Visi Spiritualitas Posmo

Visi Spiritualitas Postmodern

Oleh: Moh. Yasin

Krisis spiritual modern berakar dari pandangan dunia modern bahwa suatu sistem sosial diharuskan bebas dari masalah-masalah spiritual, keterikatan sistem-sistem sosial dianggap bersifat biologis, ekonomis dan mekanis. Perubahan sosial yang dilandaskan pada prinsip-prinsip spiritual dianggap hanya sikap reaksioner belaka. Bagi modernisme perubahan sosial yang bermakna meaning fulI hanya bisa diwujudkan dengan cara-cara yang bersifat eksternal, dengan berlandaskan sikap liberal dan sekuler.

Hal itu karena worldview modern cenderung bersifat dualistik, mekanistik, individualistik, dan deistik, dengan mengagung-agungkan ilmu-ilmu yang bersifat empiris, pragmatis dan positivis, yang diusung lewat marxisme dan liberalisme. Sehingga spiritualitas dan agama dalam dunia modern tidak lagi menjadi pusat perhatian, bahkan modernisme menganggap agama dan spiritualitas sebagai “ilusi” atau “candu” dan menjadi penghambat bagi kemajuan zaman.

Dalam konteks ini worldview postmodern dengan paradigma barunya ingin menelaah secara mendalam worldview modernisme dan kemudian mengkritisinya, lantas memberikan sebuah tawaran worldview baru yang koheren dan integral, dengan berusaha memadukan keyakinan religius tradisional dengan rasionalitas. Worldview yang diusung para pemikir postmodern Whiteheadian bersifat rekonstruktif atau refisionis dan berusaha keluar dari perangkap postmodern yang dekonstruktif-nihilistik ala Jacques Derrida.

Worldview potmodern mengusung kesadaran baru bahwa spiritualitas menjadi satu-satunya harapan untuk merubah suatu sistem sosial menuju yang lebih postif atau kehidupan yang lebih bermakna. Kesadaran baru ini tidaklah bersifat ekstrim atau tidak netral, akan tetapi menjadikan spiritualitas dan sistem sosial sebagai dua hal yang memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan.

Tulisan ini ingin memaparkan dan mengkaji visi spiritualitas postmodern dengan bertitik tolak pada pandangan postmo terhadap sifat-sifat (nature) dan makna kehidupan dalam pandangan postmodern, dengan menitikberatkan pada permasalahan spiritualitas dan masyarakat. Selanjutnya dari titik tolak tersebut penulis berusaha memetakan spiritualitas postmodern.

Pemetaan visi spiritualitas postmodern tersebut merujuk pada hasil sebuah konferensi “toward a postmodern world” di Santa Barbara pada tahun 1987. Yaitu, merujuk pada para pemikir postmodern yang bercorak Whiteheadian seperti David Ray Griffin, Joe Holland, Charlen Spretnak, Richard A. Falk, Frederick Ferre, dan sebagainya. Pemikiran mereka ini telah dibekukan dalam sebuah buku yang berjudul Spirituality and Society: Postmodern Visions.

Spiritualitas Modern

Para pemikir postmodern Whiteheadian menggambarkan bahwa spiritualitas modern pada dasarnya di awali dengan spiritualitas yang bersifat dualistik dan supernaturalistik, kemudian di akhiri dengan spiritual semu (pseudospiritual) atau bahkan anti spiritual. Sementara spiritualitas postmodern mencoba menelaah dan mengkritisi spiritualitas modern, kemudian berusaha kembali pada spiritualitas murni sambil menengok unsur-unsur spiritualitas pramodern.

Individualisme radikal merupakan tahapan awal spiritualitas modern dan menjadi ciri paling menonjol dari pemikiran modernisme. Secara filosofis individualisme radikal menolak bahwa diri pribadi manusia secara internal berhubungan dengan hal-hal lain, dengan sesama manusia, alam, bahkan dengan Sang Pencipta sekalipun. Sehingga manusia untuk menjadi dirinya tidak memerlukan apapun selain dirinya sendiri. Dengan individulisme radikal modernisme mengartikan masyarakat sebagai sebuah kumpulan antar individu yang bebas demi tujuan-tujuan tertentu. Begitu juga dengan moralitas dan waktu, modernisme menyikapinya dengan individulisme radikal. Sehingga sikap yang bebas dan individulistis menjadi coraknya.

Pada dasarnya individualisme radikal berakar dari dualisme yang digagas oleh Rene Descartes, bahwa ada perbedaan mutlak antara jiwa dengan badan, materi dan spiritual. Sementara deisme sebagai jembatan paham teisme dengan ateisme merupakan tahapan kedua spiritualitas modern setelah dualisme dan individualisme. Dalam perkembangannya deisme melahirkan paham supernaturalisme dan sekularisme.

Spiritualitas modern yang individualistik, dualistik dan deistik tersebut berimplikasi pada pola, perilaku dan pandangan masyarakat modern. Para pemikir postmodern menilai bahwa spiritualitas modern yang individualistik, dualistik dan deistik menjadikan pola hubungan antar individu yang semula bersifat face-to-face menjadi semakin terbatas, struktur-struktur yang menjadi pengantar hubungan antar masyarakat musnah, akibat adanya sentralisasi dan dikotomisasi. Dari sudut pandang materialisme, modernisme menganggap manusia sebagai homo oeconomicus, sehingga hubungan sesama manusia dan lainnya atas dasar materi dan menjadi yang paling utama, sementara hubungan antara manusia dengan sesama, alam, Tuhan adalah yang kedua.

Spiritualitas Postmodern

Berbeda dengan spiritualitas modern, spiritualitas postmodern bersifat monistik, organistik, relasionalistik dan pananteistik. Jika dengan individualisme radikal dunia modern menganggap hubungan manusia dengan lainnya bersifat eksternal, kebetulan, dan turunan. Spiritualitas postmodern menggambarkan hubungan antara manusia dengan manusia atau dengan lainnya bersifat internal, esensial dan konstitutif. Pola ini menjadi tahapan awal spiritualitas postmodern.

Tahap spiritualitas postmodern yang kedua adalah organisisme, dengan organisisme, para pemikir postmodern mentransendensikan materialisme dan dualisme modern. Sehingga pandangan antara manusia dengan manusia atau manusia dengan lainnya tidak lagi atas tendensi ingin menguasai dan mengeksploitasi, melainkan sebagai kesatuan dan kebersamaan yang egaliter.

Sementara jantung dari spiritualitas postmodern adalah pembahasan mengenai hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Spiritualitas postmodern menolak pandangan modernisme dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya yang bersifat dualistik, materialistik, supernaturalisme ateistik. Spiritualitas postmodern berpandangan bahwa hubungan manusia dengan Tuhannya bersifat pananteisme naturalistik (keilahian ada dalam dunia dan dunia ada dalam keilahian). Pananteisme naturalistik ini diyakini oleh para pemikir postmodern akan mampu mengatasi nihilisme dalam modernisme.

Meskipun demikian, dengan spiritualitas baru yang diusungnya, secara teoritis para pemikir postmodern belum bisa menggambarkan masyarakat yang ideal versi posmo. Mereka baru mampu memberi respon terhadap masalah-masalah realitas sosial di masyarakat dalam bentuk sikap kritik dan terkesan reaksioner. postmodern belum bisa memberikan tawaran baru mengenai masalah-masalah sosial saat ini, Seperti politik, ekonomi, teknologi, pertanian, terorisme dan sebagainya.

Postmodernisme dengan teori dan visi yang dikonstruknya baru mampu meraba-raba masalah-masalah yang kompleks tersebut.Pada dasarnya yang menjadi persoalan pandangan postmodern adalah penjabaran ke arah yang lebih jelas konsep spiritualitas, teologi dan worldview baru yang ditawarkannya. Para pemikir postmodern Whiteheadian belum mampu menjelaskan kerangka teologisnya ke dalam mainstream baru yang dibangunnya. Namun, di tangan para pemikir, pandangan postmodern ini bisa menjadi diskursus yang menarik, segar, dan menantang di tengah fenomena yang begitu kompleks.

Moh Yasin. Mahasiswa master program of ICAS-Paramadina Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s