Mematahkan Mitos Perempuan dalam Agama

Mematahkan Mitos Perempuan dalam Agama

 

Dr. Haidar Bagir

SAYA pernah membaca sebuah buku yang mengatakan  bahwa perempuan tidak  boleh bekerja.  Lalu, bila perempuan tetap bekerja, ini akan menimbulkan  ketidakrelaan suami.”

Ini adalah pertanyaan yang dilontarkan seorang  ibu kepada Haidar Bagir, Direktur Utama Mizan Publika dan ketua yayasan pendidikan Lazuardi Hayati, dalam acara kumpul para ibu-ibu pengajian di Jakarta dan sekitarnya, di Pasaraya Grande, Jakarta Selatan, Rabu (9/4) sore.

Acara ini juga didahului pergelaran busana Muslimah dan ditutup  demonstrasi memakai kerudung, seperti yang diselenggarakan di gedung yang sama. Ketika itu, Komaruddin Hidayat menjadi pembicara (Kompas, 9/2). Haidar Bagir diminta Ratih Sanggar sebagai pemandu acara membawakan tema  perempuan dalam Islam.

Sejak awal, kandidat doktor dalam bidang filsafat Islam ini langsung  memfokuskan diri pada pematahan tentang mitos-mitos yang banyak  berkembang tentang perempuan di dalam Islam, yang banyak  memojokkan posisi perempuan.

Haidar menyentuh topik mitos penciptaan perempuan sebagai makhluk kelas dua karena diciptakan dari rusuk Adam, mitos tentang neraka  akan lebih  banyak dihuni perempuan, dan mitos bahwa  tempat perempuan adalah di rumah dan laki-laki di sektor publik.

Sebetulnya telah banyak upaya oleh para perempuan dan laki-laki feminis  untuk  mematahkan mitos yang menggunakan dalih agama yang ada dasar  hukumnya, baik di dalam Al Quran maupun hadis Nabi. Tetapi, pertanyaan satu-satunya dalam acara tersebut, serta tepuk tangan berulang dari para ibu saat  Haidar mematahkan berbagai mitos dengan menjelaskan isi, sebab, dan konteks turunnya beberapa ayat Al Quran dan hadis, menunjukkan  upaya melakukan interpretasi yang lebih adil dan melihat konteks sebab  turunnya  suatu ayat atau lahirnya hadis harus terus dilakukan.

Seperti telah diutarakan berulang kali oleh tokoh-tokoh kritis di Indonesia maupun berbagai negara Islam, interpretasi para ahli fikih yang mayoritas laki-laki serta perbedaan zaman serta beda konteks budaya tempat para ahli fikih itu berada, menyebabkan seolah-olah perempuan tidak sederajat  kedudukannya dengan laki-laki.

TENTANG mitos penciptaan perempuan, misalnya, Haidar dengan tegas  mengatakan, Al Quran tidak pernah menyebut  perempuan diciptakan  dari rusuk Adam. Bahkan Al Quran dengan tegas menyebut perempuan dan laki-laki diciptakan dari sumber yang sama.

Bila kita mau lebih teliti dan merenung sedikit, sebetulnya Allah SWT  menggambarkan dirinya di dalam Al Quran lebih banyak menggunakan  sifat feminin daripada sifat maskulin. Haidar menyebut jumlahnya sampai lima kali lebih banyak. Sifat feminin itu seperti maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun, maha pemaaf, sementara sifat maskulin antara lain maha pembalas, maha berbuat apa saja.

Dengan demikian, perempuan sebenarnya punya  potensi jauh lebih besar  dibandingkan laki-laki untuk lebih memahami Allah. Karena itu pula banyak  laki-laki  sufi memiliki perempuan sufi sebagai gurunya, seperti Imam Syafei yang berguru pada perempuan bernama Saidah Nafisah, Sufi Ibn Arabi pun mengatakan untuk bisa menjadi sufi maka harus menjadi perempuan. Maksudnya, untuk menjadi sufi harus mengadopsi sifat feminin.

Nabi Muhammad SAW pun memiliki hati yang feminin, yang ditunjukkan  antara lain dari kecintaannya pada bayi dan anak-anak, sesuatu yang dipandang tidak macho oleh laki-laki Badui Arab dari suku mana Nabi berasal. Nabi, menurut Haidar, pernah ketika menciumi bayi ditegur oleh laki-laki Badui, dan Nabi pun menjawab dengan satu  kalimat telak yaitu  barangsiapa tidak bisa mencintai, maka tidak ada yang akan mencintai dia.

Bahkan seorang Ayatullah Khomeini pun, menurut Haidar, sangat menghormati perempuan. Istrinya mengatakan, Khomeini tidak pernah marah, kalaupun merasa tidak senang dia menggunakan  sindiran halus. Putri Khomeini, Saidah Zahra yang profesor filsafat di Universitas Teheran, mengaku, ayahnya  tidak pernah menanyakan setiap dia akan keluar  rumah. Ayahnya percaya kepada dia dan membiarkan  putrinya mengejar  karier keilmuan. “Saya menyaksikan  Saidah Zahra  berpidato di universitas di depan 1.000 laki-laki dan 200-an perempuan pendengar tanpa rasa gentar,” kata Haidar.

Dalam wasiatnya kepada putranya, Ahmad, Khomeini mengatakan, seseorang tidak bisa menghitung nilai perbuatan satu malam yang dijalani seorang ibu untuk mengurusi anaknya. Nilainya jauh lebih besar dari bertahun-tahun hidup yang dijalani seorang suami yang setia.

DENGAN lagi-lagi mengambil contoh Khomeini, Haidar menyebutkan  pemimpin  agama di Iran itu tidak ragu-ragu melakukan  pekerjaan rumah  tangga, seperti mencuci piring. Ini sekaligus mematahkan  mitos bahwa  tempat perempuan adalah di rumah dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, sementara laki-laki bekerja di luar rumah.

Dengan tegas Haidar mengatakan, tidak ada ayat Al Quran yang membatasi perempuan bekerja di luar rumah. Banyak contoh pada  zaman Nabi perempuan bekerja mencari nafkah. Istri yang sangat disayangi  Nabi, Siti Khadijah, berprofesi sebagai pedagang. Putri Nabi, Siti Fatimah, ikut bekerja mencari nafkah karena suaminya, Ali, yang memilih terjun ke politik.

“Dalam Islam tidak ada kewajiban perempuan  mengerjakan pekerjaan  rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan untuk perempuan dan laki-laki. Bila punya anak kecil, yang tinggal di rumah mengurus anak dan rumah bisa saja laki-laki atau perempuan.Ini persoalan akal sehat. Tinggal dilihat mana yang menguntungkan dan berdasarkan kesepakatan  bersama,” tandas Haidar yang mengatakan istrinya juga bekerja di luar rumah.

Bahkan Haidar menandaskan, dalam fikih dibolehkan perempuan  meminta  upah  bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena  mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir. “Ini bukan berarti lalu  hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang. Ini adalah untuk  menunjukkan  penghargaan pada jerih payah ibu,” kata Haidar.

Mitos yang juga banyak beredar adalah akan lebih banyak  penghuni neraka  berasal  dari kaum perempuan. Menurut Haidar, mitos ini sudah terbentuk  tidak lama setelah Nabi berpulang. Imam Ja’far yang merupakan guru dari antara lain Imam Hanafi dan beberapa imam lainnya  mengingatkan pada sebuah ayat Al Quran bahwa di surga ada lebih banyak  bidadari daripada laki-laki. Artinya, di surga ada lebih banyak  perempuan  mukminin daripada laki-laki mukmin.

Dalam penutup bincang- bincangnya, Haidar mengingatkan lagi pada  pernyataan  seorang ulama bahwa kekalahan umat Islam saat ini karena dia ibarat burung yang terbang hanya dengan sebelah sayap. Sumber daya umat  Islam yang separuh lagi, yaitu kaum perempuan, belum seterdidik kaum laki-lakinya. Karena itu menjadi kewajiban umat Islam memberi kesempatan  berkembang kepada anak-anak perempuan sama seperti anak laki-laki. (NMP)

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s