Feeds:
Posts
Comments

Filsafat Islam Sangat Kaya dengan Khazanah

Republika Minggu, 11 Januari 2009 pukul 13:35:00

KABAR

Filsafat memiliki komitmen intelektual untuk mengatasi problem peradaban kontemporer.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-079Agama Islam memiliki ajaran yang sempurna dan lengkap. Berbagai permasalahan, baik keagamaan ataupun kemasyarakatan, bisa ditemukan dalam Al-Qur’an maupun hadis Rasulullah SAW. Sesuatu yang belum dibicarakan dalam kedua sumber hukum Islam tersebut merupakan tantangan bagi umat Islam untuk menggalinya lebih mendalam. Seperti ilmu kedokteran, matematika, teknologi, dan lainnya.

Lalu, bagaimana dengan filsafat? Banyak pihak yang menganggap, bahwa ilmu filsafat dalam Islam lahir dari upaya serius yang dilakukan oleh Abu Yusuf Ya’kub Al-Kindi. Al-Kindi banyak menyunting dan menerjemahkan buku-buku karya para filosof terkenal Yunani, seperti Aristoteles, ke dalam bahasa Arab. Dengan penguasaan ilmu bahasa yang mumpuni, membuat karya dan hasil terjemahan Al-Kindi menjadi sangat bernilai dan dikenal sebagai karya terjemahan yang paling akurat dan prestisius. Kemudian, muncul pula filosof Islam lainnya, seperti Al-Biruni, Ibnu Sina, Al-Razi, serta Al-Tusi.
Continue Reading »

‘Filsafat Islam

Perlu Dihidupkan Lagi’

Republika, Rabu, 07 Januari 2009 pukul 07:58:00

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-058JAKARTA — Umat Islam diingatkan untuk menghidupkan kembali filsafat Islam. Inteletual Muslim, Dr Haidar Bagir mengatakan, kehadiran filsafat Islam yang telah ‘mati’ sangat diperlukan kaum Muslimin di era modern ini. Filsafat Islam, tutur dia, dapat memberi manfaat bagi kehidupan umat.

”Filsafat Islam bisa mengembalikan makna hidup yang sebenarnya,” ungkap pendiri Islamic College for Advanced Studies (ICAS) itu di sela-sela acara A Set of Conferences Across Java di Jakarta, Selasa (6/1). Presiden Direktur Mizan itu menambahkan, akibat tak mengetahui dan mengenal filsafat Islam, masyarakat Indonesia seakan telah kehilangan pegangan dan makna hidup.
Continue Reading »

Filsafat Pacu Etos Keilmuan Umat

Republika, Selasa, 06 Januari 2009 pukul 07:08:00

JAKARTA — Filsafat dinilai memiliki peranan penting bagi umat Islam untuk mendorong etos keilmuwan. Rendahnya etos keilmuan di kalangan umat Islam terjadi lantaran adanya penolakan terhadap filsafat. Sebagian umat Islam menolak, karena beranggapan bahwa filsafat adalah produk kebudayaan Barat.

serial-conference-at-uin-mizan-icas-4-5-jan-2009-007Di sisi lain, sebagian umat Islam yang mendukung filsafat juga terjebak pada filsafat Barat. Guna mengubah persepsi masyarakat terhadap filsafat, Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta bekerja sama dengan Mizan serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia menggelar serangkaian konferensi tentang filsafat di berbagai kota di Pulau Jawa.

Menurut Project Officer A Set of Conference Across Java, Husain Heriyanto, konferensi yang mengusung tema ”Philosophy Emerging From Culture: Islamic Thought and Indonesian Culture” itu, berupaya untuk membuktikan bahwa filsafat bukan hanya berasal dari kebudayaan Barat saja. Kebudayaan Islam dan Indonesia pun, papar dia, turut melahirkan filsafat.
Continue Reading »

Opini dimuat di koran Solopos,
Edisi : Jum’at, 02 Januari 2009 , Hal.4
Lihat juga di http://muhammad-yasin.blogspot.com

MERAJUT PERDAMAIAN LEWAT SUFISME

Oleh: Moh Yasin

Perilaku keberagamaan sebagian masyarakat muslim modern cenderung
terjebak pada perilaku yang bersifat sesaat dan instan.

Ada yang berkecenderungan memaksakan keyakinan atau paham tertentu
untuk meletakkan bahwa doktrin dan ajaran yang diyakininya adalah
satu-satunya yang bisa dijadikan landasan untuk menyelesaikan segala
persoalan kehidupan.

Dan hasilnya, alih-alih menyuarakan ajaran-ajaran Islam, yang ada
malah pemaksaan keyakinan. Tak jarang upaya pemaksaan paham itu
dilakukan dengan emosi dan kekerasan dengan membawa semangat jihad,
sehingga memunculkan penyakit-penyakit fobia (ketakutan obsesif) di
masyarakat.

Continue Reading »

A Set of Conferences across Java

(Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang)

5 – 15 January 2009

Philosophy Emerging from Culture:

Islamic Thought and Indonesian Culture

Islamic College for Advanced Studies (ICAS) Jakarta, in cooperation with The Council for Research in Values and Philosophy (CRVP), the Catholic University of America, Washington, the International Society for Islamic Philosophy (ISIP) and Mizan Publisher, is organizing a series of conferences in 10 host institutions:

Continue Reading »

ROUNDTABLE DISCUSSION

BERSAMA

PROF. ELISABET SAHTOURIS

DAN

PROF. OSMAN BAKAR


elisabet-shahtouris-018“Apa itu Intelijensia? Apakah itu sesuatu yang berevolusi di sepanjang sejarah umat manusia? Ataukah sesuatu yang memiliki permanensi dalam waktu? Atau adakah kombinasi antara evolusi dan permanensi?”

Itulah beberapa pertanyaan yang ingin dieksplorasi lebih lanjut dalam Round Table Discussion (RTD) ACRoSS bersama Prof.Dr. Elisabet Sahtouris dan Prof.Dr. Osman Bakar pada 7 Desember 2008 di ICAS Jakarta. Tema dari RTD tersebut adalah Intelegensia dan Kreativitas: Berevolusi atau Permanen?”osman-bakar-elisabet-shahtouris-014

Dialog ini juga dihadiri oleh Dr. S.M. Tabatabaei Yazdi (Direktur ICAS Jakarta), Husain Heriyanto, M.Hum (Direktur ACRoSS-ICAS), dan Prof.Dr. Mulyadhi Kartanegara, serta sekitar 30-an hadirin dari kalangan peneliti ACRoSS, Dosen-dosen ICAS dan beberapa Peneliti dari Universitas Indonesia serta para mahasiswa ICAS.

Continue Reading »

Hari Ahad/Minggu, 7 Desember 2009 kemarin, Prof.Dr. Elisabet Shahtourist dan Prof.Dr. Osman Bakar, hadir di ICAS Jakarta dalam sebuah Dialog tentang: “Intelegensia dan Creativitas: berevolusi atau Permanen?”.

Dialog ini  juga dihadiri oleh Prof.Dr. Mulyadhi Kartanegara, Dr. S.M. Tabatabei Yazdi (Direktur ICAS Jakarta), dan Husain Heriyanto, M.Hum (Direktur ACRoSS-ICAS), serta sekitar 20-an hadirin dari kalangan peneliti ACRoSS, Dosen-dosen ICAS dan beberapa Peneliti dari Universitas Indonesia serta para mahasiswa ICAS.

Sambil menunggu berita lengkap tentang dialog ini, maka inilah foto dan informasi tentang Mrs. Prof. Dr. Elisabet Sahtorius, yang ingin mengabungkan pendekatan saintifik dan spiritualitas dalam sebuah harmony ibarat harmoni musik yang dihasilkan dari keyboard piano/organ. Tuts keyboard nada-nada rendah ibarat Sciences, keyboard Nada-nada pertengahan ibarat pendekatan intuitif puitis dan tuts keyboard nada-nada tinggi adalah kunci nada-nada spiritualitas, yang kesemuanya harus dimainkan dengan seluruh jari tangan, akal dan perasaan dengan harmonis untuk menghasilkan lagu yang indah.

Prof.Dr.  Osman Bakar dan Prof.Dr. Elisabet Sahtourist, sebelumnya (Sabtu, 6 Desember) mengisi acara International Seminar tentang “Science and Islamic Education: Toward Curriculum Reform in Islamic University” serta Launching Center For Islamic Epistemology (CIE) di Gedung Diorama Auditorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Launching CIE itu juga sekaligus menjadi Re-Launching bukunya Prof.Dr. Osman Bakar: ‘TAUHID DAN SAINS” Edisi kedua.

osman-bakar-elisabet-shahtouris-053

osman-bakar-elisabet-shahtouris-012

ista-elisabet-shahtouris-016

osman-bakar-elisabet-shahtouris-0641


Contents:

Bio………………………………………………………   P 1

Statement of interest……………………………  P 2

Article: A Tentative Model for a Living Universe…P 3

Contact:

Dr. Elisabet Sahtouris

Pasaje de Marimon 18, 3-1

Barcelona 08021, Spain

Tel: +34 93 414 0273

elisabet@sahtouris.com

www.sahtouris.com

Bio:

Dr. Elisabet Sahtouris is an internationally known evolution biologist, futurist, author, business consultant and speaker. She is a citizen of the USA and Greece, living in Spain, fellow of the World Business Academy and member of the World Wisdom Council.

She graduated from Syracuse University with a B.A., from Indiana University with an M.S. and Dalhousie University in Nova Scotia with a Ph.D., going on to a post-doctoral NIH fellowship at the American Museum of Natural History in New York. Dr. Sahtouris taught at MIT, the University of Massachusetts and the California Inst. of Integral Studies, was a UN Consultant on indigenous peoples, a science writer for the NOVA-HORIZON TV series, and currently teaches in the Bainbridge Graduate Institute’s MBA program for Sustainable Business, while lecturing on all continents to show the relevance of biological systems in evolution to the reorganization of humanity’s unsustainable institutions and organizations from economies and governments to education and healthcare. Living economies are her special interest, especially those that will enable us to live better on a hotter planet.


Dr. Sahtouris is working to develop a new model for a living universe integrating physics, biology and spirituality. She sees solutions to our social, economic and climate crises in the evolution of Earth’s ecosystems, with the oncoming Hot Age as an evolutionary driver to our species maturation as a healthy and cooperative global family. Her books include Earth Dance: Living Systems in Evolution, A Walk Through Time: from Stardust to Us and Biology Revisioned, w.Willis Harman.

Continue Reading »

tempo_sufi_kota_haidarb1-k
tempo_sufi-kota_haidar_b2-k

Sajak Doa

Abdul Hadi W. M.

DOA

Kau adalah ruh dari ruh alam semesta

Kebun-kebun kami subur dan riang

Disebabkan curahan kasihsayang-Mu

Namun karena rumah Cinta telah kami tinggalkan

Lihat, jiwa kami kini kerontang jadinya

Dan Kau pun lari meninggalkan kami

Melalui seruling kehidupan Kautiupkan lagu

“Sungguh, takkan berubah nasib suatu kaum

Jika tak mampu merubah alam pikirannya yang beku”

Hibur hati kami yang sedih, tuang

Anggur cerlang dan hangat itu sekali lagi

Ke dalam gelas dan tenggorokan kami yang hampa

Himpunlah daun yang berserak-serak ini

Jadikan kembali pohon penghias tamanmu naung

Sungguh, hidup ini akan iri pada mati

Jika mati demi Kau dan di jalan-Mu pula

Tinggallah dalam jiwa kami sekali lagi

Dengar seruan ‘Aku lebih dekat’-Mu dalam kalbu kami

Jangan sembunyikan wajah pemurah-Mu

Dari tatapan mata kami yang kosong

Jadikan kami sekali lagi pemikul ayat-ayat-Mu

Beri kami ketaatan mengabdi demi satu tujuan

Padukan iman kami seperti Ibrahim

Bisikkan pada hati kami, “Jangan takut kepada selain Tuhan!”

Jika hati kami terlalu liat dan keras

Lembutkan dan rubah jadi lantunan merdu suara Daud

Jika lembek, tempalah jiwa kami seperti Kau tempa jiwa Musa

Jika redup, nyalakan lagi suluh terang Rumi di rumah kami

Jika ciut, karuniai kami ketabahan Ayub dan Yusuf

Berpangku tangan bukan kebiasaan orang beriman

Jadikan lagi kami puncak gunung dengan api menyala

Agar berhala keraguan dapat kami hancurkan.

Karena kunci Tauhid telah lepas dari tangan umat

Lihat, kini kami tercerai berai di papan catur kehidupan

Bintang-bintang kami redup di keluasan langit kelam

Menunggu sirna dihalau sinar matahari siang

Kami ini satu rumpun, sebuah keluarga besar

Arab, Jawa, Persia, Tajik dan Melayu

Namun kami tak lagi saling mengenal

Hidupkan lagi ajaran saling mencinta antara kami

Pun umat dan kaum yang lain

Sebab jika satu kaum saja yang mencinta di bumi ini

Tentu dunia ini akan tetap porak poranda

Malam-malam kami hampa, siang-siang kami kerontang

Apa arti hidup ini jika hanya memohon dan meratapi takdir?

Mengapa pula kami harus membangun rumah untuk orang lain

Dan lupa menjelmakan keinginan kami sendiri?

Ombak bergumul ombak, karang bertarung melawan gelombang

Dari perarungan hidup dan mati ini

Akan terjelma lagu merdu kehidupan

Meminta-minta bukan kebiasaan mukmin sejati

Haram baginya tidak memasak makanannya sendiri

Karuniai lagi kami cinta Salman dan Bilal

Ubahlah hati umat yang kecut menjadi manis

Ajari lagi kami rahasia La ilah

Bisikkan kembali makna Illa`Llah ke dalam kalbu kami

Tuntun lagi kami berkhidmat menaati kewajiban

Kau Maha Mulia, sedang kami begitu hina

Limpahi lagi kemulian pada kami yang dina ini

Beri kami kekayaan hati seperti Sayidina Ali

Anugerahi lagi kami semangat mencari seperti al-Kindi dan Biruni

Beri kami lagi kejembaran pikiran Ibn Sina dan al-Ghazali

Telah lama kami ratapi takdir

Namun takdir selalu menghindar dari kami

Umat hanya gemar berdoa dan memohon

Namun pelita budi dan akal mereka telah padam

Kekayaan hikmah dan kearifan dari kalam suci-Mu

Telah terkubur oleh kebodohan dan taklid buta

Apa arti hidup, jika tidak untuk menjelmakan diri

Mengapa kami harus membangun rumah

Menurut rancangan dan keinginan orang lain?

Kau adalah jiwa dari jiwa alam semesta

Tampiklah kami jika hanya gemar memohon

Ajari kami berikhtiar menyingkap tabir rahasia takdir

Kami ini faqir, hanya kepada-Mu berlindung

Beri kami kesetiaan mengabdi demi satu tujuan

Malam-malam kami hampa, siang-siang kami kerontang

Kami kaya, namun kebodohan telah merampas kekayaan kami

Kegemaran kami bukan memohon, namun jika kami memohon

Lindungi kami dari tangan si zalim seperti Namrud dan Fir’aun

Kau Maha Besar, jangan biarkan kami

Porak poranda di tengah kebesaran-Mu

Perlihatkan wajah pemurah-Mu pada penglihatan kalbu

Dengar seruan dalam hati kami senantiasa

“Timur dan Barat adalah milik-Nya” “Dan ke mana pun

kau memandang, akan kaulihat wajah Tuhan!”

Ajari lagi kami rahasia makna Kun Fayakun

Tanamkan lagi ke dalam kalbu kami

Kalimat agung Alastu birabbikum!

Terangi ruang ini dengan lampu Wa Huwa ma`akum

Sesungguhnya Dia senantiasa bersamamu

Campakkan semua kepura-puraan ini

Jadikan lagi kami khalifah-Mu di muka bumi

Baghdad, Kordoba, Bukhara – kini hanya tinggal nama,

Pun Isfahan, Agra dan Aceh Darussalam

Gemakan lagi panggilan azan-Mu dari lubuk hati kami

Ajari kami sekali lagi makna seruan “Tak gentar!”

Hingga kami terbangun dari tidur yang nyenyak ini

Mekkah – Jakarta 2003

Opini dimuat di Koran Tempo 11/11/08
lihat juga di http://muhammad-yasin.blogspot.com

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar kepahlawanan
kepada Bung Tomo dan Mohammad Natsir atas jasa dan perjuangannya
membangun Indonesia. Bung Tomo berjuang bersama arek-arek Surabaya
melawan penjajahan Belanda, sementara Natsir diberi gelar pahlawan
nasional tidak hanya karena ikut aktif memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia, tapi juga karena gagasan mosi integralnya yang membawa pada
terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah mencatat bahwa pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, saat
kemerdekaan Indonesia baru seumur jagung, bersama ancaman politik dan
militer pihak asing, Natsir menjadi orang yang berjasa besar dalam
menjaga eksistensi negara Indonesia. Di tengah gempuran militer dan
upaya diplomasi Belanda membangun negara boneka yang diprakarsai oleh
Van Mook, Natsir muncul dan hadir mengarsiteki mosi integral dan
menggagalkan negara bentukan Van Mook. Melalui mosi integral, Natsir
berhasil mempersatukan kembali Republik Indonesia Serikat (RIS)
menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menobatkan
Soekarno-Hatta sebagai pemimpin.

Continue Reading »

Older Posts »