PANDANGAN ESKATOLOGIS MULLA SADRA

 

ABSTRAK

Pandangan Eskatologi Mulla Sadrā.

Kholid Al-Walid :

 

Disertasi ini berusaha mengungkapkan gagasan-gagasan Mulla Sadrā dalam persoalan eskatologi dengan prinsip-prinsip yang membangun gagasan tersebut dan upayanya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan eskatologi yang telah menyebabkan konflik yang dalam antara filosof dan teolog. Usaha ini dilakukan dengan mengkaji sumber utama dari Mulla Sadrā. yaitu karyanya al-Hikmah al-Muta’āliyyah fi al-Asfār al-Aqliyyah al-arba’ah.

Pada akhirnya kajian ini menyimpulkan bahwa pandangan eskatologi yang digagas Mulla Sadrā adalah pandangan eskatologi yang di dasari argumentasi rasional dan berkesesuaian dengan doktrin teologis dan hasil intuitif irfani sehingga pandangan eskatologi yang di gagas Mulla Sadrā mampu memberikan solusi bagi persoalan-persoalan eskatologi yang terjadi.

Apa yang dihasilkan melalui disertasi ini membantah pandangan : 1. Sibawaihi yang menyatakan : “Kuatnya patri bangunan pemikiran eskatologi ini dalam lingkungan Islam, tampaknya, dalam asumsi penulis, memiliki akar dan hubungan langsung dengan sosok besar al-Ghazālī. Yakni, pada Abad Pertengahan, ketika terjadi kontroversi pemikiran antara para filsuf (falasifah) dan para teolog (mutakallimun), tokoh ini muncul, lalu meruntuhkan konsepsi-konsepsi eskatologi terutama konsepsi para filsuf” (Eskatologi Al-Ghazālī dan Fazlur Rahman, Yogyakarta, 2004, hal.13) 2. Jane Idelman Smith and YVone Yazbeck Haddad yang menyatakan bahwa “Kajian eskatologi setelah al-Ghazālī hanya bersifat literal” ( Jane Idelman Smith and YVone Yazbeck Haddad, The Islamic Understanding of Death and Resurretion, English : Oxford University Press, 2002 hal. 62) 3. Fazlur Rahman : “…walaupun pada akhirnya ia (Mulla Sadrā) memberikan solusinya sendiri yang secara identik, atau nyaris, sama dengan salah satu alternatif-alternatif tersebut. Misalnya, ketika ia menolak, dalam pembahasan tentang eskatologi, solusi-solusi al-Ghazālī. Padahal, solusinya sendiri nyaris tidak dapat dibedakan dari solusi yang ditawarkan al-Ghazālī tentang kebangkitan jasmani sebagai tatanan badan-citra” (The Philosophy of Mulla Shadra, New York, State University of New York, Albany, 1975. p. 11) 

 

RESUME DISERTASI

PANDANGAN ESKATOLOGI MULLA SADRA

Kekeliruan utama pandangan pemikir muslim modern yang beranggapan bahwa kajian eskatologi merupakan kajian yang telah baku dan berakhir di tangan tokoh besar Muhammad al-Ghazālī (450-505 H) adalah kekeliruan yang telah memberikan efek hilangnya kajian serius di dunia modern tentang metafisika akhirat.

Secara umum di abad pertengahan kajian eskatologi, terintegrasi di dalam filsafat sebagai bagian dari upaya para filosof muslim untuk membuktikan keberlangsungan eksistensi jiwa pasca kematian dan upaya pembuktian secara filosofis tentang keberadaan kehidupan akhirat. Sumbangan besar yang diberikan para filosof muslim tersebut bukan hanya terbatas pada wilayah keyakinan keberagamaan akan tetapi pada pengetahuan yang lebih mendalam berkaitan dengan substansi jiwa. Ibn Sinā (370-428 H) yang merupakan tokoh pendiri madrasah filsafat Peripatetik (Masyāiyyah) maupun Syaykh Isyrāq (549-587 H) tokoh utama pendiri filsafat Iluminasi (Isyraqiyyah), telah mencurahkan perhatian serius dalam bidang ini sehingga melahirkan pandangan-pandangan mendalam berkaitan dengan keadaan jiwa pasca kematian.

Anggapan akan kebakuan kajian eskatologi dan memasukkan eskatologi hanya pada wilayah sempit teologi adalah sebuah reduksi terhadap salah satu di antara warisan ilmiah yang spekulatif. Sedikitnya sumbangan pemikir muslim modern terhadap psikologi modern yang cenderung materialistis adalah karena rendahnya kajian ilmiah di dunia islam berkaitan dengan persoalan jiwa dan keabadian jiwa pasca kehancuran raga.

Di dunia modern menurut Mulyadhi Kartanegara jiwa masih berada hanya pada tataran neurologis. Bahkan Mulyadhi memberikan kritik dengan menyebut psikologi modern sebagai “brain based psychology” bahwa menurutnya jika jiwa tidak lebih sebagai bagian neurologis dan suatu saat otak manusia tersebut mengalami kehancuran maka tidak akan ada bagian yang survive dari kehidupan manusia tersebut.Pandangan psikologi modern yang seperti ini bertentangan sekali dengan apa yang ditawarkan agama bagi kehidupan manusia. Agama tidak hanya sebuah rangkaian peribadatan akan tetapi pandangan dan keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada dalam bentuk material juga memiliki dimensi ruhaniah, bahkan dimensi ruhaniah inilah yang paling dominan dan hakiki mempengaruhi realitas material.

Agama memberikan keyakinan kepada manusia bahwa keselamatan kehidupan manusia dalam tahap jangka panjang hanya terjadi jika manusia memiliki kesadaran terhadap kehidupan ruhaninya dan mengolah alam semesta dalam upaya untuk meningkatkan kualitas ruhaniah bukan mengekploitasi semesta hanya untuk kepentingan material sesaat.

Kesadaran seperti ini hanya akan dapat di apresiasi sekiranya kajian eskatologi yang jauh lebih luas dari pemaknaan terhadap doktrin-doktrin agama yang bersifat  dapat dihidupkan kembali sehingga dapat memberikan sumbangan mendasar pada pandangan psikologi modern.

Eskatologi berasal dari kata Escaton yang secara harfiah dimaknai doktrin tentang akhir, sebuah doktrin yang membahas tentang keyakinan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia, seperti ; kematian, hari kiamat, berakhirnya dunia, kebangkitan kembali, pangadilan akhir, surga-neraka dan lain. Karenanya di dalam membicarakan persoalan eskatologi, persoalan mendasar yang juga menjadi pembicaraan adalah keberadaan Ruh atau Jiwa pada diri manusia dan bagaimana Ruh atau Jiwa dapat terus ada selama kematian terjadi. Hal ini merupakan doktrin prinsip pada semua agama yang sama sekali tidak disentuh pada psikologi dunia modern.

Dalam istilah Islam Eskatologi dikenal dengan sebutan Ma’ād, secara khusus al-Taftāzānī memaknai Ma’ād sebagai berikut :

“Merupakan sumber atau tempat, dan hakikat kebangkitan adalah kembalinya sesuatu kepada apa yang ada sebelumnya dan yang dimaksud ini adalah kembalinya keberadaan setelah kehancuran, atau kembalinya bagian-bagian tubuh kepada penyatuan setelah keterpisahan, kepada kehidupan setelah kematian, ruh kepada tubuh setelah terpisah, sedangkan kebangkitan ruhani murni sebagaimana pandangan para filosof bermakna kembalinya ruh kepada asalnya yang nonmaterial dari keterikatan dengan tubuh material dan penggunaan alat-alat fisik atau keterlepasan terhadap kegelapan yang menyelimutinya

Al-Qur’an sebagai sumber utama Islam menegaskan prinsip keyakinan ini sebagai berikut :  

“Wahai manusia, jika kamu merasa ragu tentang kebangkitan, ketahuilah bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna dan yang belum sempurna bentuknya, agar Kami menjelaskan hal itu pada kamu. Kami jadikan dalam rahim yang Kami inginkan dalam kurun waktu yang sudah ditentukan, lantas Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (menopang kamu) sampai kamu mencapai kedewasaan. Dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan adapula yang diberi umur panjang sampai pikun, agar ia tidak lagi mengetahui apa yang diketahuinya dulu. Dan kamu lihat bumi ini kerontang, kemudian tatkala Kami turunkan air di atasnya maka hiduplah bumi ini dan tumbuh suburlah beraneka tumbuhan yang indah. Yang demikian itu disebabkan Allah Maha Benar (al-Haqq). Dialah yang menghidupkan segala yang mati. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sesungguhnya hari kiamat pasti datang –tak ada keraguan padanya- ketika Tuhan akan membangkitkan semua orang di dalam kubur “

Prinsip eskatologi menjadi satu bagian dari prinsip keimanan di dalam Islam, tanpa keyakinan tentang prinsip ini maka batallah keimanan seseorang terhadap Islam, namun demikian prinsip ini menjadi sebuah diskursus yang sangat panjang di dalam Islam bukan berkaitan terhadap dasar keberadaannya akan tetapi berkaitan dengan pembuktian filosofis terhadap pandangan eskatologi ini serta bagaimana bentuk kehidupan yang akan muncul pasca kematian tersebut.

Diskursus tentang pandangan ini terjadi terutama pada dua wilayah kajian ilmiah islam, Ilmu Kalam dan Filsafat.

Dalam Ilmu Kalam pembicaraan pada umumnya berkisar pada argumentasi tentang kebangkitan, Kematian, Barzakh, Surga-Neraka, Kebahagiaan dan penderitaan, Keabadian di akhirat, Kebangkitan jasmani dan Syafaat. Sedangkan pada filsafat, pembicaraan tentang kebangkitan meliputi ruang yang lebih luas, bukan hanya dalam persoalan yang telah disebutkan di atas, akan tetapi juga meliputi masalah ruh, jiwa dan jasmani, bentuk keterikatan antara ruh, jiwa dan jasmani, kemustahilan kebangkitan setelah ketiadaan (I’ādah al-Ma’dūm) dan sebagainya.

 Filsafat dan Kalam menjadi dua khazanah Islam yang cukup signifikan dalam menopang peradaban Islam, tidak jarang argumentasi filosofis digunakan Kalam dalam upaya membuktikan kebenaran doktrin-doktrin Islam, tidak jarang pula Filsafat khususnya Filsafat Islam mendapatkan inspirasi dari ilmu Kalam dalam menjawab persoalan filsafat. Akan tetapi kedua cabang ilmu ini seringkali melahirkan dua kebenaran yang berbeda, dan tentu saja pada akhirnya menimbulkan konflik. Para Teolog tentu beranggapan bahwa kebenaran yang bertentangan dengan doktrin-doktrin wahyu adalah kesesatan sedangkan Filosof beranggapan bahwa kebenaran yang tidak rasional perlu diinterpretasi ulang. Dua khazanah ilmiah yang berbeda ini pada satu masa mengalami benturan yang cukup dahsyat terutama dalam membicarakan persoalan eskatologi.

Puncak benturan tersebut terjadi ketika secara terbuka al-Ghazālī menyerang keyakinan para filosof lewat bukunya Tahāfut al-Falāsifāh dan Ibn Rusyd (520-595 H) menyerang balik serangan al-Ghazālī ini dengan bukunya Tahāfut al-Tahāfūt. Di antara persoalan mendasar yang menjadi pusat serangan al-Ghazālī adalah persoalan keyakinan para filosof tentang kebangkitan ruhaniah, pandangan ini terutama berdasarkan pandangan Ibn Sinā. Bagi al-Ghazālī keyakinan yang seperti ini sangat bertentangan dengan prinsip al-Quran yang secara khusus menyebutkan bahwa kebangkitan manusia tidak hanya jiwa akan tetapi juga meliputi fisik. Pandangansi eskatologi para filosof ini menegasikan kekuasaan Tuhan, bukankah Tuhan itu Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk sekedar menampilkan kembali fisik yang telah hancur ataupun mewujudkan yang baru ?

Sejarah kemudian mencatat efek dari konflik ini yang cukup signifikan. Nurcholis Madjid menyatakan serangan al-Ghazālī hampir sempurna sehingga orang takut berfilsafat dan khawatir dihukum kafir. Konflik tersebut kemudian memunculkan fatwa-fatwa ekstrem terhadap para filosof seperti yang dilakukan Ibn Salāh. Paling tidak efek yang terasa kemudian, terciptanya jurang yang cukup dalam antara para Teolog dengan para Filosof disamping pengaruh Imam al-Ghazālī yang semakin dominan di dunia Islam.

Namun demikian sekalipun serangan tehadap filsafat sangat luar biasa terjadi, pada sebagian wilayah Islam, filsafat terus hidup bahkan melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Suhrawardi yang mendirikan aliran Filsafat Isyrāqiyyah dan filsafat pada akhirnya melahirkan filosof besar yaitu Mulla Sadrā yang mendirikan aliran filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah.

Kebesaran dan keagungan filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah terutama dalam keberhasilannya melakukan sintesis terhadap berbagai aliran pemikiran di dunia Islam yang sebelumnya seakan-akan memiliki paradigma tersendiri dan menghasilkan kebenarannya sendiri-sendiri. Paling tidak ada tiga aliran pemikiran yang berhasil disintesis Mulla Sadrā antara lain ; Tasawuf, Teologi dan Filsafat.

Al-Hikmah al-Muta’āliyyah, magnum opus Mulla Sadrā merupakan sintesis dari ketiga corak berfikir tersebut, yaitu : Teologi dengan karakter dialektikal-polemikal (Jaddali), filsafat dengan karakter demonstrative/burhani, theosopi Illuminastik dan gnostik dengan karakter zawqi ditambah dengan elemen naqli yang berasal dari al-Qur’an, hadist dan ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Sebagaimana yang dinyatakan Hossein Nasr :

“Keluar biasaan Mulla Sadrā adalah keberhasilannya melakukan sintesis dan penyatuan terhadap tiga arus kebenaran utama, antara lain, wahyu, demonstrasi rasional dan penyucian jiwa, yang membelokkan arah filsafat menuju illuminasi. Baginya gnostik, filsafat dan wahyu agama merupakan elemen harmonisasi yang keharmonisan tersebut bermuara pada pola hidup yang ditampilkannya sebaik tulisannya. Dia memformulasi sebuah perspektif dalam kerangka demonstrasi rasional filsafat sekalipun tidak terbatas pada filsafat yunani namun juga menjadi sangat erat kaitannya dengan al-Qur’an, hadis dan pernyataan para Imam, dan kesemuanya menyatu dalam doktrin gnostik sebagai hasil dari iluminasi yang diterima melalui penyucian diri. Karena itulah mengapa tulisan-tulisan Mulla Sadra merupakan kombinansi dari pernyataan-pernyataan logika, intuisi gnostik, hadist dan sunnah Nabi serta ayat-ayat al-Qur’an”

 Sintesis atas ketiga aliran pemikiran ditambah dengan bimbingan hadist-hadist dari Ali bin Abi Talib di atas yang dilakukan Mulla Sadrā telah melahirkan sebuah bangunan filsafat yang kokoh yang dinyatakan oleh para ahli tidak semata aksidental saja, melainkan metode alternatif, konseptual dan ontologis. 

 

 Karenanya bagi sebagian pemikir filsafat, Mulla Sadrā dianggap sebagai puncak evolusi pemikiran filsafat sebelumnya.

Tujuan utama filsafat bagi Mulla Sadrā adalah upaya mencapai kesempurnaan hakiki manusia bukan hanya dalam konteks kehidupan sosial masyarakat, sebagaimana yang terjadi pada filsafat sebelumnya terutama pada filsafat Barat. Karena itu di dalam filsafatnya, Mulla Sadrā menjelaskan secara spesifik pandangan theodesi dan eskatologi, sebagai sebuah bagian perjalanan ruhani yang harus dilewati oleh setiap manusia yang hendak menggapai kesempurnaan.

Al-Hikmah al-Muta’āliyyah sebagai madrasah filsafat yang dikembangkan Mulla Sadra di angkat dari kitab utamanya al-Hikmah al-Muta’āliyyah fi al-Asfār al-Aqliyyah al-Arba’ah (Puncak kearifan dalam empat tahap perjalanan intelek). Mulla Sadrā menggambarkan bahwa manusia mencapai kearifan tertinggi haruslah melewati empat tahap perjalanan ruhani yang semuanya terangkum dalam rangkaian filsafat yang dikembangkannya. Empat tahap perjalanan tersebut antara lain :

Perjalanan pertama ; Safār min al-Khalq ila al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju Tuhan). Pada tingkat ini, perjalanan yang dilakukan adalah dengan mengangkat hijab kegelapan dan hijab cahaya yang membatasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Seorang salik harus melewati stasion-stasion, mulai dari stasion jiwa, stasion qalb, stasion ruh dan berakhir pada maqsad al-aqsa. Pada tahap ini perjalanan ruhani baru dimulai dari pelepasan diri dan bergabung menuju Tuhan. Dalam kajian filsafatnya, perjalanan pertama ini adalah gambaran dari upaya salik mengangkat kesadarannya dari realitas makhluk lewat pembahasan wujud dalam makna umum dan juga tentang hukum-hukum ketiadaan, entitas, gerakan material dan sustansial serta intelek.

2. Perjalanan kedua : Safār bi al-Haq fi al-Haq (Perjalanan bersama Tuhan di dalam Tuhan). Pada tahap ini seorang salik memulai tahap kewaliannya, karena wujudnya telah menjadi diri-Nya dan dengan itu dia melakukan penyempurnaan dalam nama-nama agung Tuhan. Tingkat ini adalah tingkat penyempurnaan teologis seorang salik. Dalam konteks ini Mulla Sadrā membicarakan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan.

3. Perjalanan ketiga ; Safār min al-Haq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari Tuhan menuju Makhluk bersama Tuhan). Dalam stasion ini seorang salik menempuh perjalanan dalam Af’āl Tuhan, kesadaran Tuhan telah menjadi kesadarannya dan menempuh perjalanan di antara alam Jabarut, Malakut dan Nasut serta menyaksikan segala sesuatu yang ada pada alam tersebut melalui pandangan Tuhan. Pembicaraan pada tingkat ini meliputi proses penciptaan dan emanasi yang terjadi pada intelek-intelek.

4. Perjalanan keempat ; Safār min al-Khalq ila al-Khalq bi al-Haq (Perjalanan dari makhluk menuju makhluk bersama Tuhan). Pada tahap ini perjalanan penyaksian seluruh makhluk dan apa yang terjadi padanya di dunia dan akhirat serta mengetahui perjalanan kembali menuju Allah dan bentuk kembalinya serta azab dan nikmat yang akan diberikan Allah pada mereka. Karena itu pembicaraan Mulla Sadrā pada tingkat ini adalah pembicaraan yang berkaitan dengan Eskatologi atau Ma’ād yang akan terjadi pada diri manusia setelah kematiannya dan dengan bukti serta argumentasi rasional.

Di antara persoalan yang dibicarakan Mulla Sadrā dalam filsafatnya adalah persoalan eskatologi yang merupakan substansi perjalanan keempat dari filsafatnya. Mengingat persoalan ini merupakan persoalan yang telah melahirkan skisma yang cukup dalam antara teologi dan filsafat serta persoalan yang dihadapi manusia modern saat ini seperti yang telah dijelaskan sebelumnya maka pandangan eskatologi yang dikemukakan Mulla Sadrā ini tentulah sangat menarik untuk dikaji lebih jauh mengingat perannya sebagai sintesis dari berbagai pemikiran terutama antara teologi dan filsafat dan hal ini paling tidak akan memberikan jawaban yang lebih akumulatif terhadap keyakinan ummat Islam tentang prinsip Ma’ād atau kebangkitan kembali dan sekaligus menjadi bukti argumentatif bagi persoalan yang dihadapi manusia modern.

Disertasi ini memetakan kembali pandangan eskatologi yang digagas Mulla Sadrā dengan beragam prinsip yang menopangnya, juga beragam persoalan yang terkait dengan kajian eskatologi seperti : Persoalan Jiwa, Reinkarnasi, Kebangkitan Jasmani dan pandangan Mulla Sadrā terhadap pandangan eskatologi sebelumnya serta pemaknaan yang dilakukan Mulla Sadrā terhadap peristiwa-peristiwa eskatologis.

Karena corak utama filsafat al-Hikmah al-Muta’āliyyah yang dikembangkan Mulla Sadrā merupakan sintesis dari beragam corak pemikiran islam maka warna tersebut terlihat jelas dalam pandangan eskatologinya, sebuah pandangan yang didasari demonstrasi rasional, sekaligus menawarkan gagasan-gagasan yang berkesesuain dengan doktrin agama dan pemaknaan-pemaknaan yang bersifat metaforis (irfani).

Identitas Pribadi

Nama : Kholid Al Walid, MA.g

Tempat/ Tgl Lahir : Palembang, 20 september 1970

Alamat : Komp. Reni Jaya Blok A1 no 4 Pondok Petir Sawangan -Depok

Telp. (021) 7443227 Hp : 0818981024

Pekerjaan : 1. Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

2. Kabid Pendidikan Yayasan Az-Zahra – Jakarta.

3. Dosen ICAS Jakarta.

 

 Keluarga

Nama Ayah : Amir Sopian

Nama Ibu : Zuhroh H.S.

Nama Istri : Hj. Renny Ariany, M.Sc

Nama Anak : 1. Nargis Fatimah Behesyti, 2. Nabila Sirin Thowusyi, 3. Najwa Feresteh Zahra

C. Riwayat Pendidikan :

  1. Sekolah Dasar Negeri 1 Sukatani Palembang tamat tahun 1983
  2. Sekolah Menengah Pertama YPT tamat tahun 1986
  3. Sekolah Menengah Atas Negeri Kenten – Palembang tamat tahun 1989
  4. S.1 Fak. Ushuluddin IAIN Raden Fatah Palembang tamat tahun 1995
  5. Hauzeh Ilmiyeh Hujjatiyeh – Qom, Republik Islam Iran tamat tahun 2001
  6. S.2 Aqidah dan Pemikiran Islam – Pasca Sarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung tamat tahun 2004
  7. S.3 Pemikiran Islam – Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta – Sampai sekarang

D. Karya Tulis :

  1. Kefakiran Pakaianku, Tulisan bebas dimuat di harian Sriwijaya Post, 1992
  2. Filsafat Perenial, Lomba karya tulis ilmiah Tk. Nasional IAIN Sunan Gunung Djati Bandung -1994
  3. Filsafat Perenial (Suatu telaah atas pentingnya kearifan jiwa dalam membentuk fitrah ummat manusia), Skripsi – 1995
  4. Manusia Primordial, Majalah Format – Palembang 1995
  5. Mengetuk Pintu Langit, Tulisan di harian Sriwijaya Post, 2002
  6. Antara Sadruddin Qunawi dan Mulla Shadra, Buletin Isyraq – Bandung 2002
  7. Wahdatul Wujud, Buletin Isyraq – Bandung 2002
  8. Tasawuf Imam Khomeni, Buletin Isyraq – Bandung 2003
  9. Qabz Va Bast, Pemberontakan Kalam Abdul Karim Sourous, Buletin Isyraq, 2003
  10. Tasawuf Mulla Shadra, Muthahari Press, 2005
  11. Epistemologi Mulla Shadra, Ittihad al-Aqil wa al-Ma’qul. Tesis-UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2005
  12. Ayat-ayat mistik, makalah diskusi – Bandung, 2005
  13. Wilayatul Faqih, Teodemokrasi. Makalah seminar – Bandung, 2005
  14. Tasawuf Mulla Sadra, Buku- Muthahari Press, Bandung,2005
  15. Agama Baha’I, makalah diskusi – Jakarta, 2005
  16. Hadist Ilmu, makalah diskusi – Jakarta, 2005
  17. Menjadi Jenius, Diskusi Pendidikan – Bandung, 2006
  18. Filsafat Tasawuf Qunawi, makalah diskusi – Jakarta 2006
  19. Cinta dalam al-Qur’an, makalah diskusi – Jakarta 2006
  20. Dimensi-dimensi al-Qur’an, makalah diskusi – Jakarta 2006
  21. Berdukalah bersama Rasul, makalah – Jakarta 2006
  22. Teologi Muhammad Taqi Misbah, makalah diskusi – Jakarta 2006
  23. Kosmologi Ibn Arabi, Buletin Isyraq Bandung 2006
  24. Studi kritis Paradigma Islam Liberal al-jabiri, makalah diskusi – Jakarta 2006
  25. Tokoh Sufi Abad ini, Buletin Isyraq – Bandung 2006
  26. Psikologi Tasawuf, makalah seminar, Jakarta 2006
  27. Mengendalikan Marah, makalah diskusi, Jakarta 2006
  28. Menjemput Ramadhan, makalah diskusi, Pakanbaru, 2006
  29. Hakikat Nuzulul Qur’an, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  30. Bulan Ramadhan Bulan Spiritual, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  31. Hakikat Puasa, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  32. Sekali lagi tentang takwa, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  33. Efek ketakwaan, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  34. Efek ketidaktakwaan, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  35. Kiat Meraih Ketakwaan, makalah diskusi, New Zealand, 2006
  36. Nestapa Fathimah Az-Zahra, makalah, Jakarta, 2007

 


<!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–>Lihat : Sibawaihi, Eskatologi al-Gazali dan Fazlur Rahman Studi Komparatif Epistemologi Klasik-Kontemporer (Yogyakarta : Penerbit Islamika, 2004) hal.13 Selanjutnya disebut ; Sibawaihi, Eskatologi al-Gazali,

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Lihat : Mulyadhi Kartanegara Psikologi Islam, Sedang dalam proses terbit, hal. 2

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Dalam studi yang dilakukan Jane Idelman Smith di dapat kesimpulan bahwa pada umumnya kajian eskatologi pasca serangan al-Ghazali hanya bersifat penjelasan literal dan tidak sebagaimana kajian yang dilakukan para filosof abad pertengahan. Jane Idelman Smith and YVone Yazbeck Haddad, The Islamic Understanding of Death and Resurretion (English : Oxford University Press, 2002) hal. 62 Selanjutnya disebut Jane, The Islamic Understanding of Death. Selanjutnya disebut ; Jane Idelman, The Islamic Understanding,.

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Lihat : Angeles, Peter A. Dictionary of Philosophy, (Harper & Row Publisher, New York 1981) dan Owen, H.P. “Eschatology”, Ensiklopedia of Philosophy, III.

<!–[if !supportFootnotes]–>[5]<!–[endif]–> Al-Taftāzānī, Syarh Al-Maqāsid ( Iran : Mansyurat Syarif al-Radi, 1409 H) J.5 hal. 82 Teks asli sebagai berikut :

وهومصدر أو مكان, وحقيقة العود تو جه ا لشي ء إلى ماكان عليه, والمراد ههنا الرجوع إلى الوجود بعد الفناء, أو رجوع أجز اء البدن إلى الاجتماع بعد التفرق, وإلى الحياة بعد الموت, والأرواح إلى الأبدان بعد المفارقة وأما المعاد الروحا ني المحض على ما يراه الفلا سفة, فمعناه رجوع الأرواح إلى ماكانت عليه من التجرد عن علاقة البدن, واستعمال الألا ت, أوالتبرؤ عما ابتليت به من الظلمات.

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[6]<!–[endif]–>QS 22 : 5-7. Teks Ayat al-Qur’an tersebut :

<!–[if !supportEmptyParas]–> <!–[endif]–>

<!–[if !supportFootnotes]–>[7]<!–[endif]–> Dalam Tasawuf pembicaraan tentang eskatologi di dasarkan pada proses intuitif dan tidak sebagaimana pembicaraan eskatologi di dalam ilmu kalam dan filsafat yang menggunakan argumentasi-argumentasi untuk membuktikan kebenaran prinsip eskatologi tersebut.

<!–[if !supportFootnotes]–>[8]<!–[endif]–> Pembicaraan secara lebih khusus akan dikemukakan pada bab III.

<!–[if !supportFootnotes]–>[9]<!–[endif]–> Tahafut al-falasifah merupakan karya yang ditulis al-Ghazali setelah karyanya yang hampir mirip yaitu Maqasid al-Falasifah. Di dalam karya ini al-Ghazali melakukan kritik keras terhadap para filosof bahkan mengkafirkan mereka. Ada dua puluh persoalan utama yang dikritik al-Ghazali antara lain ; kekadiman alam, Keabadian alam, masa dan gerakan, Allah sebagai subjek bagi alam, kelemahan argumentasi filosof terhadap argumentasi adanya Allah, Kelemahan filosof terhada pembuktian Satunya Allah, Penafian sifat-sifat Allah, Zat pertama yang tidak terkomposisi oleh genus dan particular, Kesederhanaan wujud pertama, Ke non-materian Yang Pertama, Alam memiliki pencipta dan sebab, Pengetahuan yang pertama bersifat general, Pengetahuan Zat Pertama tentang dirinya, Ketidak tahuan Allah terhadap particular, Langit merupakan hewan yang tunduk pada Allah, tujuan penggerak langit, Jiwa-jiwa langit mengetahui yang particular, Ketidakmungkinan mukjizat, Ketidak mampuan filosof dalam membuktikan keruhanian jiwa, Keberalngsungan jiwa manusia, Penmgingkaran terhadap kebangkitan jasmani.

<!–[if !supportFootnotes]–>[10]<!–[endif]–>Tahafut al-tahafut, merupakan karya Ibn Rusyd yang memberikana jawaban terhadap kritik-kritik al-Ghazali dengan menjelaskan argumentasi-argumentasi para filosof terhadap persoalan yang dikritik al-Ghazali dan menunjukkan kelemahan pemahaman al-Ghazali terhadap pandangan para filosof tersebut.

<!–[if !supportFootnotes]–>[11]<!–[endif]–> Nurcholish Madjid, Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984) hal.33

<!–[if !supportFootnotes]–>[12]<!–[endif]–> Hanafi, Pengantar Filsafat Islam ( Jakarta : Bulan bintang, 1965) hal. 27-28

<!–[if !supportFootnotes]–>[13]<!–[endif]–> Jalaluddin Rakhmat, Hikmah Muta’aliyah : Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd dalam Kearifan Puncak, Mulla Sadra, diterjemahkan oleh Dimitri Mahayana (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004) hal. vii

<!–[if !supportFootnotes]–>[14]<!–[endif]–> S.H. Nasr, Sadr al-Din Shirazi (Mulla Sadra) dalam M.M. Sharif, ED., A History of Moslem Philosophy , hal. 939. Teks aslinya sebagai berikut :

“The particular genius of Mulla Sadra was to synthesize and unify the three paths lead to the truth, viz., reveleation, rational demonstration, and purification as soul, which lats in turn leads to illumination. For him gnosis, philosophy, and revealed religion were elements of a harmonious assemble the harmony of which he sought to reveal in his own life as well as in his writing. He formulated a perspective in which rational demonstration of philosophy, although not necessarily limited to that of the Greeks, became closely tied to the Qur’an and the saying of the prophet and the Imams, and these in turn became unified with the gnosis doctrine which result from the illumination received by a purified soul. That is why Mullah Sadra’s writing are combination as logical statements, Gnostic intuition, traditional of prophet, and the Qur’anic verses.”

<!–[if !supportFootnotes]–>[15]<!–[endif]–> S.H. Nasr, Three Muslim Sages (New York : Delmar, 1964) hal, 67

<!–[if !supportFootnotes]–>[16]<!–[endif]–> Lihat ; “Muqaddimah” dalam Mulla Sadra, al-Asfār al-Arbaah fi al-Hikmah al-Muta’āliyyah (Beirut : Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, 1981) J. I hal. 13-18 (Selanjutnya disebut al-Asfar)

<!–[if !supportFootnotes]–>[17]<!–[endif]–> Lihat catatan kaki Muhammad Husayn Thabathaba’i pada Mulla Sadra, al-Asfār J. I hal. 14

 

About these ads

5 responses to “PANDANGAN ESKATOLOGIS MULLA SADRA

  1. assalamualaikum, izin ana ikut gabung di majelisnya ust.

  2. Assalamu’alaikum….. sebuah karya2 yg menarik dan mencerahkan, semoga filsafat Islam di Indonesia semakin hidup…

  3. Assalamualaikum, Wr. WB.
    Disertasi ini sangat menarik. Bisa mendapatkan tulisan lengkapnya?

  4. Disertasi Ustadz Dr. Kholid al-Walid ini sudah dibukukan dan diterbitkan secara indipendent (Print on Demand). Bagi yang membutuhkannya dapat memesan kepada penulisnya. Insya Allah saya akan sampaikan kepada beliau minggu depan.

  5. bisakah saya mendapatkan Disertasi Dr. Kholid ini (tentang eskatalogi Mulla Shadra). berapa biayanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s