simpatinya terhadap masalah-masalah seperti ini, menyatakan bahawa pada awalnya, spiritualiti Islam bersifat terlalu umum untuk diberi nama, akan tetapi “ketika segalanya  tentang dunia tersebar luas dan sebahagian besar orang (kaum Muslim) tenggelam ke bawah permukaan mistikal, maka mistisisme Islam perlu diberi suatu nama yang khusus.”

Selanjutnya para pendukung tasawuf juga menyoroti  nilai penting  keberadaan Nabi SAW. Dalam tahannuts (pertapaan) ketika Jibril  datang kepadanya pertama kali untuk membawakan wahyu Allah sebagai  indikasi ajaran khalwat sebagai salah satu aspek penting tasawuf. Hal ini kiranya  diperkuat pula oleh ayat Alquran yang menunjukkan bukan hanya  tekanan amat besar yang terkandung dalam ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi, melainkan juga kekuatan spiritual Nabi ketika menerimanya:

“Kalau saja kami turunkan Alquran ini ke atas gunung, kau akan  melihatnya  merendah, pecah berantakan kerana takutnya kepada Allah.” Persis seperti kejadiannya dengan Nabi Musa ketika — atas permintaan Musa yang berkehendak melihat Allah — Allah mengungkapkan diri (tidak secara langsung, melainkan) melalui sebuah gunung dan berakhir dengan meledak berkeping-kepingnya gunung itu dan pengsannya Musa.

Jika kita lanjutkan pengkajian kita atas ayat-ayat yang paling awal ini kita  akan mendapati bahawa, meski sudah begitu agung kekuatan spiritual Nabi (“Sesungguhnya,” kata Alquran, “engkau –Muhammad– memiliki watak yang agung”), sirahnya menunjukkan betapa kekuatan ayat-ayat Allah itu telah menimpakan beban yang amat berat atasnya. Di kisahkan bahwa Nabi meminta kepada Khadijah untuk menumpukkan  beberapa selimut sekaligus untuk menutupi tubuhnya yang menggigil hebat.

Belakangan, nilai penting peristiwa ini dipertegaskan dengan  turunnya  wahyu lanjutan: “Wahai yang berselubung selimut, berjagalah  dalam  sebahagian besar malammu kecuali sedikit, atau setengah  dari (malam), atau sebagian darinya atau tambahkan atasnya dan bacalah Alquran  dengan bacaan yang benar.”

Kenyataannya, Alquran secara spesifik menunjukkan adanya sekelompok orang dari kaum Muslimin yang — oleh para pendukung tasawuf — menampilkan  potret para sufi yang sesungguhnya seupama firman Allah swt: “Sesungguhnya  Rabbmu mengetahui engkau berjaga selama dua per tiga malam, atau setengah  dari itu. Engkau dan sekelompok orang yang bersamamu.”

Selanjutnya lanjutan ayat itu mengajarkan: “Dan sebutkan dalam  dzikir nama Tuhanmu serta beribadahlah kamu kepada-Nya dengan ibadah yang sebenar-benarnya.” Akhirnya rangkaian ayat-ayat ini berakhir dengan: “Sesungguhnya ini adalah peringatan, maka ada jalan kepada  Rabb  bagi siapa yang mahu.” Tasawuf, menurut para pendukungnya, tak lain dan tak bukan adalah jalan itu. Dan mengenai jalan inilah, di tempat lain Allah berfirman: “Dan barang siapa yang berjihad (bersungguh-sungguh) dalam (mencari) Kami, maka pasti akan Kami tunjuki jalan-jalan Kami.”

Selain dalam berbagai ayat Alquran, yang sebahagiannya telah dikutip di atas, kaum sufi merasa mendapatkan kekuatan atas faham  mereka dari berbagai  Hadis Qudsi. Selain yang dikutip oleh Nicholson di atas — dan hampir selalu  dikutip dalam buku-buku sufi — di kalangan mereka ini amat popular Hadis berikut ini: “Langit dan bumi tak dapat menampung-Ku. Hanya hati seorang Mukmin yang cukup luas untuk menampungku.”

Hati yang cukup luas untuk menampung Allah, inilah hati yang telah  dibersihkan dari berbagai kotoran akibat kecintaan kepada dunia, akibat ketaklukan kepada nafsu yang terus mendorong-dorong  untuk berbuat maksiat (al-nafs al-‘ammarah bi al-su’). Kerana, setiap  seorang Mukmin berbuat maksiat seperti ingat Nabi, maka akan  muncullah sebuah noktah hitam yang mengotorinya. Makin banyak ia berbuat maksiat, makin banyak noktah hitam yang menutupi hatinya. Inilah tasawuf, sebagaimana diajarkan oleh Allah dan rasulnya sendiri.

Akhirnya, saya akan mengakhiri tulisan ringkas ini dengan sebuah catatan. Segala argumentasi bagi para pendukung tasawuf ini hanyalah semata-mata untuk memaparkan apa-apa yang mereka fahami sebagai ajaran-ajaran Islam kepada sebuah faham semacam tasawuf itu. Bukannya  bermaksud untuk membenarkan semua pandangan mereka. Kerana, persis seperti dalam disiplin-disiplin keagamaan lainnya (fiqih, tafsir dan sebagainya) para penganut atau bahkan ahlinya boleh  dibenarkan  atau boleh  salah di dalam memahami ajaran-ajaran Islam sepanjang disiplin yang digelutinya.

Kalau argumentasi para pendukung tasawuf ini boleh dibenarkan, ia hanya  bererti bahawa (tak seperti dinyatakan para penentangnya) memang ada benih-benih bagi tasawuf di dalam Alquran dan Hadis. Wa Allah A’lam bi al- Shawab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s