MERAJUT PERDAMAIAN LEWAT SUFISME

Opini dimuat di koran Solopos,
Edisi : Jum’at, 02 Januari 2009 , Hal.4
Lihat juga di http://muhammad-yasin.blogspot.com

MERAJUT PERDAMAIAN LEWAT SUFISME

Oleh: Moh Yasin

Perilaku keberagamaan sebagian masyarakat muslim modern cenderung
terjebak pada perilaku yang bersifat sesaat dan instan.

Ada yang berkecenderungan memaksakan keyakinan atau paham tertentu
untuk meletakkan bahwa doktrin dan ajaran yang diyakininya adalah
satu-satunya yang bisa dijadikan landasan untuk menyelesaikan segala
persoalan kehidupan.

Dan hasilnya, alih-alih menyuarakan ajaran-ajaran Islam, yang ada
malah pemaksaan keyakinan. Tak jarang upaya pemaksaan paham itu
dilakukan dengan emosi dan kekerasan dengan membawa semangat jihad,
sehingga memunculkan penyakit-penyakit fobia (ketakutan obsesif) di
masyarakat.


Disorientasi dalam menjalankan kehidupan beragama mungkin menjadi kata
yang tepat untuk menggambarkan perilaku keberagamaan masyarakat modern yang demikian. Sebab, perilaku yang cenderung memaksakan keyakinan dan pahamnya terhadap orang lain, bahkan dengan kekerasan, adalah pemasungan terhadap esensi ajaran agama.

Tentu saja hal ini sangat bertentangan dengan pesan-pesan agama. Sejak
kelahirannya sebagai agama Ibrahimi, baik Kristen, Yahudi dan Islam,
mengusung hal yang sama yaitu pembebasan dan perdamaian untuk umatnya.

Dalam Islam misalnya, tak sejengkal hadis dan sepenggal ayat Alquran
pun yang mengajarkan pada kejahatan dan keburukan.

Di zaman kehidupan di mana pertikaian sering terjadi, kebencian dan
kemurkaan dipelihara, kekerasan dan penindasan ditanamkan, serta
kejujuran dan kebenaran selalu diabaikan, kata perdamaian menjadi
sesuatu yang sangat didambakan oleh setiap manusia. Apalagi berkembang
dunia disesaki dengan tindak kekerasan, intoleransi, hingga lunturnya
rasa kesadaran hidup bersama karena sikap egoisme dan individualisme.

Oleh karenanya, keberhasilan perdamaian dan ketenteraman kehidupan
dunia sangat ditentukan oleh para pelaku agama, sejauh mana perilaku
keberagamaan mereka mewakili pesan-pesan agama yang hakiki, bukan atas dasar tafsir-tafsir agama yang bersifat parsial. Selain juga
penyelesaian berbagai persoalan tanpa kekerasan harus dilakukan secara
konsisten oleh para penggiat perdamaian.

Ajaran sufisme mungkin bisa menjadi daya tawar yang menarik di tengah
kehidupan masyarakat modern saat ini. Sufisme Islam mengusung satu
kata kunci yaitu cinta, cinta kepada Tuhan dan cinta kepada sesama
manusia. Melalui ruh cinta dan keindahan, sufisme senantiasa
menjunjung tinggi nilai-nilai universal dan sangat menghargai
pruralitas. Oleh karenanya, melalui kampanye cinta, nilai-nilai
sufisme Islam sangat tepat dijadikan sebagai pendorong tercipta dan
terbentuknya perdamaian dunia.

Sufisme sebenarnya bukanlah doktrin baru setelah Alquran dan hadis.
Sufisme adalah ajaran yang berupaya mencari hakikat kebenaran yang
sejati lewat jalan sendiri. Ajaran sufisme senantiasa menempatkan
setiap peristiwa dalam kerangka takdir Allah dan menempatkan setiap
usaha yang dilakukan dalam kerangka untuk mencari rida Allah.

Dialog dengan Tuhan

Puncak dari ajaran sufi adalah upaya mendekatkan diri pada Allah,
intisarinya adalah munculnya kesadaran akan adanya hubungan atau
komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhannya. Untuk sampai
ke tahap puncak kesatuan dengan yang haq (benar), sufisme mengajarkan
tahapan-tahapan atau tingkatan-tingkatan jalan menuju ke kebenaran hakiki.

Tingkatan tersebut yaitu takhalli, upaya untuk menjauhkan diri dari
berbuat buruk dan kejahatan atau berbuat dosa, kemudian tahalli, upaya
menghiasi kehidupan dengan perbuatan baik, terakhir tajalli, puncak
dari kesucian hati dan jiwa sehingga menyatu dengan sifat-sifat Tuhan
dalam bertindak dan berbuat dalam kehidupan sesama.

Upaya membersihkan hati adalah kata kunci untuk menanamkan cinta dan
perdamaian bagi sufisme Islam. Toleransi, rasa saling menghargai,
saling menghormati, tolong menolong dan bersikap inklusif atas sesama
paham dan ajaran hanya bisa direngkuh dengan semangat cinta, yaitu
cinta kepada Tuhan yang kemudian termanifestasi pada perilaku yang
mengarah pada cinta akan kedamaian antarsesama dalam kehidupan dunia.
Bagi sufi, ideologi kekerasan lahir dan muncul dari hati yang kotor,
yang jauh dari kata cinta, sehingga membentuk psikologi dan pemikiran
yang mengarah pada tindakan-tindakan buruk, keras dan jahat.

Dalam konteks sufi, upaya mencegah perbuatan jahat hanya boleh
dilakukan dengan mulut dan tangan tanpa melibatkan hati. Sebab hati
adalah faktor utama pengambil sikap perilaku dan tindakan manusia.
Jika hati manusia bersih maka dengan sendirinya tindakan dalam bentuk
kejahatan ucapan maupun tindakan akan terhindarkan. Oleh karenanya,
sufisme mengajarkan bahwa hati seharusnya hanya melihat persoalan yang
terjadi sebagai takdir Tuhan.

Pelibatan hati dalam berbagai penyelesaian persoalan hanya akan
membawa pada kemarahan dan kekerasan. Hal ini karena hati manusia
masyarakat modern masih dipenuhi dengan kotoran, sehingga sangat jauh
dari kesucian dan kelembutan sentuhan cinta dan kasih sayang. Sebab,
hanya dengan cinta dan kasih sayanglah kedamaian untuk diri pribadi
seseorang bisa didapatkan sekaligus kedamaian untuk alam semesta.

Manusia sebaiknya belajar pada bagaimana sikap dan kodrat laut. Laut
adalah tempat berkumpulnya limbah dan sampah, namun ia tidak berubah,
tetap tenang dan asin sebagaimana kodratnya. Hati yang suci adalah
hati yang bersifat layaknya laut, tenang, toleran, terbuka dan
menerima apa saja dengan hati yang lapang dengan penuh cinta dan kasih
sayang.

Moh. Yasin, Peneliti pada Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK)
Paramadina, mahasiswa S2 ICAS-Universitas Paramadina, Jakarta

2 responses to “MERAJUT PERDAMAIAN LEWAT SUFISME

  1. Artikel anda bagus sekali, sangat menyentuh hati, mengimbau pada perdamain manusia dan saya sangat terkesan. mohon terus tulis artikel semacamnya yg berbobot. insya Allah berguna bagi pembaca. Amin.

  2. pandangan anda tentang kesufian cukup jelas namun kurang runtut. karena untuk menjadi ( ikan dilaut tidak asin walau airnya asin). ada baiknya jika anda urai hakikat kesufian yang disampaikan..seperti bagaimana proses terjadinya dialaog antara ruh manusia dengan Tuhan..tanpa terurai secara runtut akan menimbulkan salah pemahaman yang akhirnya pun terjebak kepada yang isntan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s