Category Archives: Articles on Islamic Mysticism

Ilmu Menurut Ibn Arabi

Oleh: Dr. Haidar Bagir      

 Meski lebih sering menyamakan, Ibn ’Arabi menyebut pengetahuan sebagai ’ilm atau ma’rifah.

Yang terakhir ini biasanya lebih sering dipakai dalam hubungannya dengan pengetahuan spiritual, pengetahuan ketuhanan, atau pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu. Ma’rifah adalah ilmunya para ’arif, orang-orang yang telah sampai pada tingkat mengalami, bukan hanya mengetahui. Yakni, ’ulama yang bukan hanya tahu karena belajar, melainkan karena praktik (suluk). Inilah ilmunya orang-orang yang berakhlak dengan akhlak Allah. Ilmunya kaum sufi. Dengan demuikian, tasawuf adalah praktik-praktik membersihkan hati, melalui mujahadah dan riyadhah, demi meraih ma’rifah ini.

Continue reading

Agama-Agama Menurut Ibn ‘Arabi

oleh: Haidar Bagir

 Meski menganggap bahwa semua agama adalah kebenaran, namun Ibn ’Arabi berpendapat bahwa agama yang paripurna dan serba mencakup adalah agama Islam. Agama-agama lain diturunkan sesuai dengan konteks zaman dan kaum yang kepadanya agama itu diturunkan. Tidak demikian halnya dengan agama Islam. Agama terakhir, yang dibawa oleh Nabi terakhir, ini telah mencakup kesemua agama terdahulu.

Continue reading

Hirarki Wujud menurut Ibn ‘Arabi

Oleh: Haidar Bagir

 Dalam berbagai kepustakaan sufi, biasa dikutip sebuah hadis Qudsi yang biasa disebut sebagai hadits al-kanz. Hadis ini sangat sentral bukan hanya dalam menjelaskan penciptaan, melainkan juga “motif” Allah yang berada di balik penciptaan alam semesta.

Continue reading

Fitrah dan Kebahagiaan

Fitrah dan Kebahagiaan

”Dan hadapkanlah wajahmu dengan hanif kepada agama Allah. (Tetaplah atas) Fitrah Allah yang manusia diciptakan atasnya. Tak sekali-kali ada perubahan dalam ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus …” (QS. Ar-Ruum: 30)

Kata fitrah -bahasa Arab ”fith-rah”- berasal dari akar kata f-th-r. Arti kata ini adalah ”keawalmulaan sesuatu sementara sebelumnya sesuatu itu tidak ada”. Dengan kata lain, ”sesuatu yang tercipta untuk pertama kalinya dan tanpa preseden (contoh)”. Sinonimnya adalah al-khalq atau atau al-ibda’. Contohnya, air susu yang pertama kali keluar dari induk unta disebut sebagai “fithr”. Maka, dalam ayat di atas, fitrah berarti unsur manusia yang diciptakan pertama kali. Bukan itu saja, fitrah manusia itu tak pernah berubah sepanjang hidupnya -dengan kata lain, selama-lamanya. Bukan kebetulan juga bahwa makna lain kata fitrah adalah cetakan atau patrian, yang sekali dicetak atau dipatri, tak akan bisa diubah atau dilepaskan.

Continue reading

FROM PERENNIAL WISDOM TO DIALOGUE AMONG CIVILIZATIONS: A Muslim Perspective

FROM PERENNIAL WISDOM TO DIALOGUE AMONG CIVILIZATIONS

A Muslim Perspective

 

 

Haidar Bagir

 

We have made you into peoples and tribes,

So that you can get to know each other … 

(The Qur’an 49 :13, 7th century)

 

 

 

I am fully convinced that the West still needs the East to-day, as much as the East needs the West. As soon as the Eastern peoples have unlearned their scholastic and argumentative methods, as we did in the sixteenth century, as soon as they are truly inspired with the experimental spirit, there is no telling what they may be able to do for us, or, heaven forbid! against us.

(George Sarton, 1937)

 

 

The Ideals 

 

          As diagnosed by Prof. Seyyed Hossein Nasr of George Washington  University, any discussion about dialogue among civilizations has to start from knowledge about the essence of civilization. And Prof. Nasr would take us to the observation of Ananda Coomaraswamy who, in his article entitled “What is Civilization?”, has observed that civilization is not only related to city as meant by the etymology of the Latin word civitas. It actually involves the application of a world view, a particular vision of reality to a human collectivity. That is … of ways of looking at the world which determines how we evaluate things, how we see things, how we understand human life, the goal of existence, the spiritual quality which dominates over us.”

Continue reading

GUNUNG ES LIA AMINUDDIN

GUNUNG ES LIA AMINUDDIN

Haidar Bagir[*]

Kembalinya yang suprarasional dan supranatural di abad posmo ini barangkali  adalah salah satu di antara – meminjam istilah John Naisbitt – “paradoks global”. Jika mengikuti ramalan para filosof, sosiolog, atau antropolog yang menulis tentang agama, seperti Marx, Nietsche,Comte, Durkheim, Weber, Kahn, atau Sorokin, dan banyak lagi – maka seharusnya yang supranatural sudah lama pupus dari bumi manusia ini. Tapi, bukan hanya agama dan spiritualitas — apakah ia disebut mistisime, aliran New Age, atau Frontier Aquarian —  ribuan organisasi kultus (cultic organizations) pun menjamur di seluruh  bagian dunia. Kalau saya tak salah ingat, pada tahun 1974 saja Alvin Toffler telah mencatat bermunculannya  lebih dari 4000-an paguyuban  seperti ini di Amerika saja. Apa pasal?

Continue reading

Dari mana berawalnya tasawuf ?

Dari mana berawalnya tasawuf ?

Haidar Bagir
02:30pm 04 Julai 2005

Saya harus mengakui bahwa Alquran  mengandung benih-benih nyata tentang  mistisisme yang mampu untuk berkembang  sendiri secara autonomi tanpa perlu dibantu oleh pengaruh-pengaruh asing” (Louis Massignon).

Continue reading

The Greatest Achievement in Life

Buku Mysticism RD Kumpros

Buku Mysticism RD Krumpos

Di Tengah Kota Mencari Ketengangan Jiwa

tempo_sufi_kota_haidarb1-k
tempo_sufi-kota_haidar_b2-k

APOKALIPTISISME DAN TEOKRASI AMERIKA

APOKALIPTISISME DAN TEOKRASI AMERIKA

Abdul Hadi W. M.

Tidakkah kaulihat pemerintahan demokrasi di Barat

Yang kelihatan cerah? Namun kalau dijenguk lebih mendalam

Jiwa mereka sebenarnya lebih kelam dari Jengis Khan

(Iqbal dalam “Parlemen Setan” 1933)

American Theocracy (2006) karangan Kevin Phillips yang pernah diperdebatkan beberapa waktu lalu di harian Republika memang buku yang menarik dan relevan. Sayang, dalam perdebatan sesaat itu, masalah mendasar yang merupakan isi buku itu tidak dibahas secara mendalam. Kini adalah saatnya untuk membahas buku yang kontroversial dan membuat banyak pengamat politik terbungkam.

Ada tiga hal saling terkait dibahas Kevin Phillips. Pengalamannya sebagai ahli strategi politik Partai Republik selama lebih dua dasawarsa, ditambah pengetahuan yang luas tentang sejarah agama di Amerika, memungkinkannya dapat menjelaskan banyak hal berkaitan dengan pemerintahan Bush. Khususnya pengaruh fundamentalis Protestan terhadap politik luar negeri AS di Timur Tengah.

Pertama, berkaitan dengan kedudukan AS sebagai ‘imperialisme minyak’ (petro imperialism) yang berdampak buruk bukan saja bagi perdamaian dunia, tetapi juga merisaukan rakyat AS sendiri. Untuk mengamankan minyak dunia, AS harus menempatkan ribuan tentaranya di berbagai penjuru dunia yang dipandang strategis. Ini memerlukan biaya besar, yang sulit diramal sampai kapan bisa dipertahankan. Kedua, Philiips menguraikan panjang lebar kuatnya pengaruh fundamentalis Kristen yang radikal dalam pemerintahan Bush. Motif AS menduduki Afghanistan dan Iraq, memberikan dukungan penuh kepada Israel, dan mengancam Iran, bukan hanya disebabkan ingin menguasai minyak dunia. Motif lain yang tersembunyi bersifat keagamaan, yaitu keinginan untuk mewujudkan “impian apokaliptik” yang melekat dalam dogma Kristen fundamentalis. Ketiga, keleluasaan menggunakan kartu kredit selama beberapa tahun terakhir ini telah menyebabkan semrawutnya situasi keuangan AS.

Continue reading