Filsafat Pacu Etos Keilmuan Umat
Republika, Selasa, 06 Januari 2009 pukul 07:08:00
JAKARTA — Filsafat dinilai memiliki peranan penting bagi umat Islam untuk mendorong etos keilmuwan. Rendahnya etos keilmuan di kalangan umat Islam terjadi lantaran adanya penolakan terhadap filsafat. Sebagian umat Islam menolak, karena beranggapan bahwa filsafat adalah produk kebudayaan Barat.
Di sisi lain, sebagian umat Islam yang mendukung filsafat juga terjebak pada filsafat Barat. Guna mengubah persepsi masyarakat terhadap filsafat, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta bekerja sama dengan Mizan serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia menggelar serangkaian konferensi tentang filsafat di berbagai kota di Pulau Jawa.
Menurut Project Officer A Set of Conference Across Java, Husain Heriyanto, konferensi yang mengusung tema ”Philosophy Emerging From Culture: Islamic Thought and Indonesian Culture” itu, berupaya untuk membuktikan bahwa filsafat bukan hanya berasal dari kebudayaan Barat saja. Kebudayaan Islam dan Indonesia pun, papar dia, turut melahirkan filsafat.
”Dalam kenyataannya filsafat juga ada dalam kebudayaan Indonesia yang bertolak pada pemikiran Islam,” tutur Husain. Menurut dia, filsafat yang lahir dari kebudayaan Indonesia, salah satunya dipengaruhi tasawuf Islam. Gelaran konferensi filsafat itu dimulai di kampus Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta, Senin (5/1) kemarin, membahas topik ”Wisdom (Hikmah) and Rationality in Islamic Thought.”
Tampil sebagai pembicara Prof Dr George F McLean, guru besar filsafat dari Universitas Katolik Amerika; Prof Dr Gholamreza Aavani, direktur Institut Filsafat Iran; Prof Dr Karim Douglas Crow, guru besar Universitas Teknologi Nanyang, Singapura; Prof Dr Muhammad Yasin, direktur Departemen Bahasa Asing pada University of the Eastern Cape, Afrika Selatan; dan Prof Dr Mulyadhi Kartanegara.
Goerge Mc Lean mengatakan, konferensi seperti itu sangat penting untuk mencari sumbangan filsafat dari sisi budaya agama. “Kami mencari tahu bagaimana cara memahami pesan-pesan para Nabi secara falsafah tak hanya bergerak di dunia,” tegasnya.
Menurut Husain, inti dari konferensi filsafat yang digelar pada hari pertama itu membuktikan bahwa pengertian hikmah lebih luas dari pada rasionalitas. ”Contohnya dalam Islam, pengertian akal lebih luas dari pada rasional,” cetus Husain. (c63)











