Sumbangsih Kearifan Timur

“ Sumbangsih Kearifan Timur

( Konfusianisme – Taoisme – Zen Budhisme)

untuk Proses Rekonstruksi Paradigma Baru Sains dan Peradaban “

Makalah Seminar “ Peran Filsafat Timur, Tasawuf dan Tauhid

dalam Proses Rekonstruksi Paradigma Sains dan Peradaban Baru “

Pusat Kajian Filsafat, Tasawuf dan Tauhid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh : Jusuf Sutanto

(Staf CEO PT Indofood Sukses Makmur Bogasari Flour Mills )

Bagian I

Kesatuan ‘ Soul – Mind dan Body Sebuah Kasus bagi Eksekutif

Dalam buku ‘ Visi baru Kehidupan, Kontribusi F.Capra dalam Revolusi pengetahuan dan Implikasinya pada Kepemimpinan ‘, Penerbit PPM 2002, Paul de Blot SJ, Staf Pengajar Nyenrode University, Business School, Netherlands, menulis sebagai berikut :

“ Dewasa ini, kita menjadi semakin sadar sedang terbawa oleh dinamika arus evolusi yang merupakan sebuah proses yang tidak terarah, tidak terkendali, dan tidak bisa direncanakan. Banyak orang belum sadar kenyataan ini dan masih berusaha menyusun perencanaan jangka panjang. Evolusi sebagai pengalaman yang disadari manusia ini, juga melibatkan proses evolusi kebudayaan, spiritualitas dan religi. Tidak ada dimensi kehidupan manusia yang lolos dari dinamika hidup ini. Maka dalam perkembangan organisasipun terdapat unsur evolusi. Tanpa disadari, langkah demi langkah cakrawala manajemen sudah menjadi global, sudah bertambah spiritual. Rupanya organisasi bisnis yang paling cepat sadar terhadap perubahan ini karena orang dagang yang paling merasakan kesalahan manajemen. Sebab salah langkah langsung membawa maut dan usahanya bisa mati. Kepahitan dompet kosong ini langsung dirasakan oleh manajer “.

Mengkuantifikasi masalah, bukan jalan keluar

Seni memimpin yang seharusnya merupakan sesuatu yang dinamis dan hidup ini lalu mulai ada yang dicoba didekati dengan metode mengukur dengan data-data yang dikumpulkan oleh komputer, dalam macro-economi disebut econometri sehingga dengan demikian ilmu manajemen telah diredusir menjadi sekedar soal mengotak-atik angka semata. Kumpulan data dari komputer itu kemudian ditelan begitu saja tanpa pernah mempersoalkan kemungkinan terjadinya unsur subyektvitas dari operatornya dan terjadinya eror dalam perangkat keras dan lunaknya. Ketika semua usaha besar yang bisa dicatat kegiatannya dalam angka-angka, dilanda krisis dan menurut text book dikatakan bahwa negara sudah dalam kondisi kolaps, tapi nyatanya tidak, kita semua bingung karena yang menggerakkan justeru sektor non-formal usaha kecil dan menengah yang tidak bisa dicatat kegiatannya.

Seni Memanah sebagai Latihan Kepemimpinan

Alkisah ada seorang juara yang bisa memanah dengan jitu tanpa pernah meleset sekalipun. Ia mencoba menantang bertanding seorang guru yang tinggal di kuil di sebuah gunung dan mendemonstrasikan kecakapannya. Seraya menunjuk pada pohon apel di halaman ia menantang sang guru untuk memilih buah yang mana dan lalu memang dengan jitu berhasil dipanahnya. Ketika giliran meminta supaya sang guru menunjukkan kecakapannya, ia berkata: “ Nanti di luar kuil saja !” seraya mengajak pemuda itu mengikuti berjalan ke arah puncak gunung. Anginpun bertiup deras dengan pemandangan tebing yang sangat dalam membentang di bawahnya. Si penantang itu bertanya : “ Kapan anda mau memanah ? “. Sang guru menjawab : “ Sebentar lagi !”. Baru ketika mereka sampai di ujung suatu tebing, maka ia berkata : “ Berikan panahmu ! “, lalu dengan tenang menarik busur, mengarahkan pada seekor burung yang sedang terbang dan dalam sekejap jatuh terpanah dengan telak. Si penantang itu segera berlutut sambil berkata : “ Maaf Guru, saya yang masih kecil ini mohon pengajaran ! “.

Selama ini yang dia latih sebenarnya hanyalah soal teknik memanah dari tempat yang mapan dengan sasaran yang tak bergerak. Ketika dihadapkan pada keadaan yang sangat tidak mapan dan bahkan membahayakan dirinya sendiri dan sasaran yang bergerak maka jangankan mementangkan busur, untuk berdiripun hatinya sudah ciut. Sebaliknya sang guru mencapai keahliannya melalui latihan meditasi, menjadikan dirinya menyatu dengan alam dan target yang akan dipanah. Dua cara berlatih yang berbeda sehingga hasilnyapun akan berbeda.

Ide di balik metafor ini sebenarnya adalah masalah leadership / kepemimpinan

dan bagaimana melatihnya. Apa yang bisa diberikan oleh sekolah manajemen konvensional tidak bisa lebih dari sekedar ketrampilan teknis melatih memanah dari tempat yang mapan dan sasaran tak bergerak, melalui studi kasus yang terjadi pada orang lain sehingga resikonya hanya berpengaruh pada nilai ujiannya saja. Dengan hanya berulang kali melakukannya, sudah tentu bisa dicapai ‘ keahlian ‘ yang ditengarai dengan ijazah.

Sebaliknya sang guru terlebih dulu memberikan landasan spirit pada ketrampilan memanah, yang dimulai dengan latihan meditasi sehingga pertama-tama dirinya merasa benar – benar telah mengada dengan ruang dan waktu saat itu here and now , menjadi satu dengan sekitarnya ‘ just a part of the mighty whole ‘. Bagaikan seorang pendekar buta yang sedang berduel hidup – mati, ia harus dalam keadaan benar-benar rileks karena hanya dengan demikian kewaspadaan akan mencapai titik optimal. Kalau ia tegang dan terlalu memperhatikan serangan akan datang dari sebelah kanan, maka bagian kirinya akan lemah, demikian pula sebaliknya. Kalau terlampau konsentrasi pada atas, maka bagian bawahnya kosong. Karena itu energi Chi nya harus berlabuh dengan damai di rumahnya yang tiada lain di posisi Tan Tiem. Sesudah itu biarkanlah jalan alam meresponse tantangan yang dihadapinya melalui caranya sendiri.

Nature dari Soul – Mind and Body, adalah memang merupakan satu kesatuan. Adalah manusia sendiri yang mencoba memilah dan membuat sekat-sekat ‘ cogito ergo sum ‘ ala Cartesian yang menempatkan pikiran sebagai yang utama dan badan berada di bawah kendalinya sehingga kemudian membagi ilmu kedokteran menjadi dua yaitu : badan dan jiwa yang satu sama lain mempunyai disiplinnya sendiri-sendiri. Dengan demikian akhirnya manusia menjadi barang yang tidak lagi bisa hidup dan mampu secara alamiah meresponse secara autopoesis tantangan yang dihadapinya. Organisasi menjadi sekedar sekumpulan spare parts bagaikan seorang pasien yang dikendalikan oleh para manajer dengan konsultan sebagai dokternya. Seperti layaknya orang yang sakit, maka perlu bertanya dan minta ijin dokter lebih dulu setiap kali mau makan sesuatu : apa yang boleh dan tidak boleh.

Reductive – vs Augmentative Knowledge

Menemukan rahasia hidup dalam daun pohon mangga dan Seni Memimpin

Kalau kita mengamati dengan sungguh-sungguh secara mendalam daun mangga yang sedang melambai-lambai ditiup angin seolah ingin diperhatikan oleh sekelilingnya, maka kita menemukan kehadiran matahari dan bintang-bintang – tanpa kehadiran sinar dan kehangatannya, maka daun mangga tidak akan pernah ada. Di dalam daun , kita menyaksikan kehadiran awan – karena tanpa ada awan yang bisa berubah menjadi air hujan, bagaimana bisa tumbuh daun mangga ? Awanpun tak bisa menjadi hujan tanpa gunung yang memberikan suhu dingin sehingga bisa menjadi air yang mengalir di sungai dan di bawah tanah yang akhirnya bertemu dengan akar pohon mangga. Selain itu kita juga menghayati kehadiran tanah – waktu – ruang dan pikiran kita semua. Karena itu realitas daun mangga adalah merupakan dasar-dasar Seni Memimpin. Kita menyadari bahwa kehadiran semua phenomena hanya mungkin karena adanya phenomena yang lain. Satu yang mengandung semua, dan semua terkandung di dalam yang Satu.

Sebaliknya adalah Reductive knowledge yang bekerja seperti orang buta memegang gajah : yang kebetulan memegang ekornya, berpendapat bahwa gajah adalah seperti tali ; yang memegang kakinya seperti tiang listrik ; atau slang besar kalau memegang belalainya ; atau bedug kalau memegang perutnya, demikianlah ilmu pengetahuan dipecah dalam spesialisasi yang terkotak-kotak sehingga semakin jauh dari realitas.

Semuanya saling terkait, bersifat fana dan non-ego dan Spirit Tim Work

Antara daun mangga dan aku adalah satu sehingga tak ada perpisahan yang disebabkan oleh keakuan yang permanen. Keduanya tidak bisa berada dalam keterpisahan dengan alam semesta. Karena adanya saling keterkaitan antara semua phenomena, maka semua phenomena itu mempunyai sifat kekosongan alamiah, artinya semua phenomena itu bebas dari keakuan yang terpisah dan terkungkung. Karena itu pembebasan adalah justeru berarti : saling keterkaitan dan non-self, bukan total independen seperti konsep yang kita pahami se hari-hari.

Awan melayang melewati langit dan membentuk latar belakang putih pada daun mangga. Suatu saat mungkin awan itu bertemu dengan hawa yang dingin sehingga merubah bentuk menjadi hujan. Awan hanyalah sebuah manifestasi, demikian pula hujan, padahal keduanya pada hakekatnya adalah sama saja. Karena itu awan tak pernah lahir dan juga tak pernah mati dengan menjadi hujan. Kalau awan menyadari hal itu, maka pastilah ia akan menyanyi gembira (bukannya menangis sedih), ketika jatuh menjadi air hujan untuk membasahi gunung, hutan dan sawah padi.

Karena itulah pemahaman mengenai kefanaan (impermanen) dan kekosongan dari aku, merupakan kondisi yang penting dalam kehidupan ini. Kalau sebutir biji gabah tidak mempunyai sifat alamiah mengenai kefanaan dan kekosongan terhadap keakuan, ia tak akan bisa tumbuh menjadi pohon padi. Kalau awan tidak mempunyai kekosongan terhadap keakuan dan kefanaan, ia tak akan bisa berubah menjadi hujan. Tanpa kefanaan dan non-self yang alamiah, seorang anak tidak akan bisa menjadi manusia dewasa.

Jadi menerima kehidupan berarti menerima kefanaan dan kekosongan dari akuisme. Tidak ada Ego yang terisolasi, karena hanya merupakan bagian dari keseluruhan yang maha besar ( we are just a part of the mighty whole ).

Inilah sebenarnya dasar-dasar bagi spirit suatu Tim Work !

Surga, bumi dan aku berasal dari akar yang sama

Ribuan mahluk di dunia dan aku terbuat dari satu substan

Oh bunga kecil seandainya aku mengerti siapa kamu, akarmu dan semua ;

Semua dalam semua, semestinya lalu aku mengerti siapa Tuhan dan Manusia.

( Seng Tsao 384 – 414 )

“ Inilah yang kita tahu ; segala benda itu menyatu,

seperti hubungan darah mengikat seluruh keluarga.

Yang terjadi pada bumi, terjadi juga pada semua penghuninya ;

Manusia tidak merajut jaring kehidupan, ia hanyalah

secarik benang yang ada padanya ;

Apapun yang ia lakukan pada jaring itu, akan mengena pada dirinya.

( Syair Ted Perry dalam “ The Hidden Connections “ , Fritjof Capra )

Mengupas Jeruk sebagai latihan spiritual dan Manajemen Berorientasi pada Proses

Pada waktu mengupas sebuah jeruk, kita bisa memakannya dengan kesadaran atau tanpa kesadaran. Apa artinya makan buah jeruk dengan kesadaran ? Kita sadar sedang makan jeruk, merasakan wanginya kulit dan manisnya rasa jeruk. Ketika mengupas kita merasakan sedang mengupas dan sadar sedang memisahkan sepotong demi sepotong lalu memasukkan ke dalam mulut kita ; dengan demikian maka kehadiran jeruk menjadi sangat nyata dalam kehidupan kita. Kalau jeruknya riel, maka orang yang sedang makanpun juga riel adanya. Inilah arti dari makan jeruk dengan penuh kesadaran.

Lalu apa artinya makan jeruk tanpa kesadaran ? Ketika sedang makan, kita tidak tahu sedang makan jeruk. Kita tidak mengalami bau harum kulitnya dan rasa manisnya. Ketika mengupas, kita tidak sadar bahwa kita sedang mengupas. Ketika memisahkan satu per satu buahnya, kita tidak tahu sedang mengupas dan memasukkan ke dalam mulut. Ketika kita mencium baunya, kita tidak tahu bahwa kita sedang menciumnya. Makan jeruk dengan cara demikian, kita tidak dapat menghargai nilai dan indahnya alam. Kalau kita tidak sadar sedang makan jeruk, maka jerukpun tidak riel ada di hadapan kita.

Jika jeruknya tidak riel, maka orang yang sedang makanpun tidak riel juga. Makan jeruk dengan penuh kesadaran artinya sedang bersentuhan dengan jeruk. Pikiran kita tidak melayang ke masalah yang terjadi kemarin atau esok hari, tapi berada sepenuhnya dalam kekinian. Pikiran dan badan kita berada pada saat ini dan di sini. Orang yang bisa makan jeruk dengan kesadaran penuh, dapat mengalami hal yang tak dialami oleh yang lain. Orang yang sadar, dapat melihat semua itu terkait dengan pohon jeruk, mekarnya bunga jeruk, cahaya matahari yang menerpa dan hujan yang menyuburkannya. Melihat dengan mendalam, seseorang akan melihat ribuan hal yang membuat kehadiran jeruk itu sampai ke hadapannya sehingga melihat indahnya alam semesta dan bagaimana semua itu saling terkait satu sama lain. Seperti halnya buah jeruk terdiri dari beberapa lapis, satu hari juga terdiri atas 24 jam. Karena itu jalan untuk makan jeruk dengan penuh kesadaran juga sama dengan menghayati hidup setiap jam ; pikiran dan badan kita berada di dalam momen tersebut.

Dengan demikian maka kita sungguh menjadi praktisi kehidupan ! Karena itu makan jeruk, bisa disebut sebagai Jalan Kesadaran ‘ Path of Awareness’ sebagai ‘ Spiritual Path ‘ sehingga hidup ini tidak disalahtafsirkan hanya sekedar untuk mampir minum saja atau ujian yang harus diselesaikan buru-buru karena adanya kepercayaan mengejar kebahagiaan di surga atau takut masuk neraka. Sebaliknya adalah bila makan jeruk dengan tanpa kesadaran penuh, kita tidak tahu bahwa sedang hidup, kita tidak mengalami hidup karena pikiran dan badan kita tidak berada dalam kekinian.

Inilah rahasianya yang membuat orang di Barat, seperti ditulis oleh Prof. Huston Smith dari Massachusetts Institute of Technology dalam The Three Pillars of Zen “ , merasa bingung memahami phenomena orang yang justeru percaya bahwa hidup ini kosong dan non-self, tapi etos kerjanya bisa sedemikian kuat sehingga di dalam sejarah bisa membuat berkembangnya kebudayaan : seni ukir, lukis, kaligrafi, membuat taman, merangkai bunga, seni berperang, seni memimpin dan sebagainya The Tao of …….. , Inilah landasan sesungguhnya bagi Process Oriented Manajemen

Silently a flower blooms, in silence it falls away ;

Yet here now, at this moment, at this place,

The whole of the flower, the whole of the world is blooming.

This is the talk of the flower, the truth of the blossom ;

The glory of eternal life is fully shining here.

( Zenkei Shibayama )

Melatih Ayam Aduan ( Chuang Tzu , abad ke 3 –4 BC) dan Manusia yang Damai

Syahdan hiduplah seorang raja yang mempunyai hobi adu ayam. Pada suatu hari ayamnya diserahkan pada seorang pelatih untuk dipersiapkan dalam musim adu ayam yang akan datang. Ia bertanya kepada si pelatih : “ Berapa waktu yang diperlukan ? “, dijawab : “ Kira –kira satu bulan !”. Sebulan kemudian ia datang tapi pelatih berkata : “ Yang Mulia, masih belum siap karena masih berangasan, sangar, kalau melihat ayam lain selalu meronta-ronta mau menyerang. Datanglah minggu depan !”. Sang raja berkata : “ Bukankah itu pertanda ia sudah siap tempur ? “. Sebulan kemudian ketika raja datang dan bertanya, mendapatkan jawaban : “ Belum, kepala dan matanya masih jelalatan kalau melihat ayam lain lewat atau mendengar kokokannya. Datanglah minggu depan !”. Sang raja tambah bingung karena bukankah itu pertanda kesiapan bertanding. Ketika raja datang lagi, masih mendapatkan jawaban yang sama : “ Belum yang Mulia ….meski sudah lebih tenang, tapi bulunya masih terangkat kalau mendengar kokok ayam di kejauhan. Datanglah minggu depan !”

Ketika datang lagi, dan dijawab : “ Baru hampir siap untuk bertanding ! “, Ia merasa penasaran dan ingin melihat kondisi sebenarnya. Ternyata nampak seperti ayam dari kayu, tenang dan tidak menunjukkan indikasi adanya semangat untuk berkelahi. Lalu raja bertanya : “ Bagaimana ini bisa disebut hampir siap bertanding ? Coba saya ingin bukti !”. Memang ketika ayam itu dilepas di antara ayam yang lain, maka begitu ia berkokok , semuanya kabur meninggalkannya.

Sang Raja terheran-heran dan bertanya kepada sang pelatih, yang sebenarnya adalah seorang Taoist Master dan mulailah ia menceriterakan apa yang terjadi : “ Ayam yang masih berangasan, menunjukkan belum percaya diri. Ketika rasa percaya dirinya semakin tumbuh, dia jadi semakin kalem sehingga dengan penampilannya saja sudah membuat lawannya merasa jeri, meski tidak menggunakan gerakan apapun dan tidak perlu berkelahi. Ia menjadi mahluk yang matang ! “. Lalu Sang Raja bertanya : “ Kalau itu bisa dilatih pada binatang, bagaimana sekarang melatih manusia ? “

Sang Pelatih itu mulai berceritera : “ Belajar ilmu silat dan juga manajemen harus dimulai dengan belajar tentang teknik berkelahi sebagai langkah awal , sedangkan memahami bagaimana tidak perlu berkelahi adalah memahami akhir. Bilamana seseorang telah bisa mengintegrasikan kebajikan kedalam hidupnya, maka tidak perlu lagi berkelahi. Kalau ada orang yang berkata : untuk menguasai musuh kamu tidak memerlukan teknik atau kekuatan fisik, pasti orang akan meragukannya. Kalau ada yang meminta anda mendengar dengan hati, bukannya telinga, atau melihat dengan mata tertutup, supaya bisa melihat dengan baik maka anda akan bertanya : lalu apa gunanya Tuhan menciptakan kuping dan mata ? Kalau kamu masih melihat dengan mata terbuka dan mendengar dengan kuping, maka kamu masih seperti ayam jantan yang belum matang dan berkembang. Pikiran yang matang adalah sebaliknya : mendengar tapi tidak langsung menginterpretasikan . Pikiran yang matang tidak terfokus pada suara yang terdengar saja, tapi menangkap konotasinya. Pikiran yang matang, mendengar dalam keheningan dan hanya karena hening itulah maka ia bisa berkembang “

Khasanah budaya timur sarat dengan latihan spiritual yang perlu untuk melatih kepemimpinan di tengah dunia yang terus berubah. Tapi sayang sekali belum disadari bisa menjadi komplementer dengan pendidikan sekarang yang berbasis pada intelektual

Masih tulisan Paul de Blot SJ dalam kesimpulannya mengatakan : “ Gambaran manusia utuh, berbudaya, spiritual dan yang saling bersahabat merupakan juga inspirasi bagi manajemen. Sesuai dengan perjalanan evolusi gambaran mengenai manusia sempurna, kiranya cocok bagi bentuk organisasi di masa depan. Gambaran manusia sempurna ini sampai sekarang masih banyak didominasi oleh nilai-nilai Barat, tetapi semakin banyak akan diperkaya dengan nilai-nilai Timur dan budaya dari benua Asia, Afrika, Amerika Tengah dan Selatan, dan Timur Tengah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s