Mengenang Karakter Pemikiran Nurcholish Madjid

Mengenang Karakter Pemikiran Nurcholish Madjid ( Sumber: http://www.mizan.com)

Islamkemodernan dan keindonesiaan Sekitar medio Maret 2008 lalu, bertempat di kampus Universitas Paramadina, Jakarta, diadakan peringatan 1.000 hari wafatnya salah seorang cendekiawan Muslim Indonesia yang akrab disapa Cak Nur (Nurcholish Madjid). Hadir dalam acara peringatan 1.000 hari itu, antara lain, Rektor Universitas Paramadina, Anies R. Baswedan dan istri almarhum Cak Nur, Omi Komaria Madjid.

Kautzar Azhari Noer, salah seorang sahabat dekat Cak Nur, mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki kewibawaan, pemahaman agama dan filsafat sangat luas, bahkan kehadirannya bisa diterima banyak orang. ”Ia sangat menjunjung tinggi rasa toleransi antarumat beragama. Itulah yang membuat Cak Nur bisa diterima siapa pun,” ujar Kautzar (Media Indonesia, 18 Maret 2008).

Dalam bulan April ini, Penerbit Mizan akan menerbitkan-kembali pikiran-pikiran cemerlang Cak Nur yang terhimpun dalam buku Islam, Kemoderan, dan Keindonesiaan. Melanjutkan para perambah modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Cak Nur berpendapat bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik. Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang telah mapan. Dalam hal lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini keindonesiaan.

Nah, terkait dengan semua itu, di majalah Gatra edisi minggu lalu, sorang cendekiawan-muda yang pernah meneliti pemikiran Cak Nur, yang saat ini menjadi CEO Penerbit Hikmah (Kelompok Mizan), M. Deden Ridwan, menulis sebuah artikel menarik tentang Cak Nur. Artikel Kang Deden tersebut dapat Anda nikmati juga di bawah ini.

CAK NUR BUKAN JARINGAN ISLAM LIBERAL
Oleh M. Deden Ridwan

Sabtu 15 Maret 2008, Paramadina memperingati “1.000 Hari Wafatnya Nurcholish Madjid”. Meski sudah wafat, sosok Cak Nur tetap kontroversial. Sejumlah buletin yang beredar tiap pekan di masjid-masjid dan materi khotbah Jumat seperti tak habis-habisnya mengkritik Cak Nur.

Salah satu sorotan paling mutakhir adalah anggapan bahwa pikiran Cak Nur terwariskan ke Jaringan Islam Liberal (JIL). Cak Nur dan JIL sering dianggap identik. Asumsi ini cukup beralasan karena Cak Nur pada 1970-an pernah mengusung gagasan sekularisasi dan liberalisasi. Antara Cak Nur dan JIL seolah terjadi titik temu intelektual. Apalagi JIL mengakui bahwa gagasannya terinspirasi oleh Cak Nur. Maka, pencitraan Cak Nur sebagai JIL pun tak terhindarkan.

Padahal, liberalisasi Cak Nur lebih bersifat sosiologis. Ia berusaha membebaskan umat dari belenggu kultural dan tradisi yang pada waktu itu bisa dianggap menghambat berpikir rasional. Bukan liberalisasi dalam pikiran teologis, seperti mempertanyakan keotentikan Al-Quran, sebagaimana dikampanyekan JIL.

Gagasan Cak Nur dan JIL berbeda secara ide. Pada Cak Nur, gagasan pembaruan Islam lebih ditulis dan diartikulasikan secara akademis. Buku Islam, Doktrin dan Peradaban menjadi bukti. Secara paradigmatik, gagasan Cak Nur lebih sistematis. Dibandingkan dengan JIL, metode yang Cak Nur tawarkan lebih jelas.

Sebaliknya, sistematisasi ide tidak tampak pada JIL. Gagasan JIL baru sebatas percikan ide spontan yang tercecer di surat kabar dan milis. Artikulasi pemikirannya belum terstruktur secara konseptual dan akademis. Karena itu, gagasan JIL secara epistemologis masih rapuh. JIL sampai saat ini belum punya metodologi yang jelas dalam menafsirkan Islam. Kritik pedas seperti itu pernah dilontarkan oleh Dr. Haidar Bagir.

Tema pembaruan keduanya juga bisa dikontraskan. Cak Nur sangat kuat dalam penjelajahan intelektual pada tradisi Islam klasik untuk merespons tantangan modernitas. Ia fasih berbicara pemikiran Islam klasik dan abad modern. Buku Khazanah Intelektual Islam yang ia sunting dan terjemahkan adalah bukti. Ia ingin menjadi sosok pious thinker—pemikir yang saleh. Dan rupanya, kesalehan tersebut menjadi semacam ikon Cak Nur, baik dalam kehidupan intelektual, spiritual, maupun ritual sehari-hari.

Sementara itu, ditubuh JIL, kesalehan tersebut tidak menjadi kebanggaan ketika mengumandangkan gagasan pembaruan. JIL benar-benar ingin sekuler. Kelihatannya, mereka begitu bangga kalau tercerabut dari piety atau tradisi. Mereka tidak begitu apresiatif terhadap tradisi Islam klasik. JIL benar-benar menjadi sekuler secara sempurna. Mereka ingin membangun formasi sosial kultural baru yang sungguh “anti agama”, jauh dari nilai spiritual. Maka, bisa dipahami bila JIL cenderung “anti masjid” dan sinis melihat aktivitas ritual ibadah praktis.

Tradisi pembaruan Cak Nur berangkat dari spirit pencerahan Amerika. Dalam spirit pencerahan Amerika, apresiasi agama sangat tinggi untuk sekularisasi. Agama tidak pernah dipandang sebagai musuh pencerahan dan sekularisme. Sebaliknya, di JIL, agama—khususnya Islam—selalu dimusuhi dan dikritik diluar dosis. Di JIL, semangat pencerahan tampaknya lebih datang dari Eropa yang memang sangat hostile terhadap agama. Meminjam istilah Alfred Stepan, spirit di Eropa ingin freedom of state from religión, sedangkan spirit Amerika ingin freedom of religión from state.

Dalam debat mutakhir, Cak Nur menjadi pemikir yang sadar menjadi scripture Islam dan tradisi sebagai bagian dari public reasoning. Dan JIL, tampaknya tidak demikian. Pada Cak Nur penalaran publik itu murni dimotivasi oleh spirit agama. Warisan pemikiran Tocqueville dan Robert N. Bellah sangat kuat pada pembentukan mind set dan paradigma Cak Nur. Jadi, kuat sekali bahwa toleransi dan pluralisme Cak Nur selalu berangkat dari sandaran agama.

Secara teknis, Cak Nur sangat santun dalam artikulasi pemikiran dan tulisan. Ia berhasil menarik simpati orang yang sebelumnya memusuhi. JIL justru sebaliknya. Orang yang semula simpatik malah berubah menjadi antipati. Cak Nur memiliki—memakai istilah Tocqueville—habit of the mind and habit of the heart; pikiran dan hatinya sangat santun. Karena itu, bisa dipahami jika Cak Nur sensitif terhadap perasaan umat; sikap yang sama sekali tidak muncul dari tubuh JIL.

Dengan demikian, gagasan Cak Nur lebih relevan dan punya masa depan. Sebaliknya, JIL selama berwajah rigid, kaku, egois, dan terperangkap ke dalam “fundamentalisme liberal”, akan sulit hidup. []

(M. Deden Ridwan adalah penulis buku Gagasan Cak Nur dan Media (2002), dan saat ini sedang menulis buku Cak Nur Bukan JIL)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s