Intelegensia & Kreatifitas: Berevolusi atau Permanen?

ROUNDTABLE DISCUSSION

BERSAMA

PROF. ELISABET SAHTOURIS

DAN

PROF. OSMAN BAKAR


elisabet-shahtouris-018“Apa itu Intelijensia? Apakah itu sesuatu yang berevolusi di sepanjang sejarah umat manusia? Ataukah sesuatu yang memiliki permanensi dalam waktu? Atau adakah kombinasi antara evolusi dan permanensi?”

Itulah beberapa pertanyaan yang ingin dieksplorasi lebih lanjut dalam Round Table Discussion (RTD) ACRoSS bersama Prof.Dr. Elisabet Sahtouris dan Prof.Dr. Osman Bakar pada 7 Desember 2008 di ICAS Jakarta. Tema dari RTD tersebut adalah Intelegensia dan Kreativitas: Berevolusi atau Permanen?”osman-bakar-elisabet-shahtouris-014

Dialog ini juga dihadiri oleh Dr. S.M. Tabatabaei Yazdi (Direktur ICAS Jakarta), Husain Heriyanto, M.Hum (Direktur ACRoSS-ICAS), dan Prof.Dr. Mulyadhi Kartanegara, serta sekitar 30-an hadirin dari kalangan peneliti ACRoSS, Dosen-dosen ICAS dan beberapa Peneliti dari Universitas Indonesia serta para mahasiswa ICAS.


Prof. Dr. Elisabet Sahtouris, Biologist yang ingin mengabungkan pendekatan saintifik dengan spiritualitas dalam sebuah harmony, ibarat harmoni musik yang dihasilkan dari permainan keyboard piano/organ. Tuts keyboard nada-nada rendah ibarat sains material (physics, chemistry-biology, ect) dan keyboard nada-nada pertengahan adalah metafora sains daya energi elektromagnetis, lalu tuts keyboard nada-nada tinggi adalah kunci nada-nada pendekatan intuitif puitis spiritualitas, yang kesemuanya harus dimainkan dengan seluruh jari tangan, akal dan perasaan dengan harmonis untuk menghasilkan lagu yang indah.

Kegiatan ini merupakan salah satu program dari diskusi saintifik ACRoSS yang berorientasi untuk mengeksplorasi beberapa pertanyaan universal dan abadi dalam sejarah umat manusia. Diharapkan bahwa kegiatan ini bisa memberikan pandangan yang lebih bernilai dan pemahaman yang lebih kaya bagi para pesertanya, khususnya bagi para peneliti ACRoSS.

Setelah pengantar pembuka oleh Bapak Husein Heriyanto sebagai Direktur ACRoSS, RTD diawali dengan presentasi Prof.Dr. Elisabet Sahtouris. Beliau lebih suka ‘berdialog’ ketimbang berdiskusi dalam RTD tersebut. Kata dialog diambil dari bahasa Yunani, dia (melalui) dan logos (percakapan, perkataan), maka artinya yaitu melalui perkataan/kata, kita bisa mencapai suatu keharmonisan. Diasumsikan dalam dialogos bahwa setiap orang yang benar-benar berbeda cara pandangnya bukan untuk untuk mencapai keseragaman pandangan, tetapi untuk bagaimana caranya mencapai keharmonisan. Semua orang memiliki pandangan yang berbeda tentang realitas, dan dialog adalah proses di mana setiap orang akan sampai pada sebuah keharmonisan dari perbedaan tersebut.

Menurut Sahtouris, perbedaan itu sifat yang universal dalam hidup kita. Hidup kita menjadi mungkin karena adanya perbedaan. Maka, sangatlah penting untuk bisa menciptakan sesuatu bagi orang yang bisa mengenali perbedaan. Oleh sebab itu, dialog yang ramah/baik itu sangat penting karena jika kita kehilangan perbedaan, maka kita akan kehilangan kreativitas.

Salah satu perbedaan pandangan yang harus kita pahami dan kenali adalah mengenai ‘intelejensia.’

Dalam budaya Barat, ada kecenderungan untuk mengukur intelejensi seseorang melalui beberapa objektifitas yang standar, seperti tes IQ (Intellegencia Quotion). Di Cina saja, kata Sahtouris, orang-orang tidak suka mengukur intelejensi anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa kadar intelejensi masyarakat yang tinggal di perkotaan sangatlah berbeda dengan mereka yang tinggal di daerah pedesaan. Bagi mereka, motivasi lebih penting daripada intelejensi.

Tapi, apakah intelejensi itu sendiri? Ada berbagai macam definisi mengenai intelejensi, namun menurut Sahtouris, kita bisa memakai definisi dari kata intelejensi yang digunakan militer karena hal tersebut dapat memberikan kita pandangan yang tepat dan sederhana mengenai intelejensi. Intelejensi adalah kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan informasi. Informasi diambil dari kata ‘in’ dan ‘formasi’, yaitu sesuatu yang tidak acak, sesuatu yang mempunyai dan berada dalam formasi/pola tertentu. Maka, seseorang yang intelijen (pintar) adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi pola-pola tertentu dan menggunakannya. Sayangya intelejensia di militer hanya digunakan untuk mengalahkan lawan/musuh dalam peperangan. Sedangkan dalam dalam sains, intelejensia berguna untuk mengembangan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan-kesempurnaan hidup manusia.

Intelijensi hanya bisa dikenali dalam berperilaku. Tak ada gunanya membicarakan intelejensi seseorang tanpa membicarakan perilakunya. Intelijensi adalah karakter dari gambaran saya dan menggunakan informasi untuk membuat keputusan. Ia bukanlah suatu entitas yang abstrak.

Dalam sesi kedua, Prof.Dr. Osman Bakar juga membahas tema yang sama tapi dari sudut pandang yang berbeda. Beliau memulainya dengan sebuah pemahaman bahwa bagi seorang filsuf Muslim, tidak ada perbedaan antara intelek dan akal. Bagi mereka, aql sudah termasuk keduanya, dan itulah yang dinamakan intelejensi. Mengutip sebuah hadis, Prof. Osman menjelaskan bahwa hal pertama yang Tuhan ciptakan adalah intelejensi/kecerdasan akal.

Dalam seluruh kosmos, ada penyaluran kosmis (pancaran/emanansi) dari intelejensi (aql). Intelejensi dihadirkan dalam setiap penciptaan pada setiap tingkatan. Tak ada yang devoid antara kesadaran dan intelejensi. Setiap makhluk memiliki kadar intelejensinya sendiri.

Sebagai salah satu makhluk ciptaan, manusia memiliki posisi yang khusus. Adam diajarkan mengenai nama-nama dari setiap benda/hal. Ia memiliki intelejensi yang bisa mengerti semua hal di alam semesta ini. Tuhan itu sendiri adalah sumber Intelejensi Tertinggi. Antara intelejensi manusia dan intelejensi Tuhan ada kesinambungan, bukan ketidaksinambungan. Maka itulah sebabnya para Filsuf Muslim bersikeras bahwa sangatlah mungkin untuk mengerti Tuhan dengan intelejensi kita. Sangatlah mungkin untuk menaiki tangga menuju Intelejensi Tertinggi. (bersambung). (AYS, ESN & Eko)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s