Epistemologi Islam

Resensi Buku

Oleh: Moh Yasin*)

Judul Buku : Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam

Penulis : Dr. Mulyadhi Kartanegara

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : Pertama, 2003

Tebal : xxxvi + 188 halaman

SEBAGAI kajian filosofis, epistemologi (teori pengetahuan) secara umum belum mencapai tingkat kajian yang memadai di negeri ini. Beberapa buku tentang epistemologi yang ditulis oleh sarjana Indonesia masih belum betul-betul menyentuh atau mewakili intisari epistemologi, karya Prof. Juhaya S. Praja misalnya, tidak berbicara tentang epistemologi Islam yang lebih komprehensif sebgaimana yang disajikan oleh para Filosuf muslim. Dan beberapa buku lain yang pembahasannya masih bersifat deskriptif tanpa adanya analisis perbandingan atau kritik.

Meskipun demikian, harus diakui bahwa kajian epistemologi dan filsafat ilmu (epistemologi Barat) secara umum sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kajian epstemoligi Islam. Sehingga tidak mengherankan jika wacana ilmiah begitu didomonasi oleh Barat, dan kebanyakan sarjana kita hanya mengerti teori ilmu pengetahuan Barat jarang sekali yang dengan serius mendalami teori-teori ilmu pengetahuan Islam.

Tidak salah jika kemudian di dunia keilmuan muncul Distorsi oleh epistimologi Barat terhadap epistemologi Islam, dalam penggunaan kata science yang dibedakan dengan knowledge mislanya, telah melahirkan perbedaan yang fundamental antara teori pengetahuan Barat dengan teori pengetahuan Islam. Sehingga diperlukan suatu kejelasan dalam perbedaan yang fundamen tersebut karena jika tidak bisa menimbulkan kekaburan dan kesalahpahaman yang mendalam terhadap keduanya.

Lewat karyanya yang berjudul “Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam” yang berpijak pada karya sebelumnya “Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam” Mulyadhi mencoba mendedahkan perbedaan fundamen dalam teori pengetahuan tersebut dan mendialogkan diantara keduanya secara kreatif dan kritis yang diharapkan mampu melahirkan epistemologi alternatif. Dalam mengawali karyanya Mulyadhi ingin menjelaskan tentang konsep-konsep kunci dalam wacana epistemologi, seperti sains, ilmu, opini, filsafat, agama, indra, akal dan hati. Definisi “sains”yang biasanya disamakan dengan pengetahuan (knowledge) bagi Mulyadhi tidak pernah memiliki suatu kejelasan, seperti peletakan science dengan ilmu, istilah ilmu terkadang dipandang sama dengan sains, tapi kadang justru disamakan dengan knowledge atau “pengetahuan”.

Istilah ilmu pengetahuan terkadang juga dipakai untuk merujuk sains yang dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Menurut Mulyadhi istilah ilmu dalam epistemologi Islam memiliki kemiripan dengan istilah science dalam epistemologi Barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi Barat dibedakan dengan knowledge, ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan opini (ra’y) sementara sains dipandang sebagai any organized knowledge, ilmu didefinisikan sebagai “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”(hal. 1).

Dengan demikian istilah ilmu bukan sembarang pengetahuan atau opini melainkan pengatahuan yang sudah teruji kebenarannya, dan Mulyadhi mendefinisikan ilmu sebagai “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Ilmu dalam kajian epistemologi Barat penerapannya dibatasi pada bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan dalam epistemologi Islam ia dapat diterapkan dengan sama validnya baik ilmu-ilmu yang yang fisik-empiris maupun nonfisik atau metafisik. Perbedaan yang fundamen inilah barangkali yang perlu dijelaskan dalam kajian epistemologi menurut Mulyadhi, karena jika tidak akan membawa pada kekaburan dan kesalahpahaman dalam kajian teori pengetahuan (epistemologi).

Paling tidak ada dua pertanyaan yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap sistem epistemologi manapun: pertama, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, bagaimana mengetahuinya? Dimana yang pertama mengacu pada teori dan isi ilmu, sementara yang kedua pada metodologi.

Pertanyaan apa yang dapat kita ketahui? Epistemologi Barat memberikan jawaban bahwa yang dapat kita ketahui adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi secara indrawi. Hal-hal lain yang bersifat nonindrawi, nonfisik dan metafisik tidak termasuk ke dalam objek yang dapat diketahui secara ilmiah. Sedanngkan dalam epistemologi Islam kita bisa mengetahui tidak sebatas pada obyek-obyek fisik namun juga nonfisik. Sehingga dalam menentukan keberadaan sesuatu atau status ontologis sesuatu Barat hanya percaya pada benda-benda yang dapat dicerap oleh indra dan cenderung menolak status ontologis dari entitas-entitas nonfisik seperti ide-ide matematika, konsep-konsep mental dan entitas-entitas imajinal dan spiritual. Berbeda dengan Barat, Islam mengakui status ontologis tidak terbatas pada obyek-obyek indrawi melainkan juga obyek-obyek nonindrawi.

Untuk pertanyaan kedua, berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan yang pertama metode ilmiah yang dikembangkan oleh para pemikir dan filosuf Barat hanya menggunakan satu metode yaitu metode observasi. Sementara Islam menggunakan tiga macam metode sesuai dengan tingkat atau hierarki obyek-obyeknya, yaitu (1)metode observasi, (2)metode logis atau demonstratif (burhani) (3)metode intuitif (‘irfan) yang masing-masing bersumber pada indra akal dan hati. Setiap cabang ilmu yang dihasilkan oleh epistemologi tidak akan pernah mencapai status ilmiah yang pas kecuali status ontologis obyeknya jelas dan dapat diakui.

Berdasarkan uraian di atas jelas klasisfikasi ilmu yang ada di Barat akan selalu didasarkan pada satu hal yaitu empiris-observatif ditambah dengan bidang ilmu matematika, tapi secara tegas menolak bidang metafisika yang obyek-obyeknya sering dipandang tidak riil dan ilusif. Sedangkan dalam Islam yang mengakui adanya status ontologis yang tidak terbatas pada fisik-empiris melainkan juga yang nonempiris atau metafisis, dalam teori pengetahuan Islam ilmu dibagi menjadi tiga klasifikasi yaitu: ilmu-ilmu metafisika, ilmu-ilmu matematika, dan ilmu-ilmu alam atau fisik.

Selain beberapa hal yang telah dijelaskan diatas tentang sumber pengetahuan dalam epistemologi Islam, pengalaman mistik, penalaran rasional dan filsafat kenabian dalam teori pengetahuan Islam juga termasuk sumber pengetahuan. Bukan bermaksud membenci atau anti sains Barat, begitulah pembelaan yang diungkapkan Mulyadhi dalam kajian buku pengantar epistemologi ini, dan baginya tidak lain hanya mencoba bersikap kritis dan apresiatifnya terhadap sains Barat.

Dengan jalan membandingkannya dengan epistemologi lain yang dalam hal ini adalah epistemologi Islam yang diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan yang lebih baik atau sering kita harapkan yaitu munculnya epistemologi alternatif. Buku pengantar yang ditulis atas hasil perkuliahan penulis bersama para mahasiswanya di Pasca Sarjana IAIN SU-KA ini paling tidak menjadi terobosan awal dalam kajian epistemologi (teori pengetahuan) yang di negeri ini masih sangat minim dan belum mapan. Dimana dengan mengkaji teori pengetahuan secara kritis dan komprehensif serta komparatif nantinya diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan alternatif yang lebih baik.

Moh. Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta. A branch of ICAS-London

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s