Ilmu Pengetahuan dan Ideologi: Undangan atas sebuah kesangsian

Ilmu Pengetahuan dan Ideologi:

Undangan atas sebuah kesangsian

Oleh : Karel H Susetyo

(Mahasiswa Pasca Sarjana ICAS- Universitas Paramadina)

” Semua ideologi sudah terkalahkan; pada akhirnya dogma-dogma tersebut terungkap sebagai ilusi-ilusi dan orang berhenti meyakininya secara sungguh-sungguh….Kenyataan ternyata lebih kuat dari Ideologi ”

( Milan Kundera, 1992)

Pada tahun 1989 dalam sebuah Konferensi Hadiah Nobel ke 25 di Gustavus Adolphus College-Swedia, diadakan konferensi yang bertemakan ” The End of Science”. Meski konferensi tersebut lebih tepat disebut “The End of Positivism” daripada “The End of Science” sebagaimana disebut oleh Ian Hacking, tak pelak gejala pesimisme merasuki ranah ilmu pengetahuan. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan kemanusiaan telah menghadapi sebuah keterbatasan yang diakibatkan oleh ketidakpastian, kontradiksi dan konflik yang berkembang akibat pengaruh nilai-nilai eksternal yang berimplikasi pada objektivitas. Sebagaimana ilmu pengetahuan memiliki nilai-nilai internal untuk tetap menjaga objektivitasnya, seperti Nilai Epistemik, Kognitif dan Konstitutif. Nilai-nilai eksternal ilmu pengetahuan bisa hadir dalam bentuk pengaruh agama, etika ,ideologi dan aestetik yang akan mengaburkan etos ilmu pengetahuan itu sendiri. Nilai eksternal tersebut juga secara mudah masuk melalui sebuah kegiatan yang disebut oleh Ziman sebagai ”Kolektivasisasi Ilmu” (Collectivization of science), melalui pembentukan lembaga-lembaga riset yang berada di bawah otoritas negara maupun perusahaan. Akhirnya sebagaimana terjadi pada para ilmuwan penemu senjata nuklir, bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menentukan tujuan akhir atas penemuannya: Apakah untuk perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan atau berakhir sebagai alat politik semata? Tentunya hal ini berbanding terbalik, ketika ilmu pengetahuan lahir dan membukakan pintu bagi peradaban manusia, melepaskan diri manusia dari mitologisasi alam semesta. Pada ilmu pengetahuanlah manusia memaknai kesadarannya. Meskipun padanyalah manusia merayakan pula sekaligus sebuah kematian.

Penemuan manusia atas mesiu, kompas dan mesin cetak tak dinyana telah melahirkan sejarah kelam Kolonialisme yang panjang dalam peradaban manusia. Pengembaran dunia atas nama Gold, Gospel and Glory menggema menjadi sebuah titik awal persaingan baru bagi negara-bangsa dalam memajukan penguasaannya atas ilmu pengetahuan. Karena dengan ilmu pengetahuan sebuah bangsa mampu memastikan masa depannya. Ilmu pengetahuan pun seakan lahir dalam wajah lainnya, bukan sekedar menjadi media untuk memahami alam melainkan juga menjadi media untuk menguasai manusia lainnya. Ilmu pengetahuan pun mulai tercerabut dari wilayah kesadaran manusia. Ia tercerabut oleh anak kandungnya sendiri: Ideologi. Meski secara luas ideologi tidak terbatas pada doktrin politik yang eksplisit dan sekular yang biasa kita asosiasikan dengan istilah ini, namun bisa juga mencakup agama, budaya dan nilai- nilai moral yang kompleks yang menyangga masyarakat mana saja. Karenanya ilmu pengetahuan tidaklah lahir dalam ruang hampa, ia dilahirkan oleh seorang ilmuwan yang berusaha menangkap realitas yang ada dan realitas tersebut selalu kontradiktif, dualistik dan paradoks. Dalam realitas itulah terkadang ilmu pengetahuan jatuh tersungkur dalam penghambaannya atas sebuah ideologi.

Sejarah Ilmu Pengetahuan

Pada masa Pra-Sejarah, Ilmu pengetahuan berkembang dari satu generasi ke generasi lainnya dalam suatu tradisi lisan yang ketat dan berbaur dengan mitologi. Pengembangan inilah yang menjadikan penyampaian ilmu pengetahuan dari generasi ke generasi mampu mempertahankan sebuah peradaban manusia. Ilmu pengetahuan pada masa Pra-Sejarah lebih banyak disandarkan pada pengamatan belaka sebagaimana ilmu Astronomi dan ilmu alam lainnya pada saat itu, di mana astronomi tidak memiliki pengetahuan atas struktur fisik sebenarnya dari obyek-obyeknya, meskipun banyak penjelasan teoritis telah diusulkan ketika itu pula. Hal mana juga berlangsung pada ilmu tentang hewan, tumbuhan, materi dan zat-zat alam. Perkembangan lebih lanjut dari ilmu pengetahuan kemudian dikembangkan oleh peradaban-peradaban besar manusia seperti: Yunani, Romawi, India, Cina, Islam dan Eropa, hingga berakhir sampai saat ini pada abad Modern, di mana manusia secara bersama-sama mengembangkannya. Peran Islam dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah signifikan, karena Islamlah yang menjadi jembatan emas antara perkembangan ilmu pengetahuan pada masa Yunani kepada Eropa. Selain itu Ilmuwan Islam pula yang menempatkan dasar-dasar bagi metode eksperimen dibanding peradaban sebelumnya. Ini dapat dilihat dengan eksperimen dari Ibn al-Haytham (Alhazen) pada ilmu optik, dalam karyanya dari Book of Optics. Pengembangan yang paling utama dari metode eksperimen ini adalah penggunaan percobaan yang kemudian secara jauh membedakan antara teori ilmiah dengan suatu orientasi empiris. Akhirnya selain dikenal sebagai ”Bapak ilmu optik”, Ibn al-Haytham kemudian juga dikenal dengan ilmuwan yang pertama kali mengembangkan metode sains modern. Dalam bidang lainnya seperti Matematika, seorang ilmuwan Persia Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi mengembangkan konsep algoritma. Pada bidang matematika, Islam juga memberikan sumbangannya karena apa yang saat ini dikenal sebagai angka Arab mula-mula datang dari India, tetapi ilmuwan Muslim ketika itu membuat sejumlah perbaikan pada sistem nomor, jumlah dan tanda desimal. Karenanya pula angka 0 adalah sumbangan terbesar dari ilmuwan muslim ketika itu. Dalam bidang-bidang lainnya ilmuwan Muslim menorehkan nama harumnya seperti Al-Battani dalam ilmu astronomi dan juga sekaligus menemukan ketepatan dalam mengukur poros bumi dimana menjadi dasar dalam pemikiran Copernican yang heliosentris tersebut, Al-Razi dalam ilmu kimia dan kedokteran, al-Farabi dalam matematika, Abu al-Qasim dalam ilmu bedah, Abu Rayhan al-Biruni dalam bidang Geodesi dan antropologi), Ibn Sina dalam ilmu kedokteran, Nasir al-Din al-Tusi, dan Ibn Khaldun dalam ilmu-ilmu sosial.

Kebangkitan peradaban Eropa dimulai dengan Pengetahuan ilmiah yang diperoleh mulai pada abad ke 12, periode ini menunjukkan suatu pergeseran yang bersifat menentukan dalam fokusnya pada bidang Fisika kepada ilmu kimia dan biologi. Dengan demikian ilmu pengetahuan modern Eropa telah dilanjutkan sebagai sebuah periode panjang sejak pergolakan besar antara Gerakan Protestan (Reformasi) dan Agama Katholik. Kejadian demi kejadian pun merubah dan mendorong maju pesatnya ilmu pengetahuan di Eropa, seperti: Reformasi keagamaan, penemuan benua Amerika oleh Christopher Columbus, kejatuhan Constantinopel dan juga penemuan kembali ilmu mendasar Aristoteles yang terkait dengan permasalahan sosial dan perubahan politik. Sehingga demikian, terciptalah suatu lingkungan yang menjadi mungkin untuk mempertanyakan dan mendobrak berbagai doktrin keagamaan, yang dapat dilihat pada kasus Martin Luther yang mempertanyakan berbagai doktrin religius Katolik. Revolusi ilmiah dimulai pada tahun 1543, ketika karya pertama dari Nicolaus Copernicus dicetak. Pemikiran penting dari buku ini adalah bahwa bumi mengelilingi matahari, membantah doktrin gereja bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi. Periode ilmu pengetahuan modern memuncak dengan penerbitan dari Philosophiæ Naturalis Principia Mathematica pada tahun 1687 oleh Isaac Newton. Selain itu perkembangan ilmiah penting lainnya lahir melalui penemuan-penemuan yang dilakukan oleh Galileo Galilei, Edmond Halley, Robert Hooke, Christiaan Huygens, Tycho Brahe, Johannes Kepler, Leibniz, ataupun Blaise Pascal. Sedangkan dalam filsafat, kontribusi utama sebagai pondasi ilmu pengetahuan Modern dibuat oleh Francis Bacon, Thomas Browne, Descartes, dan Thomas Hobbes. Metode eksperimen kemudian dikembangkan melalui cara berpikir yang modern, dengan menekankan pada percobaan untuk memberi alasan dan jawaban atas pertimbangan yang rasional. Abad ke 17 sampai abad 18 adalah menjadi zaman pembuka bagi jalan atas langkah-langkah yang bersifat menentukan ke arah ilmu pengetahuan yang modern. Secara langsung didasarkan pada penemuan dari Newton, Descartes, Pascal dan Leibniz, langkah itupun semakin mengarah kepada pengembangan dari ilmu matematika modern, ilmu fisika dan teknologi oleh berbagai penemuan dari Benjamin Franklin, Leonhard Euler, Georges-Louis Leclerc dan Le Rond d’Alembert Jean. Dampak dari proses perkembangan ilmu pengetahuan ini tidaklah terbatas pada ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tetapi juga merambah pada bidang filsafat yang dipengaruh oleh pemikiran Immanuel Kant dan David Hume, bidang agama dengan munculnya pemikiran anti Tuhan yang positif dan berdampak pada intensitas ilmu pengetahuan dan pemikiran politik masyarakat Voltaire yang berujung pada Revolusi Prancis tahun 1789 yang menjadi permulaan dari pembaharuan politis. Awal periode modern dapat dilihat sebagai buah dari Kebangkitan kembali ilmu pengetahuan atau yang sering dikenal sebagai Revolusi ilmiah, dipandang sebagai sebuah pondasi bagi ilmu pengetahuan modern. Sepanjang abad ke 19, praktek ilmu pengetahuan modern menjadi semakin profesional dan terlembagakan dan berlanjut sampai abad 20, di mana peran dari pengetahuan ilmiah tersebut semakin dikembangkan dalam masyarakat, dan terlebih mendapatkan tempatnya pada terbentuknya Nation-States. Sejarah ilmu pengetahuan dapat dilihat sebagai sebuah rantai, di mana kemajuan teknologi dan pengetahuan selalu saling melengkapi satu sama lainnya. Inovasi teknologi menyempurnakan ilmu pengetahuan yang terdahulu dan kemudian disempurnakan lagi oleh penemuan lainnya yang terus mengilhami berbagai kemungkinan baru yang menuju pada sebuah kesempurnaan ilmu pengetahuan. Menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dapat diartikan sebagai sebuah upaya memastikan kemakmuran dan kualitas hidup yang tinggi. Ilmuwan berada pada garis terdepan dan menjadi tulang punggung untuk mengembangkan teknologi dan inovasi ilmiah. Sasaran pokok dari para ilmuwan adalah untuk menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk memecahkan berbagai permasalahan manusia, baik sebagai sebuah kesatuan masyarakat maupun individu.

Ideologi : Meretas panorama kebenaran

Ideologi sebagai sebuah konsep lebih banyak dipahami sebagai sebuah ”Jalan kebenaran” layaknya firman Allah, yang perlu diimani. Sedangkan dalam pemahaman yang lebih netral, ideologi dapat diartikan sebagai sistem ide yang memiliki prinsip-prinsip koheren, komprehensif dan jelas. Di mana tidak semata-mata agar ide yang terkandung dalam ideologi itu mudah utuk dipahami, melainkan lebih dari itu ideologi selalu berpretensi untuk bisa dipraktekkan. Secara harfiah ideologi dapat diartikan sebagai berikut :

” Any wide ranging system of beliefs, way of thought and categories that provide the foundation programs of political and social action; an ideology is a conceptual scheme with a practical application”

Ideologi menjadi sebuah pengertian yang berbeda dari awalnya, lebih disebabkan karena penggunaan konsep ini oleh Karl Marx. Di mana pemahaman yang berbeda atas ideologi pertama kali muncul dalam karyanya bersama Engels, German Ideology (1846), sebagai dasar pemahaman mereka atas sebuah masyarakat yang tidak hanya terdiri dari aktivitas material saja melainkan sebagai refleksi atas ideologi dan juga proses kehidupan lainnya seperti moralitas, agama dan metafisika. Marx menempatkan ideologi sebagai serangkaian konsepsi atas ide-ide otonom yang memiliki kekuatan untuk menyibakkan kebenaran dan kesadaran. Bagi seorang materialis, Marx berkeyakinan bahwa eksistensi menentukan kesadaran dan bukan sebaliknya, maka apapun upaya untuk menggambarkan realitas dari ide dengan sendirinya adalah sebuah kesadaran palsu. Pada tahapan ini Marx melangkah lebih depan daripada Feurbach dan Bacon, bahwa ideologi bukan hanya ide-ide keliru melainkan lebih dari itu ideologi sekaligus juga menyembunyikan kepentingan tertentu. Apa yang kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam Contribution to the critique of political economy (1859) oleh Marx , bahwa ideologi dapat disebut sebagai sebuah pandangan atas dunia dan juga bagian ide yang mengaburkan pandangan tentang dunia sebenarnya atau gambaran palsu atas dunia. Dalam karyanya tersebut, Marx melihat bahwa ideologi sebagai pandangan dunia merupakan sebuah bentuk transformasi material atas keadaan ekonomi dan produksi dari sebuah masyarakat. Dan pemahaman Marx ini bertolak belakang dengan ideologi sebagai sebuah bentuk pengaburan pandangan dunia atas realita masyarakat. Marx memasukkan bentuk ideologi ini seperti hukum, politik,agama, kebudayaan dan filsafat. Sehingga dengan demikian Marx membagi pengertian ideologi menjadi 2 yakni : Pertama, sebuah rangkaian ide yang tertata, sistematis dan logis tentang bagaimana sebuah masyarakat harus diperintah dan Kedua, struktur intepretasi atas konsep kritis yang berbentuk kesadaran palsu. Marx kemudian secara lebih jauh mereduksi sejarah manusia sebagai sebuah perjuangan kelas (Class Struggle) yang didasarkan pada kondisi material saja dibandingkan pada pergulatan ide. Hal mana kemudian menjadi doktrin bagi Marxisme yakni paham atas Materialisme Historis.

Boleh dikatakan penggunaan konsep ideologi oleh Marx ini bersifat kontroversial. Karena sebelumnya ideologi lebih dimaknai sebagai bagian dari ilmu pengetahuan atau ilmu tentang ide (Science of ideas) yang terbebas dari prasangka metafisis dan agama, sebagaimana dipahami oleh Destutt de Tracy pada akhir abad 18. Pada pemikiran Tracy-lah, ideologi memiliki maknanya yang positif. Di mana Tracy berusaha mendefinisikan suatu cara untuk menemukan ”kebenaran” di luar kepercayaan agama dan otoritas gereja, yang tergambarkan secara kuat dalam metodologi tradisional yang digunakan oleh gereja dan negara. Hal mana merupakan pengaruh kuat dari pemikiran Francis Bacon yang berusaha mencari cara untuk mengurangi kesalahan karena distorsi akibat prasangka, kepentingan pribadi dan kekuasaan. Mencoba melepaskan diri dari sebuah ilusi kebenaran, layaknya kisah klasik goa Plato, untuk memurnikan ide-ide dalam rangka mendapatkan kebenaran yang obyektif dan pikiran yang benar. Serta membebaskan ilmu pengetahuan dari fenomena otonomi yang menyesatkan pengamatan manusia atas realita. Membongkar apa yang disebut oleh Helvetius dan Baron Holbach sebagai fenomena ”Kebohongan para pendeta (Priestly deceit)”. Sebelumnya Francis Bacon dalam Novum Organum (1620) menganggap pengetahuan alam akan gagal apabila tidak dibebaskan dari berbagai faktor irasional tertentu yang menutup pikiran manusia. Di mana ia menyebut faktor irasional tersebut sebagai idola, baik idola atas suku bangsa, idola atas goa, idola atas pasar dan idola atas teater. Konsep idola pada pemikiran Bacon inilah yang memberikan inspirasi bagi pemikir pencerahan Eropa untuk memperhatikan sumber-sumber prasangka irasional yang berasal dari agama. Kemudian konsep ideologi berkembang pesat selama abad 19, ditandai dengan pembahasan yang intens oleh Machiavelli atas hubungan dasar antar elemen konsep ideologi seperti: selera, kepentingan, kekuasaan dan dominasi.

Untuk memahami ideologi, maka sekiranya kita dapat secara sederhana melihat kompilasi ideologi oleh Eatwell dan Wright, yakni: Liberalisme, Konservatisme, Sosialisme dan Sosial Demokrasi, Marxisme dan Komunisme, Anarkisme, Nasionalisme, Fasisme, Feminisme, Ekologisme dan Islam. Hal ini dapat dipahami bahwa Eatwell dan Wright mereduksi ideologi mejadi sekedar ideologi politik yang ditopang oleh pemikiran politik, sistem kepercayaan dan norma, bahasa, simbol dan mitos, dan kekuasaan. Meski kompilasi tersebut masih dapat dipilah lagi dengan menggunakan standar berdasarkan pada fungsi pokok ideologi yakni: Eksplanasi, Evaluasi, Orientatif dan Programatik. Atau dengan dua aspek yang dikandung oleh ideologi, yakni aspek kognitif (logika dan asumsi) dan aspek afektif (emosional/identifikasi kelompok) sebagaimana disebut oleh Wasby. Sehingga secara umum ideologi itu dapat didefinisikan sebagai suatu manifestasi aplikatif dari sistem ide, gagasan dan pemikiran untuk mencapai perubahan dan kekuasaan politik yang dilakukan oleh kelompok – kelompok masyarakat, karena adanya rantai kesadaran bersama terhadap realitas sosial, sistem serta struktur yang tidak adil, tidak manusiawi dan menindas. Martin Seliger menyebut ideologi sebagai ”sekumpulan gagasan yang dihasilkan untuk menjelaskan, membenarkan dan memperkuat posisi atau alat untuk mengorganisir gerakan sosial terutama gerakan politik, terlepas apakah tujuan tersebut untuk melindungi, mempertahankan, menumbangkan atau membangun kembali suatu keteraturan sosial yang baru”. Pemahaman yang lebih luas atas ideologi diberikan oleh Fukuyama, sebagai berikut: ”Ideologi dalam pengertian tidaklah terbatas hanya pada doktrin politik yang eksplisit dan sekuler sebagaimana kita asosiasikan dengan istilah tersebut, namun lebih luas dari itu seperti mencakup agama, budaya dan nilai-nilai moral yang kompleks yang menyangga masyarakat yang mana saja.”

Penutup :

Pembunuhan yang selalu gagal

Ilmu pengetahuan tidak lahir dari ruang hampa. Manusialah yang menangkap gagasan dan realita serta melakukan rasionalisasi atas hal tersebut. Oleh karenanya seorang ilmuwan tidak mungkin melepaskan diri dari kaitan nilai ideologis yang membebat dirinya. Meski pada awalnya lahirnya ideologi justru muncul dari pemenuhan atas suatu proyek terus menerus atas kesadaran diri Subyek, melepaskan dirinya dari selubung metafisis. Sejatinya ideologi adalah proses sekulerisasi ilmu pengetahuan. Kemudian ideologi dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan bisa dimengerti berkembang sebagai bentuk antitesis ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan secara lanjut bisa disamakan dengan pra-konsepsi atau elemen-elemen irrasional yang menganggu. Oleh karenanya bila metode ilmiah diterapkan dengan betul maka diduga ideologi akan menjauh dan hilang. Ilmu pengetahuan harus mampu menghapus realitas yang oleh Baudrillard disebut sebagai hiperrealitas. Karenanya ideologi membentuk dunia simulacra yang tercipta melalui tatanan simulasi, sebagaimana simulasi tidak mewakili atau mengacu pada realitas, tetapi pada dirinya sendiri, bahkan ia dapat lebih kuat dari realitas. Mungkin ideologi lebih menekankan sifat kesamaan dari ilmu pengetahuan dan ideologi daripada perbedaan-perbedaannya. Dengan demikian ideologi dan ilmu pengetahuan akan mempunyai basis bersama dalam sudut pandang mengenai golongan yang menciptakannya. Maka dalam hal ini ideologi tidak dapat diatasi oleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan sendiri dapat menjadi ideologis. Ideologi terkait dengan kuasa dan dan ilmu pengetahuan pun menyediakan kuasa. Apa yang terkandung dalam pemerintahan Teknokratik oleh Ziman sebagai perwujudan atas Political Scientism. Korelasi kuat terbangun di antara kuasa dan ilmu pengetahuan. Kuasa dan ilmu pengetahuan merupakan dua sisi yang menyangkut proses yang sama. Tidak mungkin pengetahuan itu netral dan murni. Ilmu Pengetahuan selalu bersifat politis, tetapi bukan karena mempunyai konsekwensi-konsekwensi politis atau dapat dipergunakan dalam percaturan politik, melainkan karena ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh relasi kekuasaan yang dibangun atas sebuah ideologi tertentu. Oleh karenanya tidak ada ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan dasar kemungkinannya sendiri, sebuah ilmu pengetahuan dimungkinkan oleh akibat transformasi diantara relasi kekuasaan. Sehingga menjadi tugas dari semua ilmuwan untuk melakukan demistifikasi ilmu dan sekaligus menjauhkan ilmu dari melayani kepentingan ego. Laksana cacat bawaan, ideologi selalu menyertai ilmu pengetahuan. Kemanapun ia berada. Mungkin kiranya kita perlu mengembangkan apa yang disebut oleh Rorty sebagai Humanistic Intellectual, yang bersandar pada proposisi sederhana:

“ So talk about our responsibility to Truth or to Reason must be replaced by talk about our responsibility to our fellow human beings “.

Semoga…

Daftar Pustaka

Bell, Daniel, The End of Ideology (Collier Books, New York, 1962)

Blackburn, Simon, Oxford Dictionary of Philosophy, (Oxford University, New York, 1996)

Eatwell, Roger and Anthony Wright (eds), Contemporary Political Ideologies,

(Pinter, London & New York, 1999).

Kundera, Milan, Immortality (Harper Perennial, New York,1992)

Larrain, Jorge (terj.), Konsep Ideologi (LKPSM, Yogyakarta, 1996)

Rorty, Richard, Philosophy & Social hopes (Penguin, Middlesex,1999)

Rose, Gideon (ed), America and the world, Debating the new shape of international Politics

(Foreign Affairs, Washington, 2002)

Seliger, Martin, Marxist conception of Ideology: A Critical essay

(Cambridge University Press,Cambridge,1979)

Trigg, Roger, Understanding Social Sciences ( Blackwell, Oxford, 2001)

Ziman, John, An Introduction to Science Studies ( Cambridge Univ Press, Cambridge, 1984)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s