Resensi Buku: “Dan Tuhan tidak Bermain Dadu”

Runtuhnya interpretasi teori materialisme ateistik

Oleh :Moh. Yasin

Judul Buku : Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu
Judul Asli : God, Chance And Necessity
Penulis : Keith Ward
Penerjemah : Larasmoyo
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : Pertama, 2002
Tebal : 287 halaman

TAMPAKNYA sebagian besar para pengkaji asal muasal kosmos sepakat bahwa alam semesta bersumber dari sesuatu di luar dirinya, yang nonfisik, memiliki inteligensi dan kekuasaan yang tinggi. Bahkan, hampir seluruh filosof klasik ternama dari Plato, Aristoteles, Leibniz, sampai Barkeley, melihat bahwa alam semesta berasal dari suatu realitas yang transenden. Walaupun mereka memiliki gagasan yang berbeda dan teori yang berbeda, namun bahwa alam semesta tidak dapat dijelaskan pada dirinya sendiri dan harus dijelaskan oleh sesuatu yang di luar dirinya bagi mereka adalah gagasan yang wajar diterima. Dan para teolog-pun sepakat bahwa obyek yang disembahnya (Tuhan) adalah sebagai pencipta alam semesta beserta isinya.

Namun, seiring dengan perkembangan pemikiran sains. Terjadi sebuah pergeseran paradigma yang tidak dapat dihindari, sehingga pada awal abad modern hingga sekarang pemikiran seperti itu sering diklaim sebagai suatu pemikiran yang sudah kedaluarsa. Teori tentang penciptaan tidak dibutuhkan lagi, serta kebenaran ilmiah sangat bertentangan dengan agama.

Hal ini diwarnai dengan munculnya tradisi pemikiran ateis yang berpuncak pada seorang Filsuf eksistensialis Jerman yaitu Nietsczhe, dengan khutbahnya yang populer tentang kematian Tuhan. Sementara dibidang humaniora muncul sosok Karl Marx yang menafsirkan roh absolut Hegel menjadi semata-mata bersifat materialis dan mendiskualifikasikan Tuhan dalam kehidupan manusia, ia menganggap bahwa agama sebagai candu belaka. Dan dibidang psikologi muncul Sigmund Freud yang berkeyakinan bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan tidak ubahnya hanya sebuah pelarian manusia dari ketidak berdayaannya dalam memahami realitas yang ada.

Serta munculnya aliran materialisme dan naturalisme evolusioner semakin memperkuat pandangan kaum ateistik, dengan tokoh sentralnya Darwin dengan teori evolusinya dan Werner Heisenberg dengan teori kuantumnya. Charles R. Darwin dengan teori evolusinya mengatakan, manusia hanyalah hasil evolusi yang dipengaruhi oleh keadaan lingkungan alam. Secara eksplisit teori Darwin menjelaskan bahwa manusia terlahir dari induk yang sama yaitu: “kera”, yang mana mampu menghilangkan istilah roh sebagai esensi dalam diri manusia. Begitu juga dengan alam semesta ia ada karena sebuah proses evolusi. Dan teori kuantum menggambarkan bahwa pada sekala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya, peristiwa-peristiwa fisik merupakan kebetulan tanpa sebab(hal. 17).

Jacques Monod lewat bukunya yang berjudul, Le hasard et La Necessity, mengatakan bahwa manusia dan makhluk hidup yang lainnya merupakan produk dari rangkaian kebetulan belaka. Sebelum munculnya teori kuantum satu-satunya hal yang membedakan manusia dengan yang lainnya adalah kebebasan manusia, dan teori kuantum meruntuhkan pandangan ini. Pandangan ini semakin lemah dengan teori Jacques Monod dimana ia meletakkan kebebasan manusia dalam rangkaian kebetulan-kebetulan teori evolusi. maka kemudian materialime dan ateisme mendapatkan dukungan ilmiah yang begitu kuat.

Teori kuantum yang di gagas pertama kali oleh Werner semakin berkembang dan semakin radikal ketika berada dalam pemikiran Stephen Hawking dan James Hartle. mereka menganggap bahwa jagad raya tidaklah berawal dari sebuah singularitas awal melainkan sebuah lengkungan waktu. Dimana kemudian muncul seorang ahli kimia dari Inggris Atkins, lewat bukunya yang berjudul “Creation Revisited”mengatakan bahwa alam semesta muncul secara kebetulan dari ketiadaan, dan bukan hasil dari ciptaan yang berencana. Oleh karenanya Tuhan tidak dibutuhkan lagi sebagai perancangnya(hal. 20).

Tentunya pandangan ini sangat bertentangan dengan ajaran agama dan pandangan para pengkaji serius alam semesta terdahulu, serta menafikan doktrin agama yang selama ini diyakini. Dan sejak itulah agama sering diramalkan tidak akan bisa mempertahankan eksistensinya.

Dr. Keith ward seorang profesor dan pendeta gereja terkemuka di Inggris, lewat bukunya yang semula berjudul “God, chance and necessity” dengan keluasan wawasannya yang mengagumkan. Ia menghayati serta memahami pemikiran para saintis yang ateistik dan kemudian menjawab serta menguji kelogisan argumentasi mereka lewat tafsiran organisme holistiknya berdasarkan filsafat mendiang Alfred North Whitehead.

Ward sebenarnya tidaklah melawan sains, interpretasi ideologis yang dibungkusnya atau paradigma filosofis yang mendasarinya serta kesalahan penafsiran para saintislah yang coba ia luruskan. Karena penafsiran teori kosmologi kuantum dan teori evolusi biologis, oleh para ilmuan sering dianggap sebagai kebenaran ilmiah. Padahal itu hanya pandangan beberapa gelintir saintis saja.

dalam teori kosmologi kuantum dimana alam ada dari ketiadaan sebagaimana yang ditelorkan oleh Heisenberg. Di sini justru Ward bertanya, jika memang teori kosmologi kuantum itu benar, pertanyaannya kemudian adalah di manakah hukum-hukum alam yang dinyatakan oleh persamaan matematik teori tersebut berada sebelum alam semesta muncul? tentunya tidak mungkin dalam ketiadaan karena hal ini kontradiksi logis. Dan tidak mungkin sesuatu itu ada dalam ketiadaan.

Pandangan kaum materialis yang menyatakan bahwa hukum alam tidak lain dari sifat-sifat materi di alam semesta justru meruntuhkan teori kosmologi kuantum dan memperkuat pandangan teisme yang berkeyakinan bahwa alam semesta ada berkat ciptaan Tuhan.
Interpretasi materealistik atas teori evolusi mengatakan bahwa seleksi alam adalah kekuatan yang mengarahkan pada perkembangan evolusioner dengan menyeleksi fariasi hasil mutasi dan rekombinasi acak yang sesuai dengan lingkungan pada akhirnya memilih manusia dengan kesadaran moralnya yang bebas sebagai suatu kebetulan. Dan tentu hal ini bertentangan dengan agama yang berkayakinan bahwa manusia diciptakn sebagai kholifah di bumi dan memiliki suatu tujuan(hal. 22).

Interpretasi seperti ini justru menurut Ward adalah sangat kontradiktif. Dan kemaun bebas serta manusia yang berpikir tidak mungkin di hasilkan dari evolusi acak. Kesadaran bebaslah sebenarnya yang menjadi tujuan evolusi semesta sementara evolusi biologis hanyalah merupakan perantara bagi evolusi semesta sebagai manifestasi kreatifitas Tuhan.

Apa yang dilakukan Ward sebenarnya tidaklah meruntuhkan teori kosmologi kuantum maupun teori evolusi, karena yang dilawan Ward adalah interpretasi materealistiknya sementara secara ilmiah teori bisa runtuh jika bertentangan dengan kenyataan empiris dan realitas yang baru.
Dan Ward dalam hal ini mencoba menepis terhadap dikotomi antara sains dan agama dimana agama dipandang berseberangan dengan sains sebagaimana tafsiran yang dilakuan oleh kaum materealisme ateistik.

Secara teoritis munculnya ateistik dan materialistik tidak lepasa dari kerangka kerja ilmiah yang mereka gunakan sebagaimana dikatakan oleh Holmes Roltson III. Pemikiran mereka telah mengalami “sekularisasi” yang mana ini di awali oleh para ilmuan modern. Dahulu penjelasan ilmiah harus meliputi empat sebab sebagaimana yang diungkapkan Aristoteles yaitu: efisien, materil, formal dan final. Sementara para ilmuan modern melepas sebab formal dan final karena dianggap berkenaan dengan makna, padahal kajian ilmiah harus hanya berkaitan dengan fakta dan realitas. Yang mana menurut mereka dimensi makna berkaitan dengan kepercayaan atau agama.

Maka tidak mengherankan jika kemudian banyak para ilmuan brilian yang masih mengakui eksistensi Tuhan. salah satunya adalah Albert Einstein dengan ungkapan metaforiknya yang terkenal tentang ciptaan alam semesta”Tuhan tidak bermain dadu”. Yang kemudian menjadi judul buku yang ada di tangan pembaca ini.

Mungkin bisa di katakan buku ini adalah sebagai buku tandingan dari bukunya seorang saintis yang pernah meraih Nobel 1965 pada bidang fisiologi dan kedokteran, yang berjudul Chance and Necessity yaitu Jacques Monod, dalam bukunya ia menjelaskan bahwa”hanya kebetulanlah yang merupakan sumber setiap inovasi dan setiap kreasi di dalam biosfera. Kebetulan murni, yang mutlak bebas tetapi buta, itulah yang berada pada akar bangunan besar bernama evolusi”. Dimana pada saat itu mampu menggesar paradigma pemikiran dan mementahkan teori-teori yang berkembang pada saat itu.****

*) Moh. Yasin, mahasiswa Master Program of Islamic Philosophy of ICAS-Paramadina Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s