Falsafah Cina

Falsafah Cina I

Dr. Abdul Hadi W. M. (ICAS & Universitas Paramadina)

LATAR BELAKANG DAN KECENDERUNGAN UMUM

Tradisi pemikiran falsafah di Cina bermula sekitar abad ke-6 SM pada masa pemerintahan Dinasti Chou di Utara. Kon Fu Tze, Lao Tze, Meng Tze dan Chuang Tze dianggap sebagai peletak dasar dan pengasas falsafah Cina. Pemikiran mereka sangat berpengaruh dan membentuk ciri-ciri khusus yang membedakannya dari falsafah India dan Yunani. Pada masa hidup mereka negeri Cina dilanda kekacauan yang nyaris tidak pernah berhenti. Pemerintahan Dinasti Chou mengalami perpecahan dan perang berkecamuk di antara raja-raja kecil yang menguasai wilayah yang berbeda-beda. Sebagai akibatnya rakyat sengsara, dihantui kelaparan dan ratusan ribu meninggal dunia disebabkan peperangan dan pemrontakan yang bertubi-tubi melanda negeri. Tiadanya pemerintahan pusat yang kuat dan degradasi moral di kalangan pejabat pemerintahan mendorong sejumlah kaum terpelajar bangkit dan mulai memikirkan bagaimana mendorong masyarakat berusaha menata kembali kehidupan sosial dan moral mereka dengan baik.

Kaum bangsawan terpelajar ini telah tersingkir dari kehidupan politik dan pemerintahan, karena pada saat negeri dilanda kekacauan dan perang yang diperlukan ialah para jenderal dan pengambil kebijakan politik. Dinasti Chou sendiri telah lebih satu abad memerintah negeri Cina. Pemerintahan mereka semula berjalan baik, tindakan hukum berjalan sebagaimana diharapkan dan ketertiban telah terbangun dengan baik. Dinasti Chou berhasil membangun tradisi pemikiran Cina yang selama berabad-abad mempengaruhi pemikiran orang Cina. Misalnya kebiasaan menghormati leluhur dengan melaksanakan berbagai upacara keagamaan dan kegemaran akan sejarah masa lalu.

Dalam upaya untuk mendapat legitimasi atas kekuasaannya Dinasti Chou menafsirkan kembali sejarah Cina. Misalnya saja penaklukan yang dilakukannya atas dinasti sebelumnya, Shang, dikatakan sebagai amanat dari dewa-dewa yang bersemayam di Kayangan. Penguasa dinasti Shang dikatakan telah banyak melakukan kejahatan di bumi sehingga tidak direstui oleh leluhur mereka, dan dewa-dewa di Kayangan membencinya serta memberikan mandat kepada penguasa Dinasti Chou untuk menggantikannya sebagai pemegang tampuk pemerintahan.

Dalam perkembangan selanjutnya ternyata penyelenggaraan upacara-upacara menghormati leluhur itu lebih merupakan pemborosan. Sering sebuah upacara dilakukan secara berlebihan untuk memamerkan kekayaan dari keluarga yang menyelenggarakannya. Pemerintah pusat dan penguasa wilayah berlomba-lomba memungut pajak yang tinggi, memeras rakyat dan menggiring mereka melakukan kerja paksa. Para bangsawan, jenderal dan pejabat berlomba-lomba melakukan korupsi dan penyelewengan, menimbun harta dan kekuasaan. Mereka saling menghasut sehingga perpecahan tidak bisa dihindari lagi dan peperangan silih berganti muncul antara penguasa wilayah yang satu dengan penguasa yang lain.

Dilatarbelakangi keadaan seperti itu falsafah Cina lebih banyak memusatkan perhatian pada persoalan politik, kenegaraan dan etika. Kecenderungan inilah yang membuat falsafah Cina memiliki ciri yang berbeda dari falsafah India, Yunani dan Islam.

Ciri Yang Menonjol

Pertama-tama karena masalah politik dan pemerintahan merupakan masalah sehari-hari tidak dapat dihindarkan falsafah Cina berkecendrungan mengutamakan pemikiran praktis berkenaan masalah dan kehidupan sehari-hari. Dengan perkataan lain ia cenderung mengarahkan dirinya pada persoalan-persoalan dunia.

Para ahli sejarah pemikiran mengemukakan beberapa ciri yang muncul akibat kecenderungan tersebut:

Pertama, dalam pemikiran kebanyakan orang Cina antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian pemikiran spekulatif kurang mendapat tempat dalam tradisi falsafah Cina, sebab falsafah justru lahir karena adanya berbagai persoalan yang muncul dari kehidupan yang aktual.

Kedua,secara umum falsafah Cina bertolak dari semacam ‘humanisme’. Tekanannya pada persoalannya kemanusiaan melebihi falsafah Yunani dan India. Manusia dan perilakunya dalam masyarakat dan peristiwa-peristiwa kemanusiaan menjadi perhatian utama sebagian besar filosof Cina.

Ketiga, dalam pemikiran filosof Cina etika dan spiritualitas (masalah keruhanian) menyatu secara padu. Etika dianggap sebagai intipati kehidupan manusia dan sekaligus tujuan hidupnya. Di lain hal konsep keruhanian diungkapkan melalui perkembangan jiwa seseorang yang menjunjung tinggi etika. Artinya spiritualitas seseorang dinilai melalui moral dan etikanya dalam kehidupan sosial, kenegaraan dan politik. Sedangkan inti etika dan kehidupan sosial ialah kesalehan dan kearifan.

Keempat, meskipun menekankan pada persoalan manusia sebagai makhluq sosial, persoalan yang bersaungpaut dengan pribadi atau individualitas tidak dikesampingkan. Namun demikian secara umum falsafah Cina dapat diartikan sebagaoi ‘Seni hidup bermasyarakat secara bijak dan cerdas’. Kesetaraan, persamaan dan kesederajaan manusia mendapat perhatian besar. Menurut para filosof Cina keselerasan dalam kehidupan sosial hanya bisa dicapai dengan menjunjung tinggi persamaan, kesetaraan dan kesederajatan itu.

Kelima, falsafah Cina secara umum mengajarkan sikap optimistiss dan demokratis. Filosof Cina pada umumnya yakin bahwa manusia dapat mengatasi persoalan-persoalan hidupnya dengan menata dirinya melalui berbagai kebijakan praktis serta menghargai kemanusiaan. Sikap demokratis membuat bangsa Cina toleran terhadap pemikiran yang anekaragam dan tidak cenderung memandang sesuatu secara hitam putih.

Keenam, agama dipandang tidak terlalu penting dibanding kebijakan berfalsafah. Mereka menganjurkan masyarakat mengurangi pemborosan dalam penyelenggaraan upacara keagamaan atau penghormatan pada leluhur.

Ketujuh, penghormatan terhadap kemanusiaan dan individu tampak dalam falsafah hukum dan politik. Pribadi dianggap lebih tinggi nilainya dibanding aturan-aturan formal dan abstrak dari hukum, undang-undang dan etika. Dalam memandang sesuatu tidak berdasarkan mutlak benar dan mutlak salah, jadi berpedoman pada relativisme nilai-nilai.

Kedelapan, dilihat dari sudut pandang intelektual: Para filosof Cina berhasil membangun etos masyarakat Cina seperti mencintai belajar dan mendorong orang gemar melakukan penelitian mendalam atas segala sesuatu sebelum memecahkan dan melakukan sesuatu. Demikianlah pengetahuan dan integritas pribadi merupakan tekanan utama falsafah Cina. Aliran pemikiran, teori dan metodologi apa saja hanya bisa mencapai sasaran apabila dilaksanakan oleh seseorang yang memiliki pengetahuan luas dan integratitas pribadi yang kokoh.

Teori dan Praktek

Dalam upaya melihat bahwa teori dan kehidupan praktis tidak dapat dipisahkan, kita perlu melihat bagaimana orang Cina memahami hubungan antara teori dan praktek dalam suatu pemikiran yang bersifat falsafah. Kita juga perlu mengetahui bagaimana teori dihubungkan dengan kehidupan nyata. Ada dua perkara yang harus dikaji dan ditelusuri secara mendalam: Pertama, konsep umum tentang ‘kebenaran’ dalam falsafah Cina; kedua, kemanusiaan yang dilaksanakan dalam kehidupan nyata dan kemanusiaan yang diajarkan para filosof Cina dalam sistem falsafah mereka.

Secara umum pula pemahaman terhadap dua perkara tersebut ditafsirkan dari Konfusianisme, yaitu ajaran falsafah yang dikembangkan dari pemikiran Konfusius. Konfusianisme sendiri berkembang menjadi banyak aliran, di antaranya kemudian dikembangkan menjadi semacam agama, dengan kaedah dasar dari ajaran etikanya yang dirujuk pada pandangan atau ajaran Konfusius. Sebagai ajaran falsafah pula, Konfusianisme telah berperan sebagai landasan falsafah pendidikan di Cina selama lebih kurang 2000 tahun lamanya. Karena itu ia benar-benar diresapi oleh bangsa Cina secara turun temurun selama ratusan generasi. Konfusisnismelah yang mengajarkan bahwa antara teori dan praktek tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan individu atau masyarakat.

Dalam Konfusianisme, seperti dalam banyak falsafah Cina yang lain, pemikiran diarahkan sebagai pemecahan masalah-masalah praktis . Karena itu falsafah Cina cenderung menolak kemutalakan atau pandangan hitam putih secara berlebihan. Kebenaran harus diuji dalam peristiwa-peristiwa aktual dalam panggung kehidupan, dan baru setelah teruji ia dapat diakui sebagai kebenaran.

Konsep Kebenaran.Kebenaran bukan sesuatu yang diturunkan begitu saja dari langit tanpa ikhtiar dari manusia. Ia juga bukan prinsip mujarad (abstrak), tetapi suatu prinsip yang harus dapat dibuktikan dan dijumpai dalam peristiwa kemanusiaan. Konfusius (551-479 M) misalnya dalam kitab agungnya Lun Yu memberi contoh bagaimana Kaisar Yao yang arif berulangkali bercermin pada peristiwa dan pengalaman masa lalu dalam upayanya mendapatkan kebenaran yang memiliki keabsahan sejarah. Kebenaran sejarah sangat penting karena merupakan peristiwa yang telah terjadi. Oleh sebab itu orang Cina menggemari cerita sejarah seperti Sam Kuo (Kisah Tiga Kerajaan).

Contoh lain ialah penganut madzab Chu Hsi (1130-1200 M), yang mewakili sayap rasionalis dari Neo-Konfusianisme, mengemukakan bahwa prinsip-prinsip kebeneran itu melekat dalam segala sesuatu dan segala peristiwa yang terdapat di dunia. Sedangkan madzab Wang Yang-ming (1472-1529 M), yang mewakili sayap idealis dari Neo-Kounfusianisme, mengemukakan bahwa prinsip tersebut melekat dalam pikiran manusia. Sekalipun demikian kedua madzab tersebut sepakat bahwa prinsip-prinsip tersebut dapat diuji dalam berbagai peristiwa yang aktual. Dalam kenyataan falsafah Cina tidak membedakan antara realitas dan aktualitas.

Karena kebenaran dapat dijumpai dan diuji hanya dalam peristiwa kemanusiaan, maka rekaman kebenaran hanya dapat dicari dalam catatan sejarah. Karena itu falsafah tidak dapat melepaskan diri dari pengetahuan sejarah. Sebagai contoh ialah Konfusius. Dalam menyusun karya falsafahnya dia selalu menjenguk ke dalam sejarah. Yang dilihat dalam sejarah bukan hanya peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang berubah-ubah, tetapi juga peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang mengandung prinsip-prinsip kekal atau langgeng. Ini dapat dibuktikan pada penggunaan kata ching untuk menyebut ‘klasik’. Arti harafiah ching ialah yang tetap dan tak bergerak.

Dalam menyusun falsafahnya Konfusius menggunakan Kanun Klasik Cina, yaitu Empat Kitab dan Lima Sejarah Klasik. Ching di sini dipahami sebagai hukum alam yang mengendalikan pemerintahan, masyarakat, perkembangan agama dan aspek-aspek utama kebudayaan Cina. Semenjak tahun 124 SM sampai tahun 1905 Empat Kitab dan Lima Sejarah Klasik telah diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan Cina, dan baru diperbaharui kemudian setelah revolusi yang dipimpin Sun Yat Sen. Sampai masa itu kitab-kitab tersebut diajarkan sebagai buku pelajaran standar.

Semenjak abad ke-2 SM pula falsafah dijadikan penghubung antara peristiwa-peristiwa politik dan gejala-gejala astronomis. Asas ching mendorong timbulnya berbagai kebangkitan atau renaisance intelektual serta mendorong pula pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan alam. Ching sebagai hukum alam menyingkap peristiwa-peristiwa sejarah dan alam, serta memiliki ciri moral tertentu. Dengan begitu ada korelasi antara gerak alam dan kegiatan manusia. Keduanya, gerak alam dan kegiatan manusia, disebut shih, artinya ialah kejadian, peristiwa, lakon kehidupan. Keduanya juga sama-sama tunduk pada seperangkat hukum yang sama. Hasil akhir dari keduanya ialah hukum atau ketetapan moral.

Karena itu dalam falsafah Cina, khususnya Konfusianisme, sangat jarang dibicarakan pertentangan antara kebenaran dan kekeliruan, atau benar dan salah. Yang ditekankan ialah masalah kebaikan dan keburukan. Tetapi dalam peringkat transendental atau metafisis, diakui tidak ada pertentangan antara baik dan buruk. Ch’eng Hao, seorang penganut Konfusianisme, mengatakan, “Baik dan buruk adalah asas alam. Yang disebut buruk pada mulanya tidak buruk.” Jadi menurutnya semua asas alam itu baik. Perkataan benar dan salah (shih-fei) hanya memiliki konotasi moral.

Sebagian besar filosof Konfusianis memandang bahwa kebenaran datang dalam kehidupan hanya apabila ia dilaksanakan secara kongkrit oleh seseorang dalam kehidupan nyata. Untuk melaksanakan ‘kebenaran’ diperlukan kecerdasan dan kecakapan, dan itu dicapai melalui latihan dan pembelajaran yang berdisiplin. Berkaitan dengan kebenaran yang demikian digunakan kata-kata t’i-jen, yang artinya lebih kurang ialah kebenaran yang dilaksanakan dan dibuktikan secara pribadi. T’i-jen mencakup pemahaman yang kritis dan rasional terhadap sesuatu, meliputi arti, makna dan kegunaannya. Puncak t’i-jen ialah pemahaman secara intuitif terhadap segala sesuatu.

Wang Yang-ming mengatakan, “Pelaksanaan kebenaran didahului dengan senantiasa melakukan sesuatu.” Kebenaran tertinggi harus dilaksanakan di tengah peristiwa kemanusiaan dan dapat dipahami hanya melalui peristiwa kemanusiaan. Tidak ada kebenaran yang amoral, sebab semua kebenaran mengandung keterkaitan moral. Hubungan antara kebenaran dan pengalaman, kata-kata dan tindakan, merupakan sesuatu yang mendasar. Konfusius pernah mengatakan, “Kudengar perkataan seseorang, kemudian kuperhatikan perbuatannya.”

Untuk melihat bagaimana teori dan praktek, kebenaran dan pengalaman, dipahami sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dalam pemikiran filosof Cina, ialah dengan melihat bagaimana mereka menyebut kearifan atau falsafah . Di Cina falsafah disebut che, yang artinya sama dengan sophia (Yunani), al-hikmah (Islam) dan darsana (India).Artinya ialah kebijakan atau kearifan yang dihasilkan melalui pemikiran, pengamatan dan penelitian. Dalam huruf Cina kata-kata che dirangkai dari kata ‘mulut’ dan ‘tangan’.( ).

Jen dan Beberapa Istilah Kunci Lain

Istilah kunci yang tidak kalah penting ialah Tao, yang lazim diterjemahkan sebagai ‘jalan suci’ (tariqa, the way). Istilah ini dikaitkan dengan jalan yang ditempuh orang arif atau jalan kearifan (ma`rifa, sophia). Menurut beberapa filosof Cina, kearifan manusia unggul dapat dipahami melalui kecerdasan lelaki dan perempuan yang bersahaja.

Kata li, artinya asas atau prinsip, sangat sering digunakan. Pengertian istilah ini dikaitkan dengan prinsip kebajikan manusia yang menjunjung tinggi etika atau moral. Konfusianisme sendiri sering ditafsirkan sebagai ‘Agama Li’. Istilah lain yang juga digunakan dalam kaitannya dengan berbagai aspek dan bidang kehidupan seperti pemerintahan, seni, kedokteran dan lain-lain ialah Ch’i (kekuatan material, energi), yin yang (aspek lelaki dan perempuan), Jen (kemanusiaan, kebaikan yang mengandung nilai kemanusiaan). Bahwa jen sering diartikan kebaikan dapat dilihat pada penggunaan istilah neng yen, yang artinya kemampuan menjadi baik,dan jen-tz’u, yang artinya kuil kebaikan.

Dalam kitabnya Lun Yu (Aforisme) Konfusius mengaitkan arti Jen dengan kemanusiaan dan meletakkannya sebagai gagasan pokok dari seluruh sistem falsafahnya. Dikaitkan dengan li, jen diartikan sebagai kemampuan mengendalikan diri dan upaya kembali kepada yang asas (li). Walau demikian Konfusius jarang memberikan takrif panjang lebar serta menelaah makna perkataan jen.Hanya disebutkan bahwa pengertiannya mencakup ‘realisasi diri dan upaya menciptakan tatanan sosial yang baik’ Dalam upaya realisasi diri dan menciptaka tatanan sosial yang baik, seseorang pertama-tama harus menghormari kehidupan pribadi orang lain, bersungguh-sungguh menangani persoalan dan setia dalam menjalankan tugas serta kewajiban dalam kehidupan sosial.

Menurut Konfusius, orang yang melaksanakan jen berkeinginan selain membina watak dan kepribadiannya sendiri juga berusaha membina watak dan kepribadian orang lain. Apabila seseorang menghendaki dirinya berhasil, dia mestinya berkeinginaan membantu lain supaya berhasil. Dengan perkataan lain, orang yang melaksanakan jen itu mencintai semua orang. Dalam kaitan ini jen diartikan sebagai cinta kepada kemanusiaan yang merupakan milik semua manusia termasuk dirinya.

Istilah kunci lain yang tidak kalah pentingnya dan menjadi bahan pembahasan yang tidak pernah berhenti dalam sejarah pemikiran falsafah di Cina ialah kata-kata konseptual chung yung. Dalam bahasa Inggeris kerap diterjemahkan sebagai ‘Golden Mean’ atau ‘the Middle Way”. Dalam bahasa Indonesia bisa diterjemahkan sebagai Jalan Tengah, Titian Emas. Kata chung artinya ‘sentral’, ‘tengah’, ‘pusat’ dan yung artinya ialah selaras atau harmoni. Menurut Konfusius orang yang bermoral baik itu menjadi dirinya selaras dengan orang lain. Aforisme lain yang diberikan dalam upaya memberikan makna terhadap gagasan chung yung, ialah perkataan Meng Tze “Pergi terlalu jauh sama dengan tidak pergi jauh’. Artinya orang tidak boleh melampaui batas, sebab tindakan melampaui batas tidak membawa hasil yang diharapkan.

Mengenai chung yung akan dibahas dalam pembahasan selanjutanya, karena ia sangat penting dalam upaya memahami kencenderungan umum falsafah Cina yang membicarakan masalah etika, politik dan pemerintahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s