DI SAMPING TEORI REPRESENTASI, KITA MEMERLUKAN TEORI PRESENTASI

Abdul Hadi W. M.

abdul_hadi062.jpgDewasa ini kita tidak hanya memerlukan teori representasi untuk disiplin ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan (humaniora), tetapi juga teori presentasi. Dalam teori presentasi bukan hanya gejala atau fenomena dalam kehidupan masyarakat/manusia yang direproduksi dan disajikan kembali, tetapi juga pandangan hidup (way of life), pandangan dunia (worldview), sistem nilai dan kepercayaan (terhadap kehadiran Yang Trasenden) yang dijadikan acuan dan sasaran refleksi, reproduksi, dan presentasi. Semua itu merupakan asas batin atau asas metafisika dari kebudayaan, bentuk-bentuk kehidupan sosial, serta dasar yang memberi corak cita-cita kemasyarakatan dan kebudayaan suatu masyarakat.

Asas-asas metafisika dari kebudayaan, cita-cita, dan tatanan sosial ini tidak hanya hadir dalam peristiwa-peristiwa sosial dan politik, perilaku ekonomi dan kenegaraan, tetapi juga dalam ungkapan-ungkapan keruhanian dan kejiwaan seperti karya seni, sastra, pemikiran keagamaan, konsep ilmu, pemikiran filsafat, kearifan lokal, adat istiadat, upacara keagamaan, dan lain sebagainya. Begitu pula kerinduan masyarakat untuk mencapai apa yang mereka dambakan itu mendorong lahirnya berbagai organisasi sosial, keagamaan, kebudayaan, dan lain sebagainya. Semua itu termasuk ke dalam lingkup dan ufuk kajian teori presentasi.

Dalam teori presentasi (sosial dan kemanusiaan) asas batin atau metafisik ini perlu dikaji karena bertalian langsung dengan bentuk-bentuk tanggapan masyarakat terhadap realitas di sekitarnya, dan cara mereka menjelmakan diri di tengah pergaulan dengan kelompok masyarakat yang berbeda-beda. Tanggapan suatu masyarakat terhadap perubahan dalam sistem pemerintahan, politik, ekonomi, atau kecenderungan-kecenderungan baru dalam pola hidup, budaya popular, dan lain sebagainya yang timbul sebagai dampak dari modernisasi dan globalisasi, hanya dapat dipahami dan disikapi dengan melihat sejauh mana cita-cita dasar dan pandangan hidup, serta nilai-nilai yang mereka yakini, dapat dipertahankan atau harus ditransformasikan. Dengan cara bagaimana pula nilai-nilai, pandangan hidup, dan pandangan dunia itu harus ditransformasikan, atau dirawat serta dipertahankan.

Selama ini dunia ilmu pengetahuan didominasi oleh ilmu-ilmu dan teori-teori yang lahir dari tradisi neo-positivisme. Sebagian lagi mulai dipengaruhi oleh pandangan dekonstruktif posmodernisme. Keduanya ternyata hanya menghasilkan generasi terpelajar yang benar-benar tercerabut dari akar budayanya, bahkan generasi yang kosong kesadaran sejarah. Secara langsung atau tidak langsung semua itu dibentuk oleh narasi besar yang digaungkan oleh neo-positivisme. Narasi besar neo-positivisme itu bisa diringkas menjadi empat pokok berikut: Pertama, Tuhan dan Realitas Hakiki itu tidak ada, setidak-tidaknya keberadaan-Nya disangsikan. Kedua, alam semesta bergerak secara mekanistis, teratur, dengan hukumnya sendiri. Kehidupan manusia juga demikian. Yang menggerakkan ialah ketentuan-ketentuan masyarakat yang hadir sebagai sebagai hukum besi yang tidak terelakkan beserta norma-norma, konvensi, sistem budaya, hukum yang berlaku, dan lain-lain. Ketiga, akal pikiran dan pengalaman empiris diyakini dapat membantu manusia memahami gejala kehidupan dalam alam, masyarakat, dan teks-teks budaya yang merupakan ungkapan kejiwaan dan keruhanian manusia.

Manusia sebagai subyek yang sadar ditendang ke luar. Apalagi sebagai subyek transendental. Habermas mengeritik teori-teori neo-positivistik itu sebagai etnosentrik, karena perangkat-perangkatnya dan asas epistemologisnya dibangun berdasarkan norma-norma dan konvensi yang berlaku dalam masyarakat Eropa. Dalam penelitian hanya pemikiran dan aliran pemikiran yang berkembang di Barat dapat dijadikan acuan, sedang bentuk-bentuk pemikiran (sosial, keagamaan, budaya, etika, estetika, keilmuan dll) yang lahir di luar tradisi Pencerahan dan positivisme Eropa dicampakkan dan dipandang tidak berguna dijadikan asas pembentukan teori sosial, kebudayaan, sastra, estetika, dan lain sebagainya.

Dalam teori presentasi semua yang dicampakkan oleh teori neo-positivisme, posmodernis, poskolonial, dan lain-lain itu dirangkul kembali, diteliti, dikaji, dicermati, dijadikan asas pertimbangan dalam memahami berbagai kecenderungan dan gejala yang hidup dalam masyarakat. Tradisi-tradisi intelektual yang lahir di luar tradisi Eropa, termasuk khazanah keilmuan, falsafah, kearifan, pemikiran keagamaan, sastra, dan lain-lain diberi tempat bukan sekadar di pinggiran, tetapi juga di sentral. Tradisi intelektual di luar Eropa yang dimaksud terutama tradisi-tradisi besar seperti Hindu-Buddha (India Jawa), Islam (Arab, Persia, Melayu), Konfusianis-Taois (Cina) dan lain sebagainya. Tradisi-tradisi besar ini bertemu dan bergaul dalam sejarah bangsa Indonesia, dan karena khazanah intelektualnya juga perlu dikaji untuk membangun teori sosial dan teori kebudayaan yang segar.

Sebagai teori yang terbuka, teori presentasi harus mampu menciptakan pendekatan yang simpati terhadap aneka gejala dan ekspresi budaya, memberi kemungkinan lahirnya dialog dan dialektika antara subyek dan obyek penelitian. Dikotomi subyek dan obyek dihilangkan, tidak ada pamrih untuk mengendalikan makna, dan memberi kemungkinan hadirnya obyek secara maksimal dalam pengalaman kita. Jadi kita memerlukan pengetahuan hudhuri, seperti dikatakan oleh filosof Persia abad ke-19 Mulla Sadra, yaitu pengetahuan tentang obyek yang benar-benar dialami kehadirannya dalam jiwa dan pikiran kita. Untuk ilmu seperti itu diperlukan perangkat-perangkat hermeneutika yang saling melengkapi. Kita bisa memadukan asas-asas hermeneutika Gadamer dan Ghazali, Paul Ricoeur dan Ibn `Arabi, Dilthey dan Abhinavagupta, Wang Fu Chih dan Schleiermacher, Heidegger dan Iqbal, Habermas dan Ali Syariati.***

One response to “DI SAMPING TEORI REPRESENTASI, KITA MEMERLUKAN TEORI PRESENTASI

  1. Saya ingin tahu lebih dalam mengenai teori presentasi, bisakah saya mendapatkan referensi tentang teori presentasi,
    terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s